JATIMTIMES - Presiden Rusia, Vladimir Putin mengucapkan selamat kepada Donald Trump atas kemenangannya dalam pemilu AS. Putin memuji Trump atas keberaniannya, khususnya saat menghadapi percobaan pembunuhan di tengah kampanye pada bulan Juli. 

"Menurut pendapat saya, ia berperilaku dengan sangat benar, berani, seperti pria sejati," kata Putin saat berbicara di Valdai Discussion Club di Sochi, Rusia, sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu (9/11). 

“Saya menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan selamat atas terpilihnya ia,” tambahnya. 

Buntut pujian Putin kepada Trump ini, nama keduanya trending dalam penelusuran Google. Banyak yang berharap kedua tokoh dunia tersebut melakukan diskusi demi perdamaian Ukraina dan Rusia. 

Pujian Putin ini diberikan setelah Trump menghadapi insiden di sebuah rapat umum di Pennsylvania, di mana seorang pria bersenjata mencoba menyerangnya. Putin menyebut bahwa keberanian Trump dalam menghadapi situasi tersebut menunjukkan sikap kepemimpinan yang kuat. Ucapan ini menjadi bagian dari pernyataan publik pertama Putin sejak kemenangan Trump. 

Putin juga menyoroti pernyataan Trump selama masa kampanye yang dianggapnya penting, terutama terkait Ukraina dan hubungan Rusia-Amerika Serikat. 

"Apa yang dikatakan tentang keinginan untuk memulihkan hubungan dengan Rusia, untuk mengakhiri krisis Ukraina, menurut saya, ini setidaknya patut mendapat perhatian," ujar Putin. 

Trump memang beberapa kali menyinggung bahwa ia dapat membawa perdamaian di Ukraina dalam 24 jam jika terpilih, meski belum memberikan rincian yang jelas mengenai rencananya tersebut. 

Meskipun menyatakan kesiapan untuk bekerja sama, Putin juga memberikan peringatan. “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang. Saya tidak punya petunjuk,” katanya saat ditanya tentang potensi hubungan di masa depan. 

Ketika ditanya lebih lanjut apakah ia siap jika Trump mengajukan pertemuan, Putin menyatakan kesiapannya untuk berdiskusi. "Saya siap untuk melanjutkan kontak jika pemerintahan Trump menginginkannya," tegas Putin. 

Selama ini, Rusia dan Trump sering membantah klaim bahwa Trump adalah "agen pengaruh" Rusia, yang sering disebut dalam media Barat. "Itu adalah tuduhan yang tidak masuk akal," menurut beberapa pejabat Rusia. 

Dalam masa jabatan pertamanya antara 2017 dan 2021, Trump sering dianggap bersikap keras terhadap Rusia. Penyelidikan yang dilakukan oleh Penasihat Khusus AS, Robert Mueller, mengenai dugaan kolusi antara kampanye Trump dan Rusia dalam pemilihan presiden AS 2016 tidak menemukan bukti konspirasi, sebagaimana tercantum dalam laporannya pada tahun 2019. 

Melalui pernyataan ini, Putin tidak hanya mengisyaratkan keterbukaan Rusia untuk berdialog, tetapi juga menunjukkan apresiasinya atas potensi kebijakan Trump terhadap Rusia, terutama dalam konteks krisis Ukraina dan hubungan bilateral.