JATIMTIMES - Kinerja ekspor Jawa Timur sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mengalami tekanan. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat nilai ekspor provinsi ini mencapai US$18,61 miliar, turun 4,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$19,57 miliar.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi melemahnya ekspor nonmigas dan migas. Ekspor nonmigas yang menjadi penopang utama perdagangan luar negeri Jawa Timur tercatat sebesar US$18,42 miliar, turun 4,07 persen dibandingkan Januari-Agustus 2025 yang mencapai US$19,20 miliar.

Sementara itu, ekspor migas mengalami penurunan lebih tajam, yakni 48,16 persen, dari US$371,22 juta menjadi US$192,71 juta. Salah satu penyebabnya adalah merosotnya ekspor minyak mentah sebesar 67,34 persen, dari US$334,65 juta menjadi US$109,28 juta.

Plt Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati mengatalan, penurunan ekspor secara kumulatif tersebut menunjukkan bahwa sejumlah komoditas andalan Jawa Timur menghadapi tekanan di pasar internasional.

“Nilai ekspor Jawa Timur selama Januari hingga Agustus 2026 mencapai US$18,61 miliar atau mengalami penurunan 4,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan melemahnya ekspor nonmigas dan migas,” katanya.

Penurunan juga terlihat pada kinerja ekspor bulanan. Pada Agustus 2026, nilai ekspor Jawa Timur tercatat sebesar US$2,53 miliar, turun 2,49 persen dibandingkan Agustus 2025. Adapun ekspor nonmigas pada bulan yang sama mencapai US$2,52 miliar atau terkoreksi 2,14 persen secara tahunan.

Ekspor Perhiasan dan Permata Anjlok

Dari berbagai komoditas ekspor nonmigas, perhiasan dan permata menjadi penyumbang penurunan terbesar. Nilai ekspor komoditas dengan kode HS 71 tersebut merosot 56 persen atau berkurang sekitar US$2,45 miliar dibandingkan periode Januari-Agustus 2025.

Nilai ekspor perhiasan dan permata pada Januari-Agustus 2026 tercatat sebesar US$1,93 miliar. Hong Kong menjadi salah satu tujuan utama dengan nilai ekspor mencapai US$483,68 juta, disusul Uni Emirat Arab sebesar US$468,02 juta.

Penurunan juga terjadi pada komoditas tembakau dan rokok. Nilai ekspornya turun 10,30 persen menjadi US$680,78 juta. Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar untuk komoditas tersebut dengan nilai US$168,41 juta, diikuti Thailand sebesar US$76,89 juta.

Meski sebagian komoditas mengalami pelemahan, beberapa produk justru mencatat pertumbuhan positif. Ekspor tembaga meningkat 53,99 persen menjadi US$2,57 miliar, atau bertambah sekitar US$901,64 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tiongkok dan Thailand menjadi pasar utama ekspor tembaga Jawa Timur, masing-masing dengan nilai US$741,45 juta dan US$637,20 juta.

Komoditas lemak dan minyak hewani maupun nabati juga tumbuh 23,89 persen menjadi US$1,91 miliar. Sementara itu, ekspor olahan ikan, krustasea, dan moluska meningkat 17,81 persen menjadi US$576,34 juta.

“Di tengah penurunan nilai ekspor secara keseluruhan, sejumlah komoditas masih mencatatkan pertumbuhan. Tembaga menjadi salah satu komoditas dengan peningkatan terbesar, diikuti lemak dan minyak hewani atau nabati serta produk olahan ikan,” imbuhnya.

Tiongkok Jadi Tujuan Ekspor Terbesar

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar ekspor nonmigas terbesar Jawa Timur. Sepanjang Januari-Agustus 2026, nilai ekspor ke negara tersebut mencapai US$3,24 miliar atau berkontribusi 17,61 persen terhadap total ekspor nonmigas.

Komoditas yang banyak dikirim ke Tiongkok meliputi lemak dan minyak hewani maupun nabati senilai US$864,14 juta, tembaga sebesar US$741,45 juta, berbagai produk kimia sebesar US$295,97 juta, serta bahan kimia organik senilai US$276,32 juta.

Amerika Serikat menempati posisi berikutnya dengan nilai ekspor mencapai US$2,76 miliar. Produk yang mendominasi pengiriman ke negara tersebut antara lain ikan, krustasea, dan moluska senilai US$344,30 juta, produk olahan hasil laut sebesar US$293,16 juta, serta perabotan, lampu, dan alat penerangan senilai US$269,95 juta.

Secara keseluruhan, nilai ekspor nonmigas Jawa Timur ke 13 negara, wilayah, atau entitas tertentu mencapai US$13,35 miliar. Nilai tersebut setara 72,48 persen dari total ekspor nonmigas dan meningkat 15,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan terutama ditopang oleh pertumbuhan ekspor ke Tiongkok sebesar 33,94 persen dan Hong Kong sebesar 108,91 persen.

Ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa Masih Tumbuh

Di tengah penurunan ekspor secara keseluruhan, pasar regional dan Eropa masih menunjukkan perkembangan positif. Nilai ekspor nonmigas Jawa Timur ke kawasan ASEAN selama Januari-Agustus 2026 mencapai US$4,06 miliar, meningkat 6,79 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. No

Ekspor ke ASEAN berkontribusi 22,03 persen terhadap total ekspor nonmigas Jawa Timur. Sementara itu, ekspor ke Uni Eropa mencapai US$1,23 miliar, naik 7,59 persen secara tahunan dengan kontribusi sebesar 6,67 persen.

Berdasarkan sektor, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nonmigas Jawa Timur. Nilai ekspor sektor ini mencapai US$17,60 miliar, tetapi turun 3,48 persen dibandingkan Januari-Agustus 2025. Sektor industri pengolahan menyumbang sekitar 94,60 persen dari total ekspor nonmigas.

Adapun ekspor sektor pertanian tercatat sebesar US$775,87 juta, turun 15,87 persen. Komoditas utamanya meliputi kopi, rempah-rempah, serta biji dan buah yang mengandung minyak.

Ekspor sektor pertambangan dan lainnya juga mengalami penurunan 3,24 persen menjadi US$36,87 juta. Komoditas dari sektor ini didominasi garam, belerang, batu, semen, serta bijih logam, terak, dan abu.