JATIMTIMES - Rabiul Akhir mungkin menjadi salah satu nama bulan Hijriah yang terdengar familiar, tetapi makna dan kedudukannya belum tentu dipahami banyak generasi muda saat ini. Bulan keempat dalam kalender Islam itu akan dimulai pada Ahad, 13 September 2026.
Berbeda dengan Rabiul Awal yang populer karena berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan banyak diisi kegiatan Maulid, Rabiul Akhir relatif jarang dibicarakan. Padahal, nama bulan ini memiliki sejarah penamaan dan posisi tersendiri dalam kalender Islam.
Baca Juga : Khutbah Jumat 11 September 2026: Ekonomi Sulit, Belajar dari Rasulullah Cara Hadapinya
Secara bahasa, Rabiul Akhir berasal dari bahasa Arab. Kata rabi’ berkaitan dengan musim semi, sedangkan akhir bermakna terakhir. Karena itu, Rabiul Akhir dapat dimaknai sebagai musim semi terakhir atau musim semi kedua.
Penamaan tersebut berkaitan dengan kondisi alam masyarakat Arab pada masa lalu. Saat penamaan bulan digunakan, masyarakat Arab mengaitkannya dengan musim dan keadaan alam yang mereka alami.
Namun, makna tersebut tidak membuat Rabiul Akhir selalu berlangsung pada musim semi. Kalender Hijriah menggunakan sistem lunar dengan jumlah hari sekitar 354 hari dalam setahun. Akibatnya, posisi bulan Hijriah bergeser sekitar 10-11 hari setiap tahun jika dibandingkan dengan kalender Masehi.
Rabiul Akhir berada setelah Rabiul Awal dan sebelum Jumadil Awal. Dalam urutan kalender Hijriah, bulan ini menjadi bulan keempat setelah Muharram, Safar dan Rabiul Awal.
Lalu, apakah Rabiul Akhir termasuk bulan yang dimuliakan secara khusus?. Jawabannya, bukan termasuk empat bulan haram.
Al-Qur'an secara tegas menyebut bahwa dalam satu tahun terdapat 12 bulan dan empat di antaranya merupakan bulan haram. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 36:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.”
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan empat bulan haram tersebut. Dalam hadis riwayat Abu Bakrah yang tercantum dalam Shahih Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa satu tahun terdiri dari 12 bulan dan empat di antaranya adalah bulan haram, yakni Zulqa'dah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Dengan demikian, Rabiul Akhir tidak termasuk dalam daftar empat bulan haram tersebut.
Hal lain yang juga penting diketahui adalah tidak adanya dalil khusus yang menetapkan ritual ibadah tertentu hanya untuk Rabiul Akhir. Tidak ada ketentuan syariat yang mewajibkan umat Islam melakukan amalan khusus karena memasuki bulan ini.
Baca Juga : 6 Keutamaan Salat Jumat, dari Menghapus Dosa hingga Raih Kasih Sayang Allah
Salat, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, bersedekah dan amal kebajikan lainnya tetap dapat dilakukan. Namun, amalan-amalan tersebut tidak perlu diyakini sebagai ritual khusus Rabiul Akhir apabila tidak memiliki dasar dalil.
Rabiul Akhir juga memiliki catatan dalam sejarah Islam. Salah satu tokoh yang dikaitkan dengan bulan ini adalah Umar bin Abdul Aziz, khalifah dari Bani Umayyah yang dikenal karena kezuhudan, keadilan dan kebijaksanaannya.
Umar bin Abdul Aziz bahkan kerap disebut sebagai khalifah kelima karena karakter kepemimpinannya dinilai menyerupai Khulafaur Rasyidin.
Meski demikian, informasi mengenai waktu wafat tokoh maupun peristiwa sejarah yang dikaitkan dengan Rabiul Akhir tetap perlu dilihat berdasarkan sumber sejarah yang digunakan. Tidak semua catatan sejarah mengenai peristiwa pada bulan tersebut memiliki tingkat kekuatan sumber yang sama.
Memasuki Rabiul Akhir setelah Rabiul Awal juga dapat menjadi momentum untuk kembali melihat bagaimana kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika Rabiul Awal banyak diisi dengan kegiatan Maulid Nabi di Indonesia, semangat tersebut dapat diteruskan dengan mempelajari akhlak dan sunnah Rasulullah SAW, bukan hanya melalui kegiatan seremonial. Rabiul Akhir 1448 Hijriah sendiri akan dimulai pada Ahad, 13 September 2026.
