JATIMTIMES - Kasus dugaan keracunan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini, sejumlah siswa di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilarikan ke fasilitas kesehatan pada Jumat (11/9/2026).
Para siswa dilaporkan mengalami sejumlah keluhan, di antaranya muntah-muntah dan pusing. Jumlah korban diduga keracunan MBG hingga kini masih didata Badan Gizi Nasional (BGN).
Baca Juga : Aksi KONI dan Anak-Anak: Di Mana Perlindungan Pelajar saat Wawali Blitar Pimpin Demonstrasi?
Informasi kejadian tersebut beredar melalui media sosial. Dalam unggahan akun Threads @zumaahmad9, sejumlah siswa SDN 1 Beber, Kecamatan Batukliang, disebut harus mendapat penanganan medis setelah menyantap menu MBG.
"Kabar Buruk Tiap Hari Datang Dari MBG. Jum'at, 11 September 2026 sekitar Pkl 10:40 WITA Sejumlah siswa SDN 1 Beber, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, NTB dilarikan ke fasilitas kesehatan karena mengalami keracunan usai menyantap menu proyek MBG. BETAPA HINA NYA HARGA DIRI ANAK ANAK KITA DI MATA PEMERINTAH," tulis akun tersebut.
Video yang diunggah akun itu memperlihatkan sejumlah siswa dibawa ke fasilitas kesehatan. Dalam video tersebut, tampak beberapa anak menangis dan ada pula yang terlihat lemas.
Kepala Regional Badan Gizi Nasional (BGN) NTB Eko Prasetyo membenarkan adanya laporan mengenai sejumlah siswa yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Eko mengatakan pihaknya masih menunggu perkembangan dari petugas di lapangan. Jumlah siswa yang terdampak juga belum dapat dipastikan.
"Betul, sedang menunggu update dan monitoring di lapangan," kata Eko, dikutip detikBali, Jumat siang.
Laporan awal mengenai kejadian tersebut telah diteruskan kepada BGN pusat. Tim BGN di Lombok Tengah juga masih melakukan pendataan dan validasi untuk mengetahui jumlah korban sekaligus menginvestigasi kejadian tersebut.
"Laporan awal sudah kami teruskan ke pimpinan pusat. Rekan-rekan di wilayah sedang validasi dan pendataan," jelasnya.
Berdasarkan informasi awal, makanan MBG yang dikonsumsi para siswa berasal dari salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Lendang Tampel, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah.
Kasus di Lombok Tengah terjadi sehari setelah puluhan siswa SMP Negeri 1 Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dilaporkan mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG.
Pada Kamis (10/9/2026), para siswa mengeluhkan mual dan gatal. Sejumlah guru yang mengonsumsi menu MBG yang sama juga mengalami gejala serupa. Hingga Jumat (11/9/2026), tiga siswa bahkan harus menjalani rawat inap.
Baca Juga : Kota Batu Rawan Bencana, BPBD Gencarkan Edukasi Mitigasi ke Siswa TK
Rangkaian kejadian tersebut menambah daftar laporan gangguan kesehatan yang dialami siswa maupun penerima manfaat setelah mengonsumsi makanan MBG dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, kasus serupa terjadi di sejumlah daerah. Di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sedikitnya 512 hingga 566 santri dan pelajar di Kecamatan Tanggulangin, termasuk Pondok Pesantren Manbaul Hikam, dilaporkan mengalami gejala keracunan pada 1 September 2026 setelah menyantap makanan dari SPPG Kalitengah.
Hasil pemeriksaan laboratorium pada kasus tersebut dilaporkan menemukan kontaminasi bakteri pada sampel.
Kasus lain dilaporkan terjadi di Rembang, Jawa Tengah, dengan 777 orang terdampak. Kemudian di Agam, Sumatra Barat, sebanyak 237 orang dilaporkan mengalami keluhan serupa.
Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, jumlah korban dilaporkan sekitar 152 orang. Sementara di Nganjuk, Jawa Timur, terdapat 49 orang yang dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG.
Kasus serupa juga dilaporkan di Jember, Jawa Timur, dengan 29 orang terdampak. Pada 7-8 September 2026, dugaan keracunan MBG kembali terjadi di Jawa Tengah. Sebanyak 231 orang di Pati dan 216 orang di Blora dilaporkan mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan program tersebut.
Di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 47 orang dari sejumlah sekolah di Kapanewon Turi juga mengalami keluhan setelah menyantap MBG pada Senin (7/9/2026). Sebanyak 45 orang mendapat perawatan di puskesmas, sedangkan dua lainnya dirawat di rumah sakit.
Keluhan yang dialami dalam kasus Sleman antara lain mual, muntah, pusing, dan sakit perut. Sampel makanan kemudian diperiksa untuk mengetahui penyebab munculnya gejala.
Jika sejumlah laporan tersebut dihimpun, lebih dari 2.000 orang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan atau dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG dalam rentang 1-11 September 2026. Mayoritas korban merupakan anak-anak sekolah dan santri.
