JATIMTIMES - Pernah memperhatikan seseorang yang hampir selalu melihat story WhatsApp atau Instagram, tetapi sangat jarang mengunggah foto, video, maupun aktivitas pribadinya? Orang seperti ini mungkin terlihat pendiam di media sosial. Namun, kebiasaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa mereka kurang bersosialisasi atau tidak tertarik dengan kehidupan orang lain.

Di tengah kebiasaan berbagi aktivitas di media sosial, ada orang yang lebih nyaman menjadi penonton daripada ikut meramaikan linimasa. Mereka tetap mengikuti kabar teman, keluarga, hingga perkembangan tren terbaru, tetapi tidak merasa perlu menceritakan kehidupannya sendiri kepada publik.

Dalam psikologi digital, perilaku mengamati konten tanpa banyak memberikan kontribusi atau mengunggah konten disebut lurking. Sementara itu, orang yang melakukannya dikenal sebagai lurker atau silent reader.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Pakar usability Jakob Nielsen memopulerkan prinsip participation inequality yang menggambarkan ketimpangan partisipasi di komunitas daring. Dalam pola 90-9-1, sekitar 90 persen pengguna cenderung hanya mengamati, 9 persen sesekali berkontribusi, dan 1 persen menjadi kontributor paling aktif.

Meski demikian, pola tersebut merupakan gambaran umum partisipasi komunitas daring, bukan angka pasti yang berlaku untuk semua platform media sosial.

Lantas, apa saja ciri orang yang rajin melihat story tetapi jarang posting menurut psikologi? Berikut sejumlah kecenderungan yang bisa membantu memahami perilaku mereka tanpa buru-buru memberikan label kepribadian.

Mengenal Silent Reader

Silent reader merupakan pengguna yang aktif mengonsumsi informasi, tetapi tidak banyak meninggalkan jejak berupa komentar, unggahan, atau reaksi publik.

Mereka bisa saja mengikuti aktivitas banyak orang, mengetahui kabar terbaru teman-temannya, dan menikmati berbagai konten setiap hari. Bedanya, mereka tidak merasa harus membagikan kehidupan pribadi sebagai balasan atas apa yang mereka lihat.

Perilaku tersebut juga tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang introver, antisosial, atau tidak percaya diri. Ada banyak alasan seseorang memilih jarang posting, mulai dari kebiasaan menggunakan media sosial, kebutuhan menjaga privasi, kesibukan, hingga sekadar tidak tertarik membuat konten.

Dilansir dari Global English Editing, orang yang lebih banyak mengamati daripada mengunggah konten kerap dikaitkan dengan kecenderungan tidak terlalu bergantung pada validasi sosial dan keinginan menjaga batasan pribadi.

Berikut delapan karakteristik yang mungkin ditemukan pada orang yang rajin melihat story, tetapi jarang memperbarui status atau mengunggah konten.

1. Tidak Terlalu Bergantung pada Validasi Orang Lain

Salah satu kemungkinan karakteristiknya adalah tidak menjadikan respons pengguna lain sebagai tolok ukur utama harga diri.

Bagi orang dengan kecenderungan ini, jumlah suka, komentar, dan tayangan bukan sesuatu yang harus selalu dikejar. Mereka tetap bisa menikmati media sosial tanpa merasa perlu menunjukkan keberadaan dirinya melalui unggahan baru.

Mereka mungkin memilih membagikan kabar kepada orang-orang terdekat daripada mengumumkannya kepada banyak pengikut.

Meski demikian, jarang posting tidak otomatis berarti seseorang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Ada pula orang yang sebenarnya ingin berbagi, tetapi merasa khawatir terhadap penilaian orang lain.

2. Cenderung Memikirkan Sesuatu Sebelum Bereaksi

Orang yang jarang memberikan komentar atau reaksi di media sosial bisa jadi lebih nyaman memproses informasi terlebih dahulu.

Ketika melihat kabar tertentu, mereka tidak selalu merasa perlu langsung memberikan pendapat. Mereka mungkin membaca, mempertimbangkan konteks, kemudian memutuskan apakah perlu menanggapi atau cukup menyimak.

Dalam ulasan mengenai perilaku pengguna media sosial yang dihimpun Metabolic, kecenderungan mengamati sebelum bereaksi dikaitkan dengan perilaku yang lebih reflektif.

Namun, sikap tersebut tidak bisa dijadikan bukti bahwa setiap orang yang jarang berkomentar pasti lebih bijaksana atau memiliki kemampuan berpikir lebih baik. Kebiasaan tidak bereaksi juga bisa disebabkan oleh kurangnya minat atau keterbatasan waktu.

3. Mempertimbangkan Cara Dirinya Dilihat Orang Lain

Sebagian pengguna media sosial cukup berhati-hati sebelum mengunggah sesuatu. Mereka memikirkan siapa yang akan melihat konten tersebut, bagaimana orang lain menafsirkannya, serta apakah unggahan itu sesuai dengan citra yang ingin ditampilkan.

Dalam psikologi, perilaku memantau dan menyesuaikan tindakan berdasarkan situasi sosial dikenal sebagai self-monitoring.

Orang dengan kecenderungan ini mungkin memilih tidak mengunggah sesuatu apabila merasa kontennya terlalu pribadi atau berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Akan tetapi, self-monitoring tidak selalu berkaitan dengan kebiasaan jarang posting. Seseorang yang sering mengunggah konten pun dapat memiliki kesadaran tinggi terhadap citra dirinya di hadapan publik.

4. Lebih Suka Mengamati daripada Menjadi Pusat Perhatian

Bagi sebagian orang, media sosial merupakan tempat mencari hiburan, mengikuti perkembangan informasi, dan mengetahui kabar orang-orang terdekat. Mereka tidak merasa harus menjadi pusat perhatian untuk menikmati platform tersebut.

Mereka bisa mengetahui aktivitas teman melalui story, mengikuti topik yang sedang ramai, atau menyimak pengalaman orang lain tanpa perlu membagikan cerita sendiri.

Kecenderungan ini terkadang diasosiasikan dengan introversi, terutama pada orang yang lebih nyaman mengamati sebelum terlibat dalam percakapan.

Meski begitu, introver dan ekstrover sama-sama bisa menjadi pengguna pasif. Kepribadian seseorang tidak dapat disimpulkan hanya dari seberapa sering ia mengunggah konten.

5. Memiliki Batasan Privasi di Media Sosial

Tidak semua hal dalam kehidupan perlu diketahui orang lain. Prinsip tersebut bisa menjadi salah satu alasan seseorang memilih jarang memperbarui status.

Mereka mungkin tetap aktif melihat story teman, tetapi tidak ingin membagikan kondisi keluarga, hubungan asmara, pekerjaan, atau aktivitas sehari-hari secara terbuka.

Bagi pengguna seperti ini, menjaga privasi merupakan cara untuk membatasi informasi pribadi yang tersebar di internet.

Mereka juga bisa merasa lebih nyaman ketika kehidupan di dunia nyata tidak terlalu bercampur dengan kehidupan di ruang digital.

Kebiasaan ini tidak berarti mereka tertutup dalam semua situasi. Seseorang yang jarang posting tetap bisa sangat terbuka ketika berbicara dengan keluarga atau sahabat yang dipercaya.

6. Lebih Tertarik Mencari Informasi daripada Mengumpulkan Like

Sebagian orang menggunakan media sosial terutama untuk memperoleh informasi, bukan untuk membangun popularitas.

Mereka membuka Instagram atau WhatsApp untuk mengetahui kabar terbaru, mencari inspirasi, mengikuti perkembangan hobi, atau menikmati konten yang sesuai dengan minatnya.

Karena tujuan utamanya adalah mendapatkan informasi, mereka tidak selalu merasa perlu membalas setiap konten dengan komentar maupun membuat unggahan sendiri.

Dalam konteks psikologi motivasi, perilaku ini dapat berkaitan dengan motivasi intrinsik, yaitu dorongan melakukan sesuatu karena aktivitas tersebut dianggap menarik atau bermanfaat bagi diri sendiri.

Sebaliknya, motivasi ekstrinsik dapat muncul ketika seseorang melakukan sesuatu demi memperoleh penghargaan dari luar, termasuk pengakuan sosial.

Namun, kedua jenis motivasi tersebut bisa hadir bersamaan. Orang yang rajin posting pun belum tentu hanya mengejar perhatian, karena mereka mungkin memang menikmati kegiatan berbagi cerita.

7. Lebih Nyaman Berkomunikasi secara Pribadi

Ada orang yang jarang memberikan reaksi di unggahan publik, tetapi cukup aktif mengirim pesan langsung kepada teman atau keluarga.

Mereka mungkin merasa percakapan pribadi lebih nyaman karena bisa membahas sesuatu secara lebih mendalam tanpa melibatkan banyak orang.

Misalnya, ketika melihat teman membagikan kabar bahagia melalui story, mereka memilih mengucapkan selamat lewat pesan pribadi. Ketika mengetahui seseorang sedang mengalami masalah, mereka juga lebih suka menanyakan kabar secara langsung.

Bagi mereka, kedekatan tidak selalu harus ditunjukkan melalui komentar atau tanda suka yang dapat dilihat pengguna lain.

Meski demikian, tidak semua silent reader memilih komunikasi pribadi. Ada juga yang hanya melihat story tanpa merasa perlu memberikan tanggapan apa pun.

8. Bisa Jadi Tetap Mendukung Orang Lain meski Jarang Berkomentar

Tidak munculnya komentar atau tanda suka bukan berarti seseorang tidak peduli terhadap orang yang diikutinya.

Sebagian pengguna memang lebih suka memberikan dukungan secara pribadi. Mereka mungkin mengikuti perkembangan teman, ikut merasa senang ketika orang terdekat mencapai sesuatu, atau merasa prihatin saat melihat kabar yang kurang menyenangkan.

Ada pula yang memilih diam karena tidak tahu harus memberikan respons seperti apa, meskipun sebenarnya memperhatikan.

Namun, penting untuk tidak berasumsi terlalu jauh. Melihat story saja belum cukup untuk membuktikan bahwa seseorang mendukung, menyukai, atau memiliki perhatian khusus kepada pemilik akun.

Cara paling tepat untuk mengetahui perasaan dan maksud seseorang tetap melalui komunikasi langsung, bukan hanya dari aktivitasnya di media sosial.

Apakah Orang yang Rajin Melihat Story tetapi Jarang Posting Termasuk Introver?

Belum tentu. Introversi merupakan salah satu dimensi kepribadian yang berkaitan dengan kecenderungan seseorang dalam merespons interaksi sosial dan memperoleh energi dari aktivitasnya.

Orang introver mungkin lebih nyaman menggunakan media sosial untuk mengamati daripada tampil. Namun, orang ekstrover pun bisa memilih jarang mengunggah konten karena sibuk, menjaga privasi, atau lebih menikmati interaksi secara langsung.

Demikian pula, seseorang yang jarang posting tidak otomatis memiliki tingkat kepercayaan diri lebih tinggi, lebih dewasa, atau lebih cerdas daripada orang yang aktif membagikan kehidupan pribadinya.

Kebiasaan menggunakan media sosial dipengaruhi banyak faktor, termasuk kebutuhan sosial, pengalaman pribadi, lingkungan pertemanan, serta tujuan menggunakan platform tersebut.

Karena itu, ciri-ciri di atas sebaiknya dipahami sebagai kemungkinan kecenderungan, bukan alat untuk mendiagnosis kepribadian seseorang.