JATIMTIMES - SMAN 2 Kota Malang terus mengembangkan program penguatan literasi siswa melalui Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Program tersebut bahkan diproyeksikan menjadi salah satu program unggulan sekolah sekaligus pintu bagi siswa untuk mengasah kemampuan berbahasa Indonesia secara terukur.
Kepala SMAN 2 Kota Malang Eny Retno Diwati MPd mengatakan, UKBI menjadi program yang dipilihnya sejak mendapat amanah memimpin sekolah tersebut. Menurutnya, UKBI memiliki fungsi yang lebih luas dibanding sekadar tes kemampuan berbahasa.
"Begitu saya datang diberikan amanah (sebagai pimpinan di SMAN 2) itu, saya harus punya program unggulan apa yang nanti bisa mewarnai sekolah ini. Nah, saya mengangkat produk unggulan itu namanya Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Ini seperti tes TOEFL kalau bahasa Inggris, tapi ini adalah tes yang berbahasa Indonesia," kata Eny Retno.
Eny menjelaskan, hasil UKBI kini juga memiliki manfaat bagi siswa karena sertifikatnya dapat digunakan dalam sejumlah kebutuhan, termasuk untuk pengajuan beasiswa maupun persyaratan tertentu dalam dunia kerja dan seleksi aparatur sipil negara.
Karena itu, SMAN 2 Kota Malang menerapkan kebijakan agar seluruh siswa di setiap jenjang mengikuti UKBI. Program tersebut dapat diikuti secara gratis oleh siswa SMA melalui pelaksanaan yang dikolektifkan oleh sekolah.
Jika siswa menempuh pendidikan selama tiga tahun, mereka diarahkan mengikuti UKBI setiap tahun. Dengan demikian, siswa berpeluang memiliki tiga sertifikat UKBI ketika menyelesaikan pendidikan di jenjang SMA.
Eny menyebut pelaksanaan UKBI juga berkaitan dengan peningkatan capaian literasi dalam rapor pendidikan sekolah. Ia menilai program tersebut memberikan dampak yang cukup terlihat terhadap perkembangan capaian pendidikan SMAN 2 Kota Malang.
"Dan sekarang ini hasilnya tes UKBI ini, ternyata oleh pemerintah diberikan perhatian bisa untuk mengajukan beasiswa, bisa untuk melamar pekerjaan, misalnya jadi ASN, nah seperti itu," kata Eny.
Menurutnya, capaian rapor pendidikan SMAN 2 Kota Malang mengalami peningkatan dari 2024 ke 2025. Bahkan, nilai rapor pendidikan sekolah tersebut kini telah mencapai angka 100.
"Sayangnya belum semua sekolah ini merespons, padahal ini sangat bagus dampaknya ke peningkatan rapor pendidikan, khususnya di literasi-numerasi. Terbukti ya, setelah kami menggunakan program ini, mengajak anak-anak untuk program UKBI ini, nilai rapor pendidikan kami dari tahun dari tahun 2024 ke 2025 itu naiknya cukup bagus dan sekarang sudah mencapai nilainya 100. Itu salah satunya adalah dari pelaksanaan UKBI," ungkap Eny.
Tak berhenti pada pelaksanaan tes, SMAN 2 Kota Malang juga membawa program tersebut ke ajang kompetisi yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen melalui UKBI Adaptif.
Sekolah yang konsisten menerapkan UKBI dapat mengikuti kompetisi tersebut dengan berbagai persyaratan. Pada pelaksanaan tahun sebelumnya, SMAN 2 Kota Malang berhasil masuk 15 besar nasional dan menempati peringkat ketujuh.
"Yang diambilkan di seluruh Indonesia itu ada 15 terbaik sekolah yang menerapkan UKBI dengan berbagai persyaratan yang sudah ditentukan oleh panitia. Kemarin kita sudah ada di urutan ke-7 nasional, tapi nomor 1 sampai nomor 15 itu hadiahnya sama, Rp25 juta," ungkap Eny.
Bagi Eny, capaian tersebut bukan sekadar soal peringkat. Ia justru ingin melihat sejauh mana UKBI menghasilkan dampak nyata terhadap kemampuan siswa dan melahirkan inovasi di lingkungan sekolah.
Salah satunya terlihat dari keberanian siswa menghasilkan karya tulis ilmiah yang dapat diseminarkan. Dari proses tersebut, siswa juga diarahkan untuk memahami penyusunan buku prosiding.
"Target saya harus ada inovasi pada saat kita melaksanakan UKBI ini, harus ada inovasi-inovasi apa dengan adanya UKBI itu apa sih dampaknya. Seperti saya tadi kan dampaknya rapor pendidikannya naik, anak-anak termasuk ini, berani sudah bisa membuat karya tulis ilmiah yang bisa diseminarkan. Akhirnya nanti ngajari anak-anak untuk bisa menyusun buku prosiding tadi," ungkap Eny.
Untuk 2026, SMAN 2 Kota Malang memasang target lebih tinggi. Setelah berada di posisi ketujuh nasional, sekolah tersebut membidik posisi tiga besar dalam kompetisi UKBI Adaptif.
"Nah itu harus ada inovasi-inovasi, sehingga harapan saya tahun 2026 ini UKBI-nya bukan lagi juara 7, tapi saya targetnya di 3 besar. Nanti syukur-syukur juara 1. Itu kan levelnya nasional," tegas Eny.
Di sisi lain, Eny mengakui penerapan UKBI belum mendapat respons yang sama dari seluruh sekolah. Padahal, menurutnya, program tersebut tidak harus berujung pada keikutsertaan dalam kompetisi.
"Makanya sebenarnya program ini bagus, tapi sayangnya belum semua sekolah itu tertarik untuk mengikuti," kata Eny.
Ia mengatakan telah ada imbauan agar sekolah-sekolah lebih peduli terhadap pelaksanaan UKBI. Menurutnya, kesempatan mengikuti kompetisi dapat menjadi nilai tambah setelah sekolah menjalankan program tersebut secara konsisten.
"Iya, ada imbauan. Jadi karena pentingnya UKBI, mohon sekolah-sekolah itu peduli untuk mengikuti program tersebut. Sebenarnya mengikuti UKBI tidak harus mengikuti lomba, tapi bagi saya, sudah ikut terus ada kesempatan ada peluang untuk lomba, ngapain kita enggak mengikuti? Kalau nanti kalau ikut lomba itu kan akhirnya kita mendapat reward dari Kemendikdasmen, selain sertifikat juga mungkin nanti ada uang pembinaan, daripada sekadar hanya untuk mengikuti," beber Eny.
Dengan pola tersebut, UKBI di SMAN 2 Kota Malang tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan pengukuran kemampuan bahasa. Program itu diarahkan menjadi bagian dari strategi penguatan literasi sekaligus mendorong siswa menghasilkan karya yang dapat menunjukkan kemampuan berbahasa Indonesia secara konkret.



