JATIMTIMES - Pernah mengisi keranjang belanja online dengan berbagai barang menarik, tetapi akhirnya menutup aplikasi tanpa menyelesaikan pembayaran? Kebiasaan ini mungkin terasa sepele, apalagi jika awalnya hanya berniat melihat-lihat produk. Namun, bagi sebagian orang, aktivitas tersebut bisa berulang setiap kali membuka toko online.

Fenomena ini dikenal sebagai cart abandonment atau pengabaian keranjang belanja. Menurut psikologi perilaku konsumen, kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan cara seseorang mengambil keputusan, mengelola keinginan, hingga mempertimbangkan kondisi keuangan. Meski begitu, tidak semua orang yang meninggalkan keranjang memiliki alasan psikologis yang sama.

Baymard Institute mencatat rata-rata tingkat pengabaian keranjang belanja online mencapai sekitar 70,22 persen berdasarkan 50 studi yang dianalisis. Angka ini menunjukkan bahwa tidak menyelesaikan transaksi merupakan fenomena umum dalam belanja digital.

Lantas, apa saja ciri orang yang suka memasukkan barang ke keranjang tetapi tidak checkout?

1. Senang Melihat-lihat Tanpa Niat Langsung Membeli

Sebagian orang menikmati proses menjelajahi produk, mencari barang menarik, dan membandingkan harga tanpa benar-benar berniat membeli saat itu juga.

Dilansir dari Growth Suite, sekitar 43 persen konsumen yang meninggalkan keranjang mengaku hanya sedang browsing. Bagi kelompok ini, keranjang belanja berfungsi seperti daftar keinginan sementara, bukan tanda bahwa transaksi akan segera dilakukan.

Kebiasaan tersebut tidak selalu menjadi masalah. Namun, jika seseorang terus menghabiskan waktu untuk melihat produk tanpa tujuan yang jelas, aktivitas belanja bisa berubah menjadi hiburan tersendiri.

2. Menikmati Rasa Senang Saat Menemukan Barang Menarik

Pernah merasa bersemangat ketika menemukan barang yang diinginkan, meskipun akhirnya tidak jadi membelinya?

Perasaan itu bisa muncul karena seseorang menikmati bayangan tentang bagaimana rasanya memiliki produk tersebut. Bahkan, proses memilih barang dan memasukkannya ke keranjang terkadang sudah memberikan kepuasan tersendiri.

Dopamin, zat kimia otak yang berperan dalam motivasi dan sistem penghargaan, turut terlibat dalam proses antisipasi terhadap sesuatu yang dianggap menyenangkan. Namun, bukan berarti setiap orang yang meninggalkan keranjang pasti mengalami respons dopamin yang sama.

Ketika kesenangan dari aktivitas menjelajahi produk sudah terpenuhi, keinginan untuk melanjutkan pembayaran bisa berkurang. Akibatnya, barang tetap berada di keranjang tanpa pernah dibeli.

3. Sulit Memutuskan karena Takut Salah Pilih

Orang yang terlalu banyak mempertimbangkan pilihan juga bisa sering membiarkan barang di keranjang. Mereka ingin memastikan produk yang dipilih benar-benar sesuai, baik dari segi harga, kualitas, maupun manfaatnya.

Misalnya, seseorang sudah menemukan sepatu yang cocok. Namun, ia kembali mencari model serupa di toko lain, membandingkan ulasan pembeli, dan menunggu kemungkinan munculnya diskon.

Alih-alih segera memutuskan, semakin banyak pilihan justru membuatnya semakin ragu.

Dalam artikel yang dikutip Foursixty, Rashel Hariri, seorang chief marketing officer, menyoroti bahwa pengabaian keranjang tidak selalu disebabkan kurangnya niat membeli, tetapi juga dapat berkaitan dengan keraguan yang belum terselesaikan.

Pola ini memperlihatkan bahwa sebagian konsumen membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa yakin sebelum mengeluarkan uang.

