JATIMTIMES - Riset tentang pupuk organik di lahan pertanian Kepanjen bermula dari persoalan yang cukup mendasar: produk yang telah digunakan petani belum memenuhi standar kandungan nutrisi makro. Temuan laboratorium tersebut kemudian tidak berhenti sebagai catatan penelitian, tetapi menjadi titik awal pengembangan formulasi baru yang diarahkan hingga masuk ke ranah industri.
Dari proses tersebut lahir Nanoagro, pupuk organik cair multifungsi yang dikembangkan Prof. Amin Setyo Leksono, Guru Besar Departemen Biologi Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), bersama Farida Rahayu, Ph.D., Peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN.
Nanoagro dikembangkan dengan pendekatan yang tidak sekadar mengejar kandungan nutrisi tanaman. Produk tersebut juga diperkaya dengan entomopatogen yang berfungsi sebagai agen pengendali hama. Kombinasi itu membuat fungsi produk diperluas, dari sekadar pemupukan menuju pendekatan yang menggabungkan penyediaan nutrisi dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

“Dengan adanya tambahan ini maka skala penggunaan produk ini menjadi lebih umum, lebih luas. Tidak hanya untuk tanaman hortikultura, tetapi juga bisa untuk buah-buahan,” jelas Prof. Amin saat Ngobrol dan Ngopi Santai Bersama Media (Ngopi SAM) di Ruang Talent FSTeM, Gedung MIPA UB, beberapa saat lalu.
Pengembangan Nanoagro berangkat dari penelitian di sawah padi organik di Kepanjen. Pada lokasi tersebut, petani telah menggunakan pupuk organik cair yang dikembangkan secara mandiri. Ketika sampel diuji di laboratorium, kandungan nutrisi makronya diketahui masih belum memenuhi standar yang ditetapkan.
Temuan tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih jauh dari sekadar pilihan jenis pupuk. Produk organik yang dibuat secara mandiri perlu diuji secara ilmiah agar kandungan dan kualitasnya dapat dipastikan sebelum digunakan secara lebih luas. Celah itulah yang kemudian menjadi ruang bagi tim peneliti untuk melakukan rekayasa dan pengembangan produk.
Sejak 2022, tim mulai menggandeng mitra industri dari Tulungagung. Kerja sama tersebut membawa penelitian dari tahap pengembangan formulasi menuju produk pupuk organik dan hayati yang memiliki peluang untuk diproduksi serta dipasarkan.
Pada tahap pengembangannya, Nanoagro dirancang agar dapat digunakan pada berbagai jenis tanaman. Aplikasi produk dilakukan melalui penyemprotan secara berkala sekitar dua minggu sekali. Untuk penggunaan pada akar, dosis yang disampaikan sekitar 5 mililiter atau seperempat tutup botol yang diencerkan dengan 10 liter air.
"Adapun penggunaan maksimal mencapai satu liter produk untuk satu hektare lahan," katanya.
Perjalanan riset tersebut kini telah menghasilkan produk dengan izin edar. Nanoagro memperoleh izin edar pada 2025, menandai pergeseran status dari hasil pengembangan penelitian menuju produk yang dapat dipasarkan.
Namun, hilirisasi riset tersebut belum berhenti pada satu produk. Tim juga mengembangkan Mikroagro sebagai pupuk organik dan hayati. Produk ini masih berada dalam proses pengajuan izin edar sehingga belum memiliki status edar seperti Nanoagro.
Di sisi produksi, kapasitas Nanoagro saat ini masih berada pada kisaran 500 liter per bulan. Angka tersebut menjadi salah satu titik yang hendak diperbesar melalui kerja sama dengan mitra industri. Target produksinya diarahkan mencapai 10.000 liter per bulan seiring dengan perkembangan produk dan kebutuhan pasar.
Kenaikan kapasitas itu menunjukkan bahwa tantangan hilirisasi tidak berhenti ketika sebuah produk berhasil dikembangkan dan memperoleh izin edar. Riset juga harus berhadapan dengan persoalan produksi, konsistensi mutu, kebutuhan pengguna hingga kemampuan industri memenuhi permintaan.
Karena itu, tim peneliti tidak hanya menyerahkan formulasi kepada mitra industri. Pendampingan dilakukan pada proses produksi sekaligus pemanfaatan pupuk organik oleh petani. Tim juga melakukan pengenalan produk kepada petani dan menjembatani kebutuhan di lapangan dengan produk yang dikembangkan bersama mitra.

Selain inovasi di bidang pupuk, FSTeM UB juga memaparkan riset yang mengambil persoalan berbeda, yakni pemanfaatan limbah industri bioetanol. Farida Rahayu, Ph.D., menjelaskan penelitian tersebut diarahkan untuk mengubah material sisa industri menjadi bahan yang memiliki nilai tambah.
Riset yang mulai dikembangkan sejak 2025 itu memanfaatkan yeast dari limbah industri bioetanol. Yeast dipisahkan dari limbah, kemudian diproses untuk menghasilkan glutathione. Setelah proses tersebut, sisa sel dapat dikeringkan dan dimanfaatkan sebagai yeast extract.
Dengan mekanisme tersebut, limbah bioetanol tidak diposisikan semata sebagai material sisa yang harus ditangani, tetapi diproses menjadi bahan untuk menghasilkan dua produk bernilai tambah, yakni glutathione dan yeast extract.
Pengembangan teknologi dilakukan secara bertahap, mulai dari pencarian teknologi hingga diarahkan menuju skala industri. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi yang dikembangkan di lingkungan riset dapat diterapkan dengan parameter produksi yang sesuai kebutuhan industri.
Dua riset tersebut memperlihatkan dua jalur berbeda dalam pengembangan inovasi. Nanoagro berangkat dari persoalan nyata di lahan pertanian, kemudian diperbaiki melalui pengujian dan rekayasa produk hingga memperoleh izin edar. Sementara riset limbah bioetanol berangkat dari upaya memanfaatkan material sisa industri untuk menghasilkan produk baru dengan nilai ekonomi.
Paparan tersebut disampaikan dalam Ngopi SAM yang digelar FSTeM UB untuk mempertemukan akademisi dan peneliti dengan media sekaligus membuka ruang penyampaian hasil riset yang telah dikembangkan. Fokusnya bukan hanya pada temuan ilmiah, tetapi juga pada bagaimana teknologi tersebut bergerak dari ruang penelitian menuju kebutuhan industri dan pengguna.





