JATIMTIMES – WWS Arena membuka babak baru olahraga tenis di Blitar. Arena yang sebelumnya dikenal sebagai Lapangan Tenis Agung itu resmi diperkenalkan kembali melalui WWS Arena Re-Opening Tournament, Jumat (2/10/2026).
Sekitar 200 petenis ambil bagian dalam turnamen yang berlangsung hingga 4 Oktober 2026 tersebut.
Selama tiga hari, mereka bertanding dalam lima kategori: newbie woman, beginner woman, beginner men, upper beginner men, dan intermediate mix. Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp50 juta.
Re-opening sekaligus menjadi penanda rebranding Lapangan Tenis Agung menjadi WWS Arena. Kompleks olahraga di Jalan Ir Soekarno, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, itu telah direnovasi dan kembali diperkuat sebagai arena tenis.
Pengelola WWS Arena sekaligus CFO Agung Group Elsa Suyono, mengatakan perubahan tersebut dilakukan untuk mengembalikan fungsi lapangan sekaligus mengenalkan identitas baru kepada masyarakat.
“Dulunya ini Lapangan Tenis Agung. Lapangan indoor sempat menjadi lapangan futsal, kemudian kami ubah lagi menjadi lapangan tenis indoor. Karena itu kami mengadakan re-opening tournament sekaligus rebranding untuk mengenalkan brand baru kami, WWS Arena,” kata Elsa.
Nama WWS memiliki ikatan dengan perjalanan keluarga yang membangun arena tersebut. Menurut Elsa, WWS merupakan singkatan dari nama kedua orang tuanya, Wiwik Suyono.
“WWS itu sebenarnya singkatan dari nama ayah dan ibu saya, Wiwik Suyono Arena,” kata Elsa.

Melanjutkan Tradisi Agung Cup
Rebranding tak menghapus jejak panjang arena ini dalam perkembangan tenis Blitar. Komisaris Agung Group Wiwik Suyono mengatakan, Lapangan Tenis Agung pada masa lalu rutin menjadi tempat berbagai kompetisi. Salah satunya Agung Cup yang digelar setiap tahun, bahkan arena ini pernah menjadi tempat penyelenggaraan kejuaraan nasional.
Aktivitas turnamen kemudian terhenti setelah Wiwik mengurangi kegiatannya di dunia tenis. Kini estafet tersebut diteruskan generasi berikutnya melalui WWS Arena.
“Dulu setiap tahun kami sering mengadakan event, Agung Cup sampai Kejurnas. Setelah saya istirahat, saya minta anak saya untuk melanjutkan. Sekarang namanya diganti menjadi WWS Arena,” ujar Wiwik.
Menurut Wiwik, sejumlah petenis dari luar daerah yang pernah bertanding di Blitar masih kerap menanyakan kapan kompetisi kembali digelar. Hal itu menjadi salah satu dorongan untuk menghidupkan kembali tradisi turnamen.
“Saya bilang kepada Elsa, lanjut saja seperti dulu waktu Mama mengadakan. Supaya Blitar punya kelanjutan untuk mengadakan event seperti ini. Saya berharap WWS Arena maju terus dan dikenal seluruh Indonesia,” katanya.

Lima Court Jawab Tingginya Animo Tenis
WWS Arena kini memiliki lima court, terdiri atas tiga lapangan outdoor dan dua indoor. Fasilitas tersebut ditunjang Cafe De Classe, musala, toilet, serta area parkir yang luas.
Elsa mengatakan tingkat penggunaan lapangan menunjukkan tenis memiliki pasar dan komunitas yang terus berkembang di Blitar.
“Animonya sangat tinggi. Lapangan ini alhamdulillah selalu full. Saya sendiri pernah mau main tenis tetapi tidak kebagian. Baik outdoor maupun indoor ramai,” ujarnya.
Secara reguler, WWS Arena beroperasi pukul 06.00 hingga 22.00 WIB. Namun, tingginya permintaan membuat pemesanan terkadang dimulai sejak pukul 05.00 dan berlangsung hingga pukul 23.00 bahkan 24.00 WIB, terutama menjelang turnamen ketika pemain meningkatkan intensitas latihan.
Tarif lapangan outdoor mulai Rp40 ribu per jam pada siang hari dan Rp65 ribu pada malam hari. Sementara indoor court dipatok Rp135 ribu per jam.
Kehadiran turnamen juga mendapat sambutan positif dari peserta. April, salah seorang peserta, menilai kompetisi semacam ini memberi ruang bagi penghobi untuk merasakan atmosfer pertandingan.
“Senang banget. Kami cuma penghobi tenis, tapi dengan adanya turnamen ini kami bisa ikut dan rasanya seperti atlet beneran,” kata April.
Menurut dia, momentum tersebut penting karena turnamen tenis di Blitar masih relatif jarang di tengah popularitas olahraga ini yang terus meningkat. “Tenis sekarang sedang naik daun dan booming. Jadi senang sekali ada turnamen seperti ini di Blitar,” ujarnya.

Turnamen Bertemu Geliat Ekonomi
Re-opening WWS Arena tak hanya mempertemukan ratusan petenis. Turnamen juga menghadirkan penonton, komunitas dan pelaku usaha dalam satu ekosistem kegiatan olahraga.
Rendy Permana dari Permana Land, salah satu sponsor turnamen, menilai antusiasme yang muncul melampaui ekspektasi.
“Acaranya luar biasa, lebih dari ekspektasi yang kami perkirakan. Dari penonton, para pemain, sampai kesigapan panitia, semuanya keren,” kata Rendy.
Ia melihat kegiatan olahraga berpeluang tumbuh beriringan dengan dunia usaha. Semakin banyak kompetisi digelar, semakin terbuka pula perputaran aktivitas ekonomi di sekitarnya.
“Harapan saya pertenisan Blitar semakin ramai, kemudian segala lini usaha bisa mencakup menjadi satu di sini. Jadi bisa meningkatkan perekonomian Kota Blitar pada khususnya,” ujarnya.

Melalui re-opening ini, WWS Arena memulai kembali perjalanan yang pernah dibangun Lapangan Tenis Agung. Lima lapangan yang kini aktif bukan sekadar tempat bermain, tetapi ruang bagi penghobi, komunitas dan petenis lintas daerah untuk bertemu dan berkompetisi.
Dari tradisi Agung Cup hingga WWS Arena, semangatnya tetap sama: menjaga denyut tenis di Blitar sekaligus membuka jalan agar semakin banyak turnamen lahir dari daerah ini.