4. Berusaha Mengendalikan Pengeluaran

Tidak semua orang yang membiarkan barang menumpuk di keranjang berarti tidak bisa mengambil keputusan. Sebagian justru sengaja menunda pembayaran untuk menghindari belanja impulsif.

Mereka mungkin menunggu tanggal gajian, mencari harga yang lebih murah, atau menghitung kembali total pengeluaran sebelum membeli. Keranjang pun digunakan sebagai tempat menyimpan barang yang ingin dibeli ketika kondisi keuangan sudah memungkinkan.

Cara ini bisa menjadi strategi pengendalian diri yang bermanfaat, terutama bagi orang yang sedang berusaha mengatur anggaran.

Meski demikian, penting untuk membedakan antara menunda pembelian karena pertimbangan keuangan dan terus menambahkan barang hanya karena tergoda promosi.

Mengapa Barang di Keranjang Sering Tidak Jadi Dibeli?

Selain kebiasaan pribadi, ada sejumlah faktor yang bisa membuat seseorang mengurungkan niat berbelanja.

Salah satunya adalah keinginan sesaat. Produk yang terlihat menarik dapat memunculkan dorongan untuk segera memilikinya. Namun, setelah beberapa waktu, keinginan tersebut bisa mereda. Memberi jeda sebelum membayar, misalnya selama 24 jam, dapat membantu seseorang mempertimbangkan kembali apakah barang itu benar-benar dibutuhkan.

Faktor lain adalah loss aversion, yaitu kecenderungan seseorang lebih sensitif terhadap potensi kerugian daripada keuntungan yang setara. Dalam belanja online, hal ini bisa muncul ketika konsumen khawatir uangnya terbuang untuk produk yang tidak sesuai harapan atau merasa akan menyesal setelah membeli.

Biaya tambahan juga berpengaruh. National Retail Federation melaporkan bahwa sekitar 65 persen konsumen cenderung membatalkan pembelian ketika biaya tambahan, seperti ongkos kirim dan pajak, dirasakan terlalu tinggi.

Sementara itu, laporan KOMOJU menyoroti besarnya dampak pengabaian keranjang terhadap bisnis e-commerce, yang diperkirakan mencapai sekitar 18 miliar dolar AS per tahun. Ketidakpercayaan terhadap toko, pengalaman belanja yang mengecewakan, dan proses pembayaran yang merepotkan juga dapat menjadi penyebab konsumen tidak menyelesaikan transaksi.

Kemudahan mengakses toko online melalui ponsel turut membuka peluang munculnya keputusan spontan. Seseorang bisa memasukkan barang ke keranjang setelah melihat iklan atau promo, meskipun sebelumnya tidak memiliki rencana untuk membeli produk tersebut.

Cara Mengendalikan Kebiasaan Mengisi Keranjang Tanpa Checkout

Jika kebiasaan ini mulai membuat waktu terbuang atau pengeluaran sulit dikendalikan, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba.

• Beri jeda sebelum membeli. Simpan barang di keranjang selama beberapa waktu, lalu periksa kembali apakah keinginan membelinya masih sama.

• Tetapkan anggaran belanja. Tentukan batas pengeluaran agar barang yang dibeli tidak mengganggu kebutuhan utama.

• Bedakan keinginan dan kebutuhan. Jangan langsung membeli produk hanya karena sedang tren atau menawarkan potongan harga.

• Periksa harga akhir. Hitung ongkos kirim dan biaya tambahan sebelum memutuskan menyelesaikan transaksi.

Kebiasaan memasukkan barang ke keranjang tetapi tidak checkout pada dasarnya tidak selalu buruk. Perilaku ini bisa menjadi bagian dari proses membandingkan produk, menunda keinginan, atau mengatur keuangan.

Hal yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik kebiasaan tersebut. Selama seseorang tetap mampu mengendalikan pengeluaran dan aktivitas belanjanya tidak mengganggu keseharian, meninggalkan barang di keranjang bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan.