JATIMTIMES - Suasana Masjid Nabawi berubah menjadi penuh haru ketika Rasulullah SAW meminta para sahabat mengungkapkan jika ada kesalahan beliau yang belum terselesaikan. Permintaan itu disampaikan menjelang wafatnya Rasulullah SAW, setelah Surah An-Nashr turun dan ditafsirkan oleh Ibnu Abbas sebagai salah satu pertanda semakin dekatnya akhir kehidupan Rasulullah.

Di hadapan para sahabat, Rasulullah SAW tidak hanya menyampaikan pesan tentang risalah dan kehidupan umat. Beliau juga meminta agar siapa pun yang merasa pernah diperlakukan tidak adil segera menyampaikan hal tersebut.

"Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu," demikian pesan Rasulullah SAW sebagaimana dikisahkan dalam tulisan KH Taufik Damas.

Tidak ada sahabat yang langsung berdiri. Rasulullah SAW mengulangi permintaan tersebut hingga tiga kali. Pada pengulangan terakhir, beliau bahkan menegaskan keinginannya agar persoalan itu diselesaikan sebelum datangnya pertanggungjawaban di akhirat. Barulah seorang sahabat bernama Ukasyah bin Mihshan berdiri dan mendekati Rasulullah SAW.

Ukasyah kemudian mengingat sebuah peristiwa ketika dirinya bersama Rasulullah SAW dalam sebuah peperangan. Seusai perang, perjalanan pulang dilakukan dengan menunggang unta. Dalam perjalanan itu, posisi unta Ukasyah dan Rasulullah SAW berjalan berdekatan.

Ukasyah turun dari untanya dan mendekati Rasulullah SAW. Namun, pada saat itulah pecut yang dipegang Rasulullah SAW mengenai bagian perutnya.

Ukasyah mengaku tidak mengetahui apakah pukulan tersebut memang ditujukan kepadanya atau sebenarnya Rasulullah SAW hendak memecut untanya.

Rasulullah SAW kemudian meminta Bilal mengambil pecut yang berada di rumah Fatimah. Beliau memilih memberikan kesempatan kepada Ukasyah untuk melakukan qisas sebagaimana yang dimintanya.
Permintaan tersebut membuat para sahabat tidak tinggal diam.

Abu Bakar dan Umar menawarkan diri sebagai pengganti Rasulullah SAW. Keduanya meminta Ukasyah melakukan pembalasan kepada mereka. Ali bin Abi Thalib juga berdiri dan menawarkan tubuhnya untuk menerima qisas.

Bahkan Hasan dan Husein, cucu Rasulullah SAW, turut memohon agar mereka yang menerima pembalasan tersebut. Namun Rasulullah SAW meminta semuanya duduk. Beliau tetap memberikan hak itu kepada Ukasyah.

Setelah pecut dibawa ke hadapan Rasulullah SAW, Ukasyah kembali menyampaikan satu permintaan. Saat kejadian dahulu, bagian tubuh yang terkena pecut adalah perutnya dalam keadaan terbuka. Rasulullah SAW kemudian menyingkap pakaiannya dan mempersilakan Ukasyah melakukan qisas.

Di titik itulah suasana berubah. Ukasyah yang melihat tubuh Rasulullah SAW justru tidak melakukan pembalasan. Ia mendekat dan memeluk Rasulullah SAW.

Ia kemudian menyatakan telah memaafkan Rasulullah SAW karena mengharapkan ampunan dari Allah pada hari kiamat. Rasulullah SAW kemudian menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat tentang Ukasyah.

"Siapa yang ingin melihat temanku di surga nanti, lihatlah kakek ini," sabda Rasulullah SAW sebagaimana dikisahkan dalam sumber tersebut.

Kisah tersebut berlangsung pada masa-masa terakhir kehidupan Rasulullah SAW. Dalam riwayat yang dari beberapa sumber, setelah peristiwa dengan Ukasyah, Rasulullah SAW kemudian mengalami sakit selama 18 hari sebelum akhirnya wafat pada hari Senin.

Peristiwa Ukasyah memperlihatkan bagaimana Rasulullah SAW memberikan ruang kepada seorang sahabat untuk menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan dirinya, bahkan ketika kesempatan tersebut berpotensi menghadirkan qisas terhadap beliau.