JATIMTIMES - Pemkot Malang mulai mengubah pola evaluasi program Angkot Pelajar Gratis. Dishub Kota Malang kini tidak hanya memantau perjalanan dan jarak tempuh angkot, tetapi juga memastikan kendaraan benar-benar mengangkut pelajar.
Pola evaluasi tersebut dilakukan setelah layanan berjalan sejak 31 Agustus lalu. Dari evaluasi sementara, rata-rata keterisian angkot tercatat mencapai sekitar 80 persen.
Kepala Dishub Kota Malang Widjaja Saleh Putra mengatakan, tingkat keterisian tersebut menunjukkan layanan mulai dimanfaatkan pelajar. Namun, capaian okupansi tetap perlu diimbangi pengawasan terhadap kondisi layanan di lapangan.
"Makanya setiap hari kita ada laporan. Kami minta laporannya juga, jangan hanya jumlahnya dua-tiga pelajar, berangkat. Karena utamanya kami meminta untuk mengangkut penumpang, pelajar," ujar Jaya.
Karena itu, setiap perjalanan angkot dilengkapi laporan melalui sistem yang disertai dokumentasi foto. Data tersebut menjadi bahan Dishub untuk mengetahui kondisi layanan secara lebih rinci.
"Jadi, pengawasan tetap ketat. Mereka melaporkan pada sistem, ada foto laporan juga di dalam situ. Jadi, kita bisa melihat laporan sekaligus dokumentasinya," katanya.
Menurut Jaya, mekanisme tersebut diperlukan agar evaluasi tidak berhenti pada jumlah perjalanan kendaraan. Dishub ingin memastikan operasional angkot memang memberikan layanan kepada pelajar sebagai kelompok sasaran program.
Evaluasi juga mencakup pola naik dan turun penumpang serta waktu keberangkatan. Sebab, masih ditemukan pelajar yang tidak berada tepat di titik penjemputan ketika angkot melintas.
"Itu yang sedang kami perbaiki dan masuk dalam evaluasi. Kadang ada yang turun, ada yang naik juga tidak pada tempat menunggunya itu. Ini kami evaluasi sambil berjalan," tegasnya.
Di tengah evaluasi tersebut, Dishub juga menerima masukan untuk memperluas jangkauan layanan. Salah satu masukan datang dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang berdasarkan kebutuhan pelajar.
"Okupansinya sekarang itu rata-rata 80 persen. Cukup bagus. Tingkat terisinya itu 80 persen, bahkan ada yang meminta untuk menambah rute," ujar Jaya.
Masukan itu kemudian menjadi bahan Dishub untuk menyesuaikan rute layanan. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pelajar yang menjadi sasaran utama program.
Dengan evaluasi tersebut, Dishub mulai menempatkan jumlah pelajar yang benar-benar terlayani sebagai bagian penting dalam mengukur kinerja Angkot Pelajar Gratis. Bukan hanya berapa kilometer angkot berjalan atau berapa kali kendaraan beroperasi.




