JATIMTIMES - Musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia ternyata berpotensi berlangsung lebih panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, keterlambatan awal musim hujan diperkirakan terjadi di 529 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 61,08 persen dari luas daratan Indonesia.
“Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat atau mundur,” ungkap Faisal dalam konferensi pers Prediksi Musim Hujan 2026/2027 yang digelar secara daring pada Selasa (22/9/2026).
Berdasarkan analisis BMKG, hanya sebagian kecil wilayah yang diperkirakan memasuki musim hujan sesuai dengan waktu normal maupun lebih cepat.
Sebanyak 26 ZOM diprediksi mengalami awal musim hujan sesuai dengan kondisi normal. Sementara itu, hanya 11 ZOM atau sekitar 1 persen wilayah Indonesia yang diperkirakan memasuki musim hujan lebih cepat dari biasanya.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, kondisi tersebut tidak terlepas dari panjangnya musim kemarau yang terjadi pada 2026.
Menurut dia, jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis, awal musim hujan tahun ini cenderung mengalami kemunduran di sebagian besar wilayah Indonesia.
“Karena panjangnya musim kemarau yang kita alami tahun ini, maka musim hujan tahun ini jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologinya, sebagian besar mengalami kemunduran pada 529 zona musim atau 61,08 persen luas daratan Indonesia,” kata Ardhasena.
Bukan hanya waktu kedatangannya yang diprediksi mundur, BMKG juga memperkirakan durasi musim hujan pada 2026/2027 akan lebih pendek dibandingkan kondisi normal.
Data BMKG menunjukkan, sebanyak 482 ZOM atau sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia berpotensi mengalami musim hujan dengan durasi lebih singkat dari biasanya.
Sebaliknya, 60 ZOM diprediksi memiliki musim hujan yang lebih panjang, sedangkan 40 ZOM lainnya diperkirakan memiliki durasi yang relatif sama dengan kondisi normal.
“Jika kita bandingkan dengan panjang pendek umumnya musim hujan, 482 zona musim itu lebih pendek dari normalnya, dan yang lebih panjang hanya 60 zona musim, dan yang sama dengan normalnya itu 40 zona musim. Sehingga, musim hujannya itu lebih pendek,” ujar Ardhasena.
BMKG juga menyoroti kondisi musim hujan tahun ini karena periode awal musim hujan dan puncaknya diperkirakan memiliki jarak yang relatif dekat. Ditambah dengan durasi musim hujan yang lebih pendek, masyarakat diminta tetap memperhatikan potensi perubahan kondisi cuaca.
Curah hujan yang turun dalam periode tertentu dengan intensitas tinggi dapat menimbulkan dampak lanjutan di sejumlah wilayah. Beberapa di antaranya adalah banjir dan tanah longsor.
Karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mencermati perkembangan informasi cuaca dan iklim, terutama menjelang peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Prediksi tersebut menjadi perhatian mengingat musim kemarau 2026 berlangsung cukup panjang. Kondisi ini membuat datangnya musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia perlu diantisipasi agar masyarakat dapat mempersiapkan diri menghadapi perubahan cuaca dan potensi bencana hidrometeorologi.



