JATIMTIMES - Kebiasaan minum kopi setiap hari ternyata tidak hanya berkaitan dengan peningkatan konsentrasi dan energi, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan hati atau liver. Sejumlah penelitian berskala besar menemukan bahwa konsumsi kopi berkaitan dengan penurunan risiko sirosis, kanker hati, hingga kematian akibat penyakit liver.

Temuan terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology pada 1 Juli 2026 memperkuat bukti tersebut. Penelitian yang melibatkan ratusan ribu peserta ini menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi kopi dan risiko penyakit hati yang lebih rendah selama periode pengamatan jangka panjang.

Ilmuwan pangan Felix Zulhendri menjelaskan, manfaat kopi terhadap kesehatan liver menjadi salah satu temuan menarik dalam perkembangan penelitian pangan dan kesehatan.

Menurut Felix, penelitian tersebut membandingkan kondisi kesehatan hati pada orang yang tidak mengonsumsi kopi dengan mereka yang rutin meminumnya selama bertahun-tahun. “Menariknya, studi terbaru yang melibatkan ratusan ribu orang ini mengikuti peserta selama sekitar 13 tahun. Hasilnya, orang-orang yang rutin mengonsumsi kopi memiliki risiko lebih rendah mengalami penyakit liver, seperti sirosis, kanker hati, hingga kematian akibat penyakit hati,” jelas Felix.

Penelitian tersebut berjudul Coffee Consumption and Improved Liver Outcomes: Clinical, Imaging, and Proteomic Evidence From the UK Biobank. Studi ini menganalisis 354.957 peserta UK Biobank yang tidak mengalami sirosis maupun kanker hati pada awal penelitian.

Hasilnya, peserta yang mengonsumsi lima cangkir kopi atau lebih per hari memiliki risiko sirosis 32 persen lebih rendah, kanker hati 47 persen lebih rendah, serta kematian akibat penyakit liver 42 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak minum kopi.

Angka tersebut merupakan perbedaan risiko relatif berdasarkan analisis statistik, bukan jaminan bahwa seseorang yang minum kopi akan terhindar dari penyakit liver.

Felix menilai, temuan tersebut menarik karena menunjukkan adanya hubungan yang konsisten antara konsumsi kopi dan sejumlah indikator kesehatan hati. “Artinya, kopi bukan sekadar minuman untuk membantu kita tetap terjaga. Ada komponen dalam kopi yang sedang terus diteliti karena potensinya berkaitan dengan kesehatan liver,” imbuhnya.

Penelitian tersebut juga menganalisis hasil pemeriksaan pencitraan hati pada 28.961 peserta serta profil protein darah pada 44.633 peserta. Analisis ini dilakukan untuk memahami kemungkinan mekanisme biologis yang mendasari hubungan antara konsumsi kopi dan kesehatan hati. Kopi tanpa gula berlebihan tetap perlu diperhatikan.

Meski demikian, manfaat yang ditemukan dalam penelitian bukan berarti semua minuman dengan rasa kopi memiliki efek yang sama. Kandungan kopi, jumlah gula, serta bahan tambahan dalam minuman tetap perlu diperhatikan.

Felix mengimbau, kopi yang dimaksud dalam studi ini adalah kopi sebagai minuman, bukan sekadar minuman manis dengan perisa kopi. “Jadi, jangan sampai kita menganggap minuman tinggi gula dengan sedikit perisa kopi otomatis memberikan manfaat yang sama. Kopi dan kandungan tambahan di dalamnya tetap perlu diperhatikan,” tegasnya.

Studi UK Biobank tersebut memang menemukan hubungan dengan risiko penyakit hati yang lebih rendah pada peminum kopi berkafein maupun tanpa kafein. Namun, perkiraan manfaat pada kelompok yang menambahkan gula atau pemanis cenderung lebih kecil pada sejumlah hasil analisis.

Karena itu, temuan ini tidak bisa diartikan bahwa semakin banyak kopi yang diminum, semakin baik pula kesehatan hati seseorang.

Penelitian tersebut bersifat observasional, sehingga menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan membuktikan bahwa kopi secara langsung mencegah sirosis dan kanker hati. Konsumsi kopi juga tidak menggantikan pemeriksaan kesehatan, pola makan seimbang, maupun upaya menghindari faktor risiko penyakit hati.

Felix menegaskan, penelitian mengenai kopi dan kesehatan liver masih terus berkembang. Meski hasilnya memberikan gambaran yang menjanjikan, konsumsi kopi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan toleransi masing-masing orang.