Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Khutbah Jumat 4 September 2026: Cara Menjaga Lisan dan Perbuatan Agar Tak Meresahkan Orang Lain

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

04 - Sep - 2026, 09:45

Placeholder
Potret khutbah Jumat. (Foto: Polres Berau)

JATIMTIMES - Islam datang membawa ajaran yang menempatkan kedamaian, kasih sayang, dan kemaslahatan manusia sebagai bagian penting dalam kehidupan. Karena itu, keberadaan seorang muslim semestinya tidak membuat orang di sekitarnya merasa takut atau terganggu. Sebaliknya, kehadirannya diharapkan dapat memberikan rasa aman, ketenteraman, dan manfaat bagi sesama.

Pesan tersebut semakin penting untuk direnungkan dalam kehidupan bermasyarakat. Cara berbicara, bersikap, hingga menggunakan media sosial dapat memengaruhi ketenangan orang lain. Sesuatu yang dianggap sepele oleh seseorang bisa saja menimbulkan keresahan bagi orang lain jika tidak dilakukan dengan pertimbangan dan akhlak yang baik.

Baca Juga : Paripurna DPRD Setujui P-APBD 2026: Pendapatan Rp 26,52 Triliun, Pemprov Amankan Anggaran TPG Guru

Khutbah Jumat kali ini mengajak jemaah untuk bercermin pada diri sendiri, apakah kehadiran kita selama ini lebih banyak menghadirkan ketenangan atau justru menimbulkan keresahan? 

Semangat Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam hendaknya diwujudkan melalui sikap yang santun, menjaga lisan, menghormati sesama, serta menjauhi segala tindakan yang dapat merugikan dan mengganggu orang lain.

Khutbah I 

  الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدِّيْنِ الْقَوِيمِ. صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ   

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita awali khutbah ini dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. Atas segala limpahan nikmat, rahmat, dan karunia-Nya, kita masih diberi kesehatan serta kesempatan untuk berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka menunaikan kewajiban salat Jumat.

Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw., manusia pilihan yang menjadi teladan bagi umat manusia. Semoga keberkahan juga senantiasa menyertai keluarga, para sahabat, dan seluruh umat beliau yang terus berpegang teguh pada ajaran dan sunnahnya hingga akhir zaman.

Selanjutnya, sebagai bagian dari kewajiban dalam khutbah, khatib mengingatkan diri sendiri dan jemaah sekalian untuk terus menjaga serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.

Caranya dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan apa saja yang dilarang-Nya. Takwa adalah bekal yang sangat berharga bagi kehidupan kita di dunia sekaligus menjadi jalan menuju keselamatan di akhirat.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Ketakwaan seseorang tidak cukup hanya diukur dari seberapa tekun ia menjalankan ibadah seperti salat, puasa, dan ibadah lainnya. Takwa juga harus tercermin melalui perilaku kita setiap hari. Bagaimana kita berbicara, bagaimana kita bersikap, serta bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang berada di sekitar kita.

Seorang Muslim yang bertakwa semestinya mampu menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi orang lain. Kehadirannya tidak membuat orang merasa takut, tertekan, atau terganggu.
 
Justru orang-orang di sekitarnya merasakan keteduhan dari akhlak dan perilakunya. Sikap tersebut sejalan dengan salah satu tujuan diutusnya Nabi Muhammad saw., yakni membawa rahmat bagi seluruh makhluk. Allah Swt. berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya, “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’, [21]: 107).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kehadiran Rasulullah saw. membawa rahmat yang luas. Ibnu Abbas, sebagaimana dikutip Imam al-Baghawi, menjelaskan bahwa rahmat yang dibawa Rasulullah bersifat umum. Rahmat tersebut mencakup seluruh makhluk, baik mereka yang menerima dan beriman kepada ajaran beliau maupun yang belum beriman.

Dalam kitab Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’anil Azim, jilid V, halaman 359, disebutkan:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هُوَ عَامٌ فِي حَقِّ مَنْ آمَنَ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ

Artinya, “Ibnu Abbas berkata: ‘Rahmat itu bersifat umum, berlaku bagi siapa saja yang beriman maupun tidak beriman sekali pun.’”

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Lantas, bagaimana agar kita dapat menjadi seorang Muslim yang menenangkan dan tidak menjadi sumber keresahan bagi orang lain? Ada beberapa hal yang dapat kita mulai dari kehidupan sehari-hari.

Pertama, menjaga lisan.

Apa yang keluar dari mulut kita bisa menjadi sumber ketenangan, namun juga bisa berubah menjadi sebab munculnya luka di hati orang lain. Kalimat yang sederhana bisa membuat seseorang bahagia, sedangkan ucapan yang tidak dijaga dapat menimbulkan permusuhan, merusak persaudaraan, bahkan menjadi awal retaknya sebuah rumah tangga.

Karena itu, seorang Muslim perlu membiasakan diri berpikir sebelum berbicara. Jangan sampai lisan kita menjadi sebab orang lain merasa tersakiti.

Hal yang sama berlaku pada tangan dan aktivitas kita di media sosial. Apa yang kita tulis, unggah, bagikan, maupun komentari juga merupakan perbuatan yang harus dipertanggungjawabkan. Jangan sampai jari-jari kita menjadi jalan untuk menyebarkan kebencian, mempermalukan orang lain, atau menimbulkan keresahan.

Rasulullah saw. bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya, “Seorang Muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kedua, membiasakan diri menjadi pribadi yang penyayang.

Baca Juga : Tingkatkan Kesejahteraan Warga, Pemdes Sumber Realisasikan Pembangunan 2 Unit RTLH Tahun 2026

Kasih sayang dapat diwujudkan dengan banyak cara. Kita bisa memulainya dengan belajar memaafkan kesalahan orang lain, membantu ketika ada yang membutuhkan, serta memiliki kepedulian terhadap keadaan sesama.

Orang yang memiliki kasih sayang tidak akan merasa senang ketika melihat orang lain berada dalam kesulitan. Ia juga tidak akan dengan sengaja melakukan sesuatu yang membuat orang lain menderita.

Rasulullah saw. mengajarkan pentingnya kasih sayang melalui sabdanya:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ! ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Artinya, “Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Pengasih! Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR. At-Tirmidzi).

Ketiga, belajar mengendalikan amarah dan memperkuat kesabaran.

Banyak persoalan dalam kehidupan menjadi semakin besar karena seseorang tidak mampu mengendalikan emosinya. Saat marah, seseorang terkadang berbicara tanpa berpikir, mengeluarkan perkataan yang kasar, bahkan melakukan tindakan yang akhirnya ia sesali.

Karena itu, menjadi pribadi yang menenangkan membutuhkan kemampuan untuk menguasai diri. Ketika menghadapi masalah, kita perlu belajar berhenti sejenak, menenangkan hati, kemudian menyelesaikannya dengan pikiran yang jernih.

Rasulullah saw. bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Artinya, “Orang kuat bukanlah mereka yang pandai bergulat, tetapi ia yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Dari ajaran Rasulullah saw. tersebut, kita belajar bahwa menjadi seorang Muslim bukan hanya tentang kesungguhan dalam menjalankan ibadah kepada Allah. Keimanan juga harus melahirkan akhlak yang baik dalam hubungan kita dengan sesama manusia.

Mari kita berusaha menjadikan diri sebagai orang yang kehadirannya membawa keteduhan. Mulailah dari hal yang paling dekat: menjaga ucapan, mengendalikan emosi, mudah memaafkan, ringan membantu, serta berhati-hati dalam setiap tindakan, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Semoga Allah Swt. membimbing langkah kita untuk mengikuti akhlak Rasulullah saw. Semoga lisan kita dijauhkan dari ucapan yang menyakiti, tangan kita dijaga dari perbuatan yang merugikan, hati kita dipenuhi kasih sayang, dan seluruh perilaku kita menjadi sebab hadirnya ketenangan bagi orang-orang di sekitar kita.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mampu membawa rahmat bagi kehidupan dan lingkungan di mana pun kita berada.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II 

  حَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Topik

Agama Khutbah Jumat salat jumat menjaga lisan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni