JATIMTIMES - Kebakaran lahan terjadi di dua lokasi berbeda di Kota Batu, Kamis (15/10/2026). Dalam sehari, total lahan yang terbakar mencapai sekitar 1,21 hektare, meliputi rumpun bambu di Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, dan kawasan hutan produksi pinus di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji.
Kedua kejadian tersebut diduga dipicu aktivitas pembakaran serasah atau sisa-sisa vegetasi yang ditinggalkan tanpa pengawasan. Kondisi angin yang bertiup kencang membuat api berpotensi merambat dan membakar vegetasi di sekitarnya.
Berdasarkan laporan harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kota Batu, kebakaran pertama dilaporkan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB di Jalan Dukuh Atas RT 03 RW 01, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu. Api membakar rumpun bambu dan vegetasi di sekitarnya dengan luas area terdampak diperkirakan mencapai 0,50 hektare.
Kebakaran diduga bermula dari aktivitas pembakaran ranting dan serasah yang tidak diawasi hingga api benar-benar padam. Tiupan angin kencang kemudian membuat api kembali menyala dan merambat ke rumpun bambu di sekitarnya.
Pada hari yang sama, kebakaran kembali terjadi sekitar pukul 15.00 WIB di Petak 22 RPH Punten, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Kebakaran melanda kawasan hutan produksi yang ditumbuhi pohon pinus dengan luas area terdampak sekitar 0,71 hektare.
Dalam laporan BPBD, kebakaran di kawasan hutan produksi tersebut juga diduga berasal dari sisa pembakaran serasah yang ditinggalkan tanpa pengawasan. Bara api kemudian merambat ke vegetasi di sekitarnya hingga memicu kebakaran lahan.
Petugas gabungan melakukan penanganan untuk mengendalikan api agar tidak meluas ke area lain. Di lokasi hutan produksi, pemadaman dilakukan secara manual dan disertai pembuatan sekat bakar untuk membatasi perambatan api.
Setelah api berhasil dikendalikan, petugas juga melakukan penyisiran dan pemantauan di sekitar lokasi guna memastikan tidak ada bara maupun titik api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu dapat menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi kebakaran lahan, khususnya saat kondisi angin kencang. Pembakaran ranting, sampah kering, maupun serasah yang ditinggalkan sebelum benar-benar padam dapat memicu kebakaran yang lebih luas.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran untuk membersihkan lahan maupun membakar sampah di area yang berdekatan dengan vegetasi kering,” ungkap Suwoko.
“Api yang terlihat kecil sekalipun bisa kembali menyala dan merambat ketika tertiup angin, sehingga berpotensi menyebabkan kebakaran yang lebih luas,” imbuhnya, Jumat (16/10/2026).
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak meninggalkan api pembakaran tanpa pengawasan dan memastikan sumber api benar-benar padam. Apabila menemukan titik api atau kebakaran, masyarakat diharapkan segera melapor kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
Dalam penanganan kedua kejadian tersebut, BPBD Kota Batu berkoordinasi dengan sejumlah unsur terkait. Penanganan di Songgokerto melibatkan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Batu, perangkat kelurahan, relawan BPBD, serta warga.
Sementara itu, penanganan kebakaran di kawasan hutan produksi Desa Gunungsari melibatkan BPBD Kota Batu, Perhutani, TNI, Polri, relawan BPBD, dan warga.
Tidak ada korban jiwa dalam kedua kejadian kebakaran tersebut. Meski api berhasil dikendalikan, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pembakaran sisa vegetasi yang tidak diawasi dapat memicu kebakaran lahan, terlebih ketika kondisi lingkungan mendukung perambatan api.
BPBD Kota Batu mengimbau masyarakat untuk menghindari pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar. Masyarakat disarankan menggunakan cara yang lebih aman dan tidak melibatkan api untuk mengurangi risiko kebakaran lahan dan hutan.



