JATIMTIMES - Fenomena equinox yang berlangsung pada 23 September 2026 menjadi momentum untuk kembali memperhatikan perubahan ritme alam dan pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari, termasuk hewan peliharaan. Perubahan kondisi lingkungan seperti suhu, cuaca, suara hingga tekanan angin disebut dapat menjadi bagian yang perlu diperhatikan ketika terjadi perubahan perilaku pada hewan.
Energy Healing & Wellbeing Practitioner, Dery Ginanjar, mengatakan hewan memiliki kepekaan terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Karena itu, pemilik hewan disarankan tidak terburu-buru memberikan label ketika mendapati perilaku hewan peliharaannya berbeda dari biasanya. “Jangan langsung dilabeli nakal, bandel, atau sebagainya. Karena mereka sedang merespons kondisi alam, yaitu fenomena equinox ini,” kata Dery.
Menurut Dery, perubahan perilaku hewan di sekitar periode perubahan musim atau kondisi lingkungan tertentu bisa terlihat dalam berbagai bentuk. Hewan bisa saja tampak lebih banyak tidur, lebih sensitif, lebih reaktif, lebih membutuhkan perhatian, atau menunjukkan perilaku yang berbeda dari kebiasaannya. “Yang hewan butuhkan tidak selalu dikoreksi, tetapi ruang untuk merasa aman,” imbuh Dery.
Ia menilai pemilik perlu memberikan kesempatan kepada hewan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan tanpa terus-menerus menginterupsi perilakunya.
Dery juga menyarankan pemilik hewan memberikan aktivitas yang disebut grounding untuk membantu hewan kembali terhubung dengan tubuh dan lingkungan. Menurutnya, aktivitas tersebut juga dapat dilakukan oleh pemilik agar lebih terkoneksi dengan lingkungan di sekitarnya.
“Coba teman-teman rutin ajak grounding hewan tersayangnya, termasuk kamu, agar kamu lebih grounded dan juga lebih terkoneksi dengan bumi,” tambahnya.
Dengan pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan suasana yang lebih tenang bagi hewan dan pemiliknya.
Selain grounding, Dery menyarankan pemilik menyediakan ruang yang nyaman bagi hewan untuk beristirahat maupun melakukan aktivitas sesuai kebutuhannya.
Menurutnya, kebutuhan tersebut sebaiknya diamati terlebih dahulu sebelum pemilik memberikan penilaian terhadap perilaku hewan.
“Biarkan mereka beristirahat atau mungkin mereka lagi butuh lari-lari. Apapun yang mereka lagi butuhkan, diberikan saja dahulu,” jelas Dery.
Ia juga mengajak pemilik hewan untuk memperhatikan kondisi dirinya sendiri ketika melihat adanya perubahan perilaku pada hewan. Menurut Dery, kondisi pemilik dan suasana di lingkungan tempat tinggal juga perlu diperhatikan dalam merespons perubahan tersebut. “Terakhir, amati dirimu. Adakah gejolak dalam dirimu yang mungkin berubah dalam beberapa hari ini?,” terangnya.
Dery menilai pemilik perlu mengevaluasi kondisi dirinya sebelum terburu-buru mencari penyebab perubahan perilaku pada hewan.
“Saat kamu tenang, saat kamu benar-benar cukup membumi, maka hewanmu juga akan merasa lebih aman, karena guardiannya pun merasa aman,” ucap Dery.
Karena itu bagi pemilik hewan agar membangun suasana yang nyaman sehingga hewan memiliki ruang untuk beradaptasi dan beristirahat.
Menurutnya, fenomena equinox terjadi saat Matahari berada di sekitar garis khatulistiwa sehingga durasi siang dan malam di berbagai wilayah Bumi menjadi relatif hampir sama. Peristiwa ini terjadi secara periodik dan berkaitan dengan posisi Bumi terhadap Matahari.
Bagi Dery, fenomena alam tersebut dapat menjadi pengingat bagi manusia untuk kembali memperhatikan hubungan dengan lingkungan di sekitarnya. Hal itu termasuk meningkatkan empati terhadap hewan peliharaan di rumah maupun hewan yang hidup di alam bebas.
“Fenomena alam ini membuat kita jadi ingat lagi sama fitrah kita sebagai bagian dari alam, bagian dari penghuni bumi ini, dan tentunya meningkatkan empati kita pada kondisi dari hewan tersayang kita di rumah dan juga hewan-hewan yang ada di luar sana,” tutupnya.





