JATIMTIMES - Sakit tidak selalu menjadi pertanda buruk dalam kehidupan seorang Muslim. Di balik penderitaan, terdapat kesempatan untuk melatih kesabaran, memohon ampunan, dan memperkuat keyakinan kepada Allah SWT. Namun, ketika rasa sakit disertai ketakutan berlebihan, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk melihat harapan di tengah ujian.

Gambaran tersebut tercermin dalam kisah seorang Arab Badui yang pernah dijenguk Nabi Muhammad SAW ketika sedang menderita demam. Alih-alih menerima penghiburan Rasulullah, lelaki itu justru memandang penyakitnya sebagai pertanda bahwa kematian sudah dekat.

Dikisahkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dalam Shahih Al-Bukhari, Rasulullah SAW mendatangi lelaki tersebut dan menyampaikan kalimat yang mengandung doa serta harapan bagi kesembuhannya.

"Laa ba'sa, thahuurun insyaa Allah". Artinya, “Tidak apa-apa, semoga sakitmu ini menjadi pembersih dosa, insya Allah.”

Ucapan Rasulullah SAW itu bukan sekadar penghiburan bagi orang yang sedang menanggung penderitaan. Kalimat tersebut mengandung harapan agar penyakit yang dialami menjadi sebab dihapuskannya dosa dengan izin Allah SWT.

Namun, jawaban lelaki Badui itu justru bertolak belakang dengan harapan yang disampaikan Nabi.

“Pembersih dosa? Tidak! Justru ini adalah demam yang mendidih pada seorang lelaki tua, yang akan mengantarkannya ke kubur,” jawabnya.

Rasulullah SAW kemudian bersabda: "Fa na'am idzan", yang artinya "Kalau begitu, ya demikianlah.”

Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Percakapan singkat itu memperlihatkan perbedaan cara pandang dalam menghadapi penyakit: Rasulullah memberikan penghiburan dengan mengarahkan orang yang sakit pada harapan, sementara lelaki tersebut justru menegaskan ketakutannya terhadap kematian.

Dalam ajaran Islam, penyakit tidak hanya dipandang sebagai gangguan fisik, tetapi juga dapat menjadi jalan penghapusan dosa. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa penderitaan yang dialami seorang Muslim tidak selalu berlalu tanpa makna.

Dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan, penyakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut memberikan perspektif bahwa penderitaan dapat menjadi sarana penghapusan dosa. Meski demikian, hal itu bukan berarti setiap penyakit harus dianggap ringan atau seseorang dilarang mengungkapkan kesedihannya.

Orang yang sakit tetap perlu berikhtiar mencari kesembuhan, menjalani pengobatan, dan menjaga kesehatannya. Kesabaran tidak berarti pasrah tanpa usaha, sebagaimana keyakinan kepada Allah tidak mengharuskan seseorang mengabaikan kenyataan yang sedang dihadapi.

Salah satu pelajaran penting dari kisah Arab Badui tersebut adalah menjaga husnuzan, yakni berprasangka baik kepada Allah SWT. Ketika menghadapi musibah, seorang Muslim tidak seharusnya terburu-buru menyimpulkan bahwa keadaan buruk yang dialaminya merupakan tanda hilangnya rahmat Allah.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim, Allah SWT berfirman: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”

Hadis ini mengajarkan pentingnya memelihara harapan terhadap ampunan, rahmat, dan pertolongan Allah SWT. Seorang hamba tetap diperintahkan untuk berdoa dan berusaha, sekalipun belum mengetahui bagaimana akhir dari ujian yang sedang dijalaninya.

Prasangka baik juga tidak berarti bahwa pikiran atau ucapan manusia secara otomatis menentukan takdir. Ketetapan tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Sementara itu, manusia memiliki kewajiban untuk berikhtiar, memperbaiki diri, dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’” (QS. Az-Zumar: 53).

Ayat tersebut menegaskan luasnya rahmat Allah dan larangan berputus asa dari ampunan-Nya. Pesannya relevan bagi siapa pun yang sedang menghadapi kesulitan, termasuk ketika penyakit membuat seseorang merasa lemah dan khawatir terhadap masa depannya.

Islam tidak melarang manusia merasakan kesedihan atau mengungkapkan rasa sakit. Bahkan, Al-Qur'an mengabadikan perkataan Nabi Yaqub AS ketika menghadapi kehilangan putranya, Yusuf.

Dalam Surah Yusuf ayat 86, Nabi Yaqub AS berkata:

“Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86).

Ayat ini memperlihatkan bahwa kesedihan dapat disampaikan kepada Allah melalui doa dan pengaduan. Mengakui penderitaan bukanlah bentuk keputusasaan. Yang perlu dihindari adalah membiarkan rasa takut berkembang menjadi keyakinan bahwa tidak ada lagi harapan dan pertolongan.

Kisah Arab Badui yang menolak penghiburan Rasulullah SAW menjadi pengingat bahwa seseorang tidak selalu mampu memahami seluruh hikmah di balik keadaan yang dialaminya. Ketika sakit datang, seorang Muslim dapat mengakui beratnya penderitaan tanpa menutup pintu harapan, tetap mencari pengobatan, dan memohon agar ujian tersebut menjadi jalan kebaikan.

Di tengah ketidakpastian, doa, ikhtiar, kesabaran, prasangka baik kepada Allah tetap menjadi pegangan dalam menghadapi ujian kehidupan.