JATIMTIMES - Cuaca panas masih terasa menyengat di sejumlah wilayah Indonesia selama musim kemarau. Teriknya matahari membuat aktivitas di luar ruangan terasa lebih menyengat, sekaligus meningkatkan perhatian terhadap paparan sinar ultraviolet (UV) yang dapat berdampak pada kulit.
Dalam kondisi seperti ini, penggunaan sunscreen menjadi salah satu langkah perlindungan yang penting. Namun, masih banyak yang bertanya-tanya, sebenarnya sampai jam berapa sunscreen perlu digunakan agar kulit tetap terlindungi dari paparan sinar matahari?
Sebagian orang mungkin mengira sunscreen hanya dibutuhkan ketika matahari sedang terik pada siang hari. Padahal, kebutuhan perlindungan kulit tidak hanya ditentukan oleh rasa panas, tetapi juga oleh paparan sinar UV, waktu, lokasi, dan aktivitas seseorang di luar ruangan.
Sampai jam berapa harus pakai sunscreen?
Tidak ada batas waktu tunggal seperti pukul 12.00 atau 15.00 yang bisa dijadikan patokan untuk semua kondisi. Jika masih berada di luar ruangan dan kulit terpapar sinar matahari, sunscreen tetap diperlukan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sinar UV matahari paling kuat pada periode dua jam sebelum hingga dua jam setelah tengah hari matahari atau solar noon.
Dengan kata lain, periode di sekitar tengah hari perlu mendapat perhatian lebih karena tingkat paparan UV umumnya lebih tinggi. Namun, waktu solar noon tidak selalu sama dengan pukul 12.00 karena dapat berbeda berdasarkan lokasi dan posisi matahari.
WHO juga menjelaskan bahwa perlindungan terhadap paparan UV dianjurkan ketika indeks UV mencapai angka 3 atau lebih. Karena itu, kebutuhan menggunakan sunscreen sebaiknya tidak hanya ditentukan berdasarkan jam, tetapi juga dengan melihat indeks UV di wilayah masing-masing.
Paparan UV tidak selalu bisa dirasakan dari panas yang mengenai kulit. Seseorang dapat merasa tidak terlalu kepanasan, tetapi tetap terpapar radiasi UV.
Karena itu, rasa terik bukan satu-satunya patokan untuk menentukan kapan kulit membutuhkan perlindungan. Indeks UV dapat memberikan gambaran mengenai tingkat paparan radiasi ultraviolet pada suatu waktu dan lokasi.
Di Indonesia yang berada di wilayah tropis, paparan UV juga menjadi hal yang perlu diperhatikan sepanjang tahun. Tingkatnya dapat berubah berdasarkan waktu, lokasi, kondisi atmosfer dan faktor lainnya.
Sore hari masih perlu sunscreen?
Ketika sore tiba, intensitas UV umumnya mulai menurun dibandingkan sekitar tengah hari. Namun, bukan berarti sunscreen otomatis tidak diperlukan.
Jika masih beraktivitas di luar ruangan ketika indeks UV berada pada angka yang membutuhkan perlindungan, sunscreen tetap dapat digunakan.
WHO menjelaskan bahwa paparan UV pada pagi lebih awal dan sore lebih akhir umumnya lebih rendah dibandingkan sekitar tengah hari. Meski demikian, tingkat UV tetap dapat berbeda-beda berdasarkan lokasi dan kondisi lingkungan.
Jadi, jika masih harus berada di luar rumah pada sore hari, jangan hanya melihat apakah matahari terasa panas atau tidak. Perhatikan pula indeks UV dan lamanya aktivitas di luar ruangan.
Sunscreen harus dipakai ulang setiap berapa jam?
Penggunaan sunscreen bukan hanya sekali pada pagi hari. American Academy of Dermatology (AAD) merekomendasikan sunscreen diaplikasikan sekitar 15 menit sebelum keluar rumah.
Jika berada di luar ruangan, sunscreen perlu diaplikasikan ulang setiap dua jam. Penggunaan ulang juga dianjurkan setelah berenang atau banyak berkeringat.
Misalnya, sunscreen digunakan sebelum beraktivitas di luar rumah pada pukul 08.00. Jika aktivitas masih berlangsung, pemakaian ulang dapat dilakukan sekitar pukul 10.00. Setelah itu, sunscreen dapat kembali diaplikasikan sekitar dua jam kemudian selama masih berada di luar ruangan.
Rekomendasi tersebut terutama berlaku ketika seseorang masih terpapar matahari. Jika aktivitas sudah berpindah ke dalam ruangan dan tidak terpapar sinar matahari secara langsung, kebutuhan pemakaian ulang dapat berbeda.
Pilih sunscreen dengan SPF minimal 30
AAD merekomendasikan sunscreen dengan perlindungan broad spectrum, tahan air, dan memiliki SPF 30 atau lebih.
Broad spectrum berarti sunscreen memberikan perlindungan terhadap sinar UVA dan UVB. Kedua jenis radiasi ultraviolet tersebut dapat berdampak pada kulit.
Namun, angka SPF yang lebih tinggi bukan berarti seseorang dapat berada di bawah matahari tanpa batas. Sunscreen tetap perlu digunakan dengan cara yang tepat dan diaplikasikan kembali sesuai kondisi aktivitas.
Sunscreen memang membantu mengurangi paparan UV pada kulit, tetapi bukan satu-satunya bentuk perlindungan.
WHO menyarankan masyarakat mencari tempat teduh ketika radiasi UV sedang tinggi. Perlindungan juga dapat dilengkapi dengan mengenakan pakaian yang menutupi kulit, topi bertepi lebar dan kacamata yang memberikan perlindungan terhadap UV.
Dengan kombinasi tersebut, perlindungan terhadap paparan sinar matahari tidak hanya bergantung pada sunscreen.
Kesimpulannya, tidak ada jam pasti untuk berhenti menggunakan sunscreen. Patokan yang lebih tepat adalah melihat apakah kulit masih terpapar sinar matahari serta bagaimana tingkat indeks UV pada saat itu.
Paparan UV umumnya lebih kuat di sekitar tengah hari, sehingga periode tersebut perlu mendapat perhatian lebih. Jika masih berada di luar ruangan, sunscreen sebaiknya diaplikasikan ulang sekitar setiap dua jam, terutama setelah berkeringat atau berenang.
Jadi, jangan hanya menjadikan rasa panas sebagai patokan. Cuaca yang tidak terasa terlalu terik bukan berarti paparan UV otomatis rendah. Mengecek indeks UV dan melengkapinya dengan perlindungan seperti pakaian tertutup, topi dan tempat teduh dapat membantu mengurangi paparan sinar ultraviolet.



