JATIMTIMES - Upaya Indonesia mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menggunakan es kering atau dry ice menjadi perhatian sejumlah media internasional. Metode yang diuji di Sumatera Selatan tersebut dinilai sebagai pendekatan berbeda untuk membantu mengurangi konsentrasi asap yang mengganggu kualitas udara dan jarak pandang.

Sejumlah media asing, mulai dari Inggris, Singapura, Australia hingga Malaysia, turut memberitakan penggunaan teknologi tersebut. Meski diharapkan bisa membantu mengatasi kabut asap dalam kondisi tertentu, efektivitas metode ini masih perlu dievaluasi lebih lanjut.

Media Inggris, The Guardian, menyoroti langkah pemerintah Indonesia yang mencoba menggunakan es kering untuk mengurangi kabut asap akibat karhutla. Dalam laporannya, media tersebut menyebut pendekatan ini sebagai metode yang tidak biasa untuk menghadapi persoalan asap kebakaran.

The Guardian menggambarkan kabut asap karhutla di Indonesia sebagai persoalan yang dampaknya meluas hingga negara-negara tetangga. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mencoba pendekatan tambahan untuk mengurangi konsentrasi asap di atmosfer.

Es kering merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat. Penggunaan bahan ini untuk memicu pembentukan es di awan telah dikenal sejak dekade 1940-an.

Namun, penerapannya untuk membantu mengatasi kabut asap tidak serta-merta menjamin hasil yang bertahan lama.

Profesor peneliti kebakaran hutan dari University of New South Wales (UNSW), Rick McRae, menilai metode tersebut berpotensi memberikan dampak pada wilayah tertentu, tetapi manfaatnya mungkin hanya berlangsung sementara.

Menurut McRae, teknik ini berpeluang memberikan kelegaan lokal apabila kondisi atmosfer mendukung. Akan tetapi, pergerakan sistem cuaca membuat persoalan kabut asap tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu tindakan di suatu lokasi.

Ia mengingatkan bahwa asap dapat kembali datang dari wilayah lain seiring perubahan dan pergerakan kondisi atmosfer. Karena itu, penggunaan dry ice tidak bisa dipandang sebagai solusi permanen untuk mengatasi karhutla.

Media Singapura, Channel News Asia (CNA), juga memberitakan uji coba penggunaan 1,5 ton es kering untuk membantu mengurangi kabut asap di Indonesia.

Dalam laporannya, CNA menjelaskan bahwa metode tersebut ditujukan untuk membantu memperbaiki kualitas udara dan meningkatkan jarak pandang. Caranya dengan mendorong asap yang terperangkap di lapisan atmosfer bawah agar bergerak naik sehingga konsentrasinya di dekat permukaan dapat berkurang.

CNA membedakan uji coba dry ice dengan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang selama ini dilakukan pemerintah Indonesia. OMC umumnya bertujuan memicu hujan, sedangkan penggunaan es kering dalam uji coba ini diarahkan untuk mengurangi konsentrasi kabut asap.

Kedua pendekatan tersebut direncanakan berjalan bersamaan. Uji coba penggunaan dry ice dimulai di Sumatera Selatan, salah satu wilayah yang terdampak persoalan karhutla.

CNA juga menyoroti perlunya evaluasi setelah pelaksanaan operasi. Hasilnya akan digunakan untuk menilai efektivitas metode tersebut dalam mengurangi kabut asap sekaligus menentukan kemungkinan penerapannya di wilayah lain.

Pemberitaan mengenai langkah Indonesia ini juga muncul di media Australia, ABC News. Media tersebut mengaitkan uji coba penggunaan es kering dengan kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia dan berdampak hingga kawasan Asia Tenggara.

Dalam laporannya, ABC News menyebut sebanyak 1,5 ton es kering disiapkan untuk disebarkan menggunakan pesawat Cessna di wilayah Palembang, Sumatera Selatan.

Penggunaan pesawat memungkinkan bahan tersebut disebarkan dari udara pada lokasi yang telah ditentukan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya untuk mengurangi dampak kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.

Meski demikian, hasil penerapan metode tersebut tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan. Keberhasilan mengurangi konsentrasi asap di satu lokasi belum tentu menunjukkan bahwa persoalan kabut asap secara keseluruhan telah teratasi.

Media Malaysia, New Straits Times (NST), turut mengulas penggunaan karbon dioksida padat tersebut. Dalam laporannya, NST menyinggung hasil awal yang menunjukkan adanya peningkatan jarak pandang di sekitar area penyemaian.

Jarak pandang yang semula dilaporkan sekitar 650 meter disebut meningkat menjadi 2.800 meter setelah pelaksanaan penyemaian. Angka tersebut merupakan laporan awal yang masih perlu dicermati bersama hasil evaluasi berikutnya.

NST juga menyebut Sumatera Selatan sebagai salah satu dari enam provinsi prioritas Indonesia dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Lima provinsi lainnya adalah Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Uji coba penggunaan dry ice direncanakan berlangsung hingga 18 Oktober 2026. Setelah itu, hasil pelaksanaan akan dievaluasi dan dibahas bersama pihak-pihak terkait untuk menentukan apakah teknik serupa dapat diterapkan di wilayah lain yang terdampak karhutla.

Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan penyemaian es kering sebagai bagian dari upaya modifikasi cuaca untuk membantu mengurangi kabut asap akibat karhutla di Sumatera Selatan.

Penerbangan pertama untuk penyemaian dry ice dilaksanakan pada Kamis (15/10/2026). Metode ini ditujukan untuk membantu mengatasi kondisi inversi atmosfer, yakni keadaan ketika lapisan udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin sehingga menghambat pergerakan udara secara vertikal.

Dalam kondisi tersebut, asap dapat terperangkap di dekat permukaan dan menumpuk di suatu wilayah. Akibatnya, konsentrasi polutan meningkat dan jarak pandang menurun.

Penyemaian dry ice diharapkan dapat membantu mengubah kondisi atmosfer sehingga asap yang terperangkap bisa bergerak naik dan menyebar. Dengan demikian, konsentrasi asap di dekat permukaan berpotensi berkurang dan jarak pandang dapat membaik.

Meski begitu, metode ini bukan berarti memadamkan sumber api secara langsung. Upaya tersebut lebih diarahkan untuk mengurangi dampak kabut asap, sementara penanganan titik api dan pencegahan kebakaran tetap diperlukan.

Penggunaan dry ice juga masih membutuhkan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana teknik tersebut efektif dalam kondisi cuaca dan atmosfer yang berbeda. Hasil uji coba akan menjadi pertimbangan penting sebelum metode ini diterapkan lebih luas.

Sorotan media internasional menunjukkan bahwa langkah Indonesia menarik perhatian di tengah persoalan kabut asap karhutla. Namun, efektivitas penggunaan es kering dalam jangka panjang masih perlu dibuktikan melalui hasil evaluasi, terutama untuk mengetahui apakah perbaikan kualitas udara dapat bertahan dan memberi manfaat bagi masyarakat di wilayah terdampak.