JATIMTIMES – Upaya mengurangi risiko banjir di kawasan Pantai Utara (Pantura) Situbondo terus diperkuat melalui kolaborasi antara Universitas Jember (UNEJ), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo, dan pemerintah desa. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) di Desa Besuki, Kecamatan Besuki, Minggu (18/10/2026)

Program yang dilaksanakan melalui Bestari Saintek Kemendiktisaintek-LPDP tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman banjir, terutama di kawasan yang memiliki peran strategis sebagai jalur transportasi penghubung wilayah Jawa dengan Indonesia bagian timur.

Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Besuki itu tidak hanya berfokus pada penguatan kelembagaan masyarakat, tetapi juga diisi dengan simulasi penanganan bencana. Salah satu momen yang menyita perhatian adalah ketika Camat Besuki, Yakub, rela berperan sebagai korban bencana dan ditandu oleh petugas dalam latihan evakuasi.

Peragaan tersebut menggambarkan situasi darurat yang bisa terjadi sewaktu-waktu ketika banjir melanda permukiman warga. Melalui simulasi ini, masyarakat diharapkan memahami prosedur evakuasi, mengenali jalur penyelamatan, serta mampu melakukan koordinasi dengan berbagai pihak ketika bencana terjadi.

Pembentukan Destana di Desa Besuki bukan tanpa alasan. Ketua Program Bestari Saintek UNEJ, Ihsannudin, menjelaskan bahwa penentuan lokasi dilakukan berdasarkan kajian Living Lab Bestari Saintek terhadap 20 desa yang berada di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Lobawang, Jumain, dan Sletreng.

“Pemilihan Desa Besuki sebagai Destana didasari kajian saintifik,” jelas Ihsannudin.

Kajian tersebut menjadi salah satu dasar untuk menentukan wilayah yang membutuhkan penguatan kapasitas dalam menghadapi ancaman bencana. Dengan pendekatan berbasis kajian ilmiah, program ini diharapkan mampu menghasilkan langkah pengurangan risiko yang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat.

Camat Besuki, Yakub, mengungkapkan bahwa banjir yang terjadi pada 5 Maret lalu menjadi salah satu kejadian terbesar yang dialami wilayahnya. Menurutnya, air datang dari arah Selamatan dan wilayah Sumbermalang hingga menimbulkan dampak yang cukup serius.

“Banjir pada 5 Maret merupakan kejadian terbesar yang kami alami. Air datang dari arah Selamatan dan wilayah Sumbermalang. Harapan kami, pada 2027 tidak ada lagi banjir,” ujar Yakub.

Dampak banjir tersebut tidak hanya dirasakan masyarakat di kawasan terdampak, tetapi juga mengganggu aktivitas transportasi di jalur Pantura Situbondo. Terhentinya akses pada jalur strategis yang menghubungkan Jawa dengan wilayah Indonesia bagian timur menjadi pengingat bahwa bencana banjir memiliki dampak luas terhadap mobilitas masyarakat dan aktivitas perekonomian.

Karena itu, upaya pengurangan risiko banjir membutuhkan penanganan yang terencana dan melibatkan banyak pihak. Kesiapsiagaan masyarakat, ketersediaan jalur evakuasi, serta koordinasi antara pemerintah dan unsur penanggulangan bencana menjadi aspek penting untuk meminimalkan dampak ketika keadaan darurat terjadi.

Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Timbul Surjanto, berpesan agar jalur evakuasi serta bantuan yang diberikan pemerintah dan Program Bestari Saintek UNEJ dijaga dan dimanfaatkan sesuai peruntukannya.

Menurutnya, dukungan yang telah diberikan harus menjadi bagian dari kesiapsiagaan desa, bukan sekadar fasilitas yang tersedia setelah program dilaksanakan.

"Dengan pemanfaatan yang tepat, masyarakat diharapkan memiliki kemampuan lebih baik dalam merespons ancaman banjir," ungkap Timbul.

Sementara itu, Kepala Desa Besuki, Husamah Bahres, menyatakan kesiapan pemerintah desa dan masyarakat untuk mendukung pembentukan Destana. Ia menilai pengalaman menghadapi bencana menjadi pelajaran penting bagi warga agar lebih siap menghadapi kemungkinan kejadian serupa pada masa mendatang.

“Kami warga Desa Besuki sudah merasakan tidak enaknya terjadi bencana,” papar Bahres.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat sebagai garda terdepan dalam menghadapi bencana. Pengalaman saat banjir terjadi diharapkan dapat menjadi dasar untuk membangun budaya sadar bencana, mulai dari mengenali potensi ancaman hingga memahami langkah penyelamatan diri dan keluarga.

Ihsannudin menambahkan, pembentukan Destana merupakan bagian dari pendekatan kolaboratif untuk mengurangi risiko bencana. Program Bestari Saintek UNEJ tidak hanya diarahkan pada penguatan kelembagaan masyarakat, tetapi juga mencakup intervensi teknis melalui grey infrastructure dan green infrastructure.

Selain itu, intervensi sosial dilakukan melalui pembentukan Destana serta dukungan penyusunan draf Rencana Kontingensi. Dokumen tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu acuan dalam merencanakan langkah penanganan ketika bencana terjadi, termasuk pembagian peran, koordinasi, dan kebutuhan evakuasi.

Melalui pendekatan yang memadukan pembangunan infrastruktur dan penguatan kapasitas masyarakat, UNEJ, BPBD Situbondo, serta pemerintah Desa Besuki berharap kesiapsiagaan warga semakin meningkat. Upaya ini sekaligus mendorong penanganan risiko banjir secara lebih terencana, mulai dari kawasan hulu hingga hilir.

Pembentukan Destana di Desa Besuki pun diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat ketangguhan masyarakat di kawasan Pantura Situbondo. Dengan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dan partisipasi aktif warga, harapan menekan risiko banjir pada tahun-tahun mendatang diharapkan dapat diwujudkan melalui langkah nyata dan berkelanjutan.