JATIMTIMES - Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) tidak menjadikan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) sekadar agenda penyambutan mahasiswa. Tahun ini, kampus menempatkan pembentukan karakter, integritas, kemampuan beradaptasi, hingga kesiapan menghadapi perubahan lingkungan sebagai bagian utama proses pengenalan mahasiswa baru.
PKKMB Unikama yang mengusung tema besar 'Nusnatara Berdaya Mewujudkan Generasi Berdampak, Cerdas Digital dan Berkearifan Lokal", resmi dibuka di Aula Sarwakitri, Senin (21/9/2026). Sebanyak 1.080 mahasiswa baru tercatat mengikuti rangkaian PKKMB melalui skema luring dan daring.
Rektor Unikama Prof Dr Sudi Dul Aji MSi mengatakan perpindahan status dari siswa menjadi mahasiswa membawa perubahan dalam pola belajar sekaligus tuntutan terhadap karakter personal.

Menurut dia, mahasiswa baru perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan akademik sekaligus menetapkan arah pengembangan dirinya sejak awal perkuliahan.
“Prinsipnya PKKMB ini adalah pengenalan kehidupan kampus. Mereka yang dari siswa menjadi mahasiswa pasti banyak perubahan yang dilakukan,” ujar Sudi.
Ia menyebut Unikama menggunakan konsep Adipati sebagai salah satu kerangka pembentukan karakter mahasiswa. Konsep tersebut diarahkan untuk membangun karakter mahasiswa agar mampu beradaptasi sekaligus berkembang selama menjalani pendidikan tinggi.
Sudi menekankan tiga hal yang perlu menjadi pegangan mahasiswa baru, yakni kesungguhan dalam belajar, integritas, dan keberanian menetapkan mimpi yang ingin dicapai.
“Dia harus belajar sungguh-sungguh, punya integritas, dan harus punya mimpi yang besar terhadap apa yang dia ingin capai,” katanya.
Menurut Sudi, target tersebut penting karena kompetensi mahasiswa tidak terbentuk hanya dari proses perkuliahan. Mahasiswa perlu mengetahui capaian yang ingin dituju agar proses pengembangan kemampuan selama berada di kampus memiliki arah yang jelas.
PKKMB Unikama juga mulai memasukkan persoalan lingkungan ke dalam pembentukan karakter mahasiswa. Salah satu praktik yang diterapkan sejak hari pertama adalah mengurangi penggunaan botol minuman sekali pakai dengan mendorong mahasiswa menggunakan tumbler.

“Bagaimana mahasiswa mencintai lingkungannya. Salah satu yang kita lakukan hari ini mereka tidak boleh membawa minuman botol, tapi kita siapkan minuman-minuman untuk tumbler mereka,” jelas Sudi.
Dari total 1.080 mahasiswa yang terdaftar, sekitar 600 mahasiswa mengikuti pembukaan secara langsung. Sementara mahasiswa afirmasi mendapatkan skema pendampingan tersendiri secara daring yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat dan Sabtu.
Rangkaian PKKMB secara formal berlangsung 21–25 September 2026. Namun, proses pembentukan karakter mahasiswa tidak berhenti setelah agenda tersebut selesai. Unikama menjadwalkan kegiatan lanjutan setiap Jumat selama satu semester.
“Kalau karakter, pembentukan karakter tidak bisa singkat, harus berkelanjutan. Itu yang kita lakukan,” kata Sudi.
Perpanjangan proses tersebut juga menyentuh aspek adaptasi mahasiswa terhadap lingkungan baru. Kampus menyiapkan pemantauan psikologis karena sebagian mahasiswa menghadapi perubahan situasi yang cukup besar, termasuk mahasiswa yang sebelumnya tinggal bersama keluarga dan kemudian harus beradaptasi dengan kehidupan kos.
Unikama memiliki lembaga psikologi yang akan dilibatkan dalam proses edukasi, asesmen, dan evaluasi kondisi psikologis mahasiswa. Pemantauan tidak hanya dilakukan pada awal masuk kampus, tetapi juga dalam beberapa pekan hingga bulan pertama perkuliahan.
“Kalau hari ini mungkin belum nampak. Tapi nanti mungkin dua-tiga minggu atau satu-dua bulan, baru nanti akan kita lihat,” ujarnya.
Akses terhadap layanan tersebut, lanjut Sudi, akan dibuat lebih mudah agar mahasiswa dapat memperoleh pendampingan ketika menghadapi persoalan selama proses pembelajaran maupun masa adaptasi.
Ia juga menyinggung keberadaan satuan tugas PPKS yang menangani persoalan perlindungan dari pelecehan seksual dan perundungan. Kampus, kata Sudi, terus memberikan edukasi mengenai mekanisme pelaporan karena korban tidak selalu mudah menyampaikan kejadian yang dialaminya.
“Sementara ini belum ada laporan yang bisa diterima karena memang pada saat ada kejadian biasanya korban tidak mudah untuk bisa melapor,” katanya.
Dari sisi sebaran mahasiswa, Unikama belum menyelesaikan pemetaan mahasiswa baru tahun ini. Namun, Sudi menyebut mahasiswa berasal dari berbagai wilayah, mulai Sumatra hingga Papua.
Pada pemetaan 2025, mahasiswa asal Jawa Timur masih menjadi kelompok terbesar dengan proporsi sekitar 51 persen, disusul mahasiswa dari Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan wilayah lainnya.
PKKMB tahun ini sekaligus menjadi pintu awal Unikama untuk mengenalkan pola kehidupan akademik yang tidak hanya berorientasi pada capaian pembelajaran, tetapi juga membangun integritas, kemampuan beradaptasi, kepedulian lingkungan, serta akses terhadap dukungan psikologis selama mahasiswa menjalani masa studi.





