JATIMTIMES - Kematian benih lele hingga 70–90 persen dalam satu siklus menjadi persoalan yang selama ini dihadapi pembenih lele di Pare, Kabupaten Kediri. Kondisi tersebut mendorong dosen akuakultur Universitas Brawijaya PSDKU Kediri, Renanda Baghaz Dzulhamdhani Surya Putra, mengembangkan inovasi berbasis ragi untuk memperkuat daya tahan benih sekaligus mengurangi penggunaan antibiotik.

Inovasi tersebut menggunakan imunostimulan alami berbasis hidrolisat khamir Saccharomyces cerevisiae. Ragi yang selama ini dikenal sebagai bahan pembuatan roti tersebut dikembangkan untuk membantu meningkatkan pertahanan alami ikan terhadap serangan bakteri.

Renanda menjelaskan, persoalan utama yang dihadapi pembenih salah satunya adalah infeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Bakteri tersebut menyerang benih ketika berada pada fase rentan sehingga menyebabkan tingkat kematian yang tinggi.

Selama ini, antibiotik kerap menjadi pilihan untuk menangani persoalan tersebut. Namun, menurut Renanda, penggunaan antibiotik yang tidak terukur tidak serta-merta mampu menyelamatkan seluruh benih.

"Dari pendampingan kami, penggunaan antibiotik yang tidak terukur juga tidak serta-merta menyelamatkan benih. Banyak yang tetap mati, sementara ongkos terus bertambah," ujarnya.

Karena itu, riset yang dikembangkan sejak 2025 tersebut menggunakan pendekatan berbeda. Bukan semata-mata membunuh patogen, melainkan memperkuat kondisi ikan agar mampu menghadapi serangan penyakit.

Hidrolisat khamir yang digunakan bekerja sebagai imunostimulan. Senyawa tersebut memicu produksi mucin atau lendir pelindung pada saluran pencernaan ikan. Bakteri patogen yang masuk kemudian dapat terperangkap dalam lendir tersebut dan terbuang bersama kotoran.

"Cara kerjanya tidak menyerang bakteri secara langsung. Senyawa ini memicu produksi mucin, lendir pelindung di saluran pencernaan ikan. Bakteri patogen yang masuk terperangkap dalam lendir tersebut lalu terbuang bersama kotoran," jelasnya.

Renanda menyebut penggunaan hidrolisat khamir juga memberikan dampak terhadap pertumbuhan benih. Jaringan pencernaan yang lebih sehat membuat penyerapan nutrisi menjadi lebih efisien, sehingga benih disebut dapat tumbuh satu hingga dua minggu lebih cepat.

Riset tersebut diterapkan melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang didanai BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tim terdiri dari tiga dosen Universitas Brawijaya PSDKU Kediri dan Universitas Nusantara PGRI Kediri, dengan dukungan tujuh mahasiswa di lapangan.

Mitra dalam program tersebut adalah Kelompok Pembenih Lele LAREANGON di Desa Sidorejo serta UPT Pengembangan Budidaya Air Tawar (PBAT) Pare, Dinas Perikanan Kabupaten Kediri.

Teknologi hasil riset kemudian diterjemahkan dalam bentuk penggunaan yang lebih sederhana bagi pembenih. Dosis yang diterapkan adalah tiga hingga enam tetes selama tujuh hari berturut-turut.

Hasil pendampingan menunjukkan adanya perubahan pada tingkat kelangsungan hidup benih. Setelah pemberian selama tujuh hari, tingkat kematian benih pada mitra disebut turun dari kisaran 70–90 persen menjadi paling tinggi 5–10 persen dalam satu siklus.

Jumlah benih layak jual juga meningkat. Dari sebelumnya sekitar 500–600 ribu ekor menjadi 1–1,4 juta ekor per siklus. Peningkatan tersebut berasal dari benih yang sebelumnya mati dan kemudian mampu bertahan, tanpa penambahan kolam maupun perluasan lahan.

Penggunaan antibiotik sintetis di unit pembenihan mitra juga disebut berkurang 80–100 persen. Sementara pendapatan kelompok meningkat dari sekitar Rp7,25 juta menjadi lebih dari Rp39,75 juta per siklus.

Bahkan, teknologi tersebut disebut masih dapat digunakan pada kolam yang telah terlanjur mengalami infeksi untuk membantu menyelamatkan sebagian ikan yang sakit.

Meski demikian, Renanda menegaskan hasil tersebut masih berasal dari skala yang terbatas. Pengujian dilakukan pada dua mitra di satu kabupaten sehingga diperlukan pengujian lebih lanjut di wilayah dan kondisi budidaya yang lebih beragam.

"Angka-angka ini lahir dari skala yang masih terbatas, dua mitra di satu kabupaten. Karena itu, pengujian di wilayah dan kondisi budidaya yang lebih beragam menjadi langkah berikutnya yang tidak bisa ditawar," katanya.

Selain intervensi teknologi, pendampingan juga dilakukan pada aspek manajemen usaha. Sebelum pendampingan, mitra disebut belum memiliki pencatatan produksi yang tertib sehingga kesulitan menghitung harga pokok, kebutuhan modal, maupun mengevaluasi kinerja setiap siklus.

Pendampingan kemudian mencakup perencanaan produksi tahunan, pencatatan biaya, pemantauan kesehatan ikan, hingga pengambilan keputusan berbasis data.

Hasilnya, fluktuasi pendapatan kelompok disebut dapat ditekan hingga paling banyak 20 persen dari rata-rata. Menurut Renanda, pencatatan menjadi bagian penting agar inovasi yang berhasil tidak berhenti sebagai keberuntungan yang sulit diulang.

Pengembangan teknologi tersebut juga mulai digunakan oleh kelompok pembudidaya lain di Pare. Salah seorang pembudidaya yang sebelumnya mengalami 12 kali gagal panen dalam setahun dilaporkan mampu mempertahankan benihnya setelah menggunakan teknologi tersebut.

Para pembudidaya juga menyebut teknologi ini membantu menghadapi bediding atau musim dingin ekstrem yang selama ini dapat memangkas populasi ikan hingga 70 persen.

Bagi Renanda, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar tidak berhenti di lingkungan akademik.

"Hasil riset perguruan tinggi baru bernilai ketika ia turun ke kolam, bukan ketika ia terbit di jurnal. Terlalu banyak temuan baik yang berhenti sebagai dokumen," tegasnya.

Ia menilai hilirisasi riset perlu mendapat dukungan berkelanjutan, terutama untuk membantu pembudidaya mengadopsi teknologi alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik.

Menurutnya, penguatan pendampingan bagi kelompok pembudidaya, insentif bagi pembudidaya yang beralih dari antibiotik, serta pengakuan pasar terhadap benih bebas residu dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.

"Menekan resistensi antimikroba tidak selalu dimulai dari regulasi besar. Kadang ia dimulai dari beberapa tetes cairan di sebuah kolam terpal di Pare, dan dari pembudidaya yang akhirnya berani berhenti membeli antibiotik," pungkasnya.