JATIMTIMES - Peta karbon monoksida (CO) dari NASA mendadak ramai dibahas di media sosial. Warna merah pekat yang terlihat di wilayah Indonesia membuat warganet khawatir, terlebih belakangan kondisi udara di sejumlah daerah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sedang jadi sorotan.

Musisi Iga Massardi ikut menyoroti peta tersebut lewat Threads. Ia mengaku mengecek data NASA secara langsung dan menyebut kondisi karbon monoksida di Indonesia sebagai yang terparah di dunia.

“Barusan ngecek sendiri. Saat ini karbon monoxida di Indonesia terparah di dunia. Dan kita semua terjebak di dalamnya. Menghirup racun setiap hari. SUDAH JELAS ini ulah siapa. Bangsat,” tulis Iga pada Kamis (15/10/2026).

Unggahan serupa bermunculan. Akun @/nomadfears mengingatkan bahaya karbon monoksida yang kerap dijuluki the silent killer karena tidak berwarna dan tidak berbau.

“not to scare anyone but the crazy thing right now is, indikator karbon monoksida dari NASA secara real-time kelihatan nyelimutin Indonesia, bahkan sampai meleber ke luar wilayah kita. and just for your information, karbon monoksida (CO) itu dijuluki ‘the silent killer’ for a reason. the international media really needs to look into this. this deserves to be a headline,” tulis akun tersebut.

Ada juga warganet yang menghubungkan peta itu dengan kondisi langit mendung di sejumlah daerah. Akun @girlyu**** menulis:

“Banyak liat utas, kok Jakarta mendung, kok disini mendung, ya ini lah penyebabnya. Asap karthula sudah merata seluruh Indonesia. RIP hati nurani para pejabat yg tonedeaf,” tulisnya.

Sementara akun @/dani_ismantoko melontarkan kritik terhadap kondisi lingkungan Indonesia. Ia menyoroti warna pada peta yang terlihat berbeda antara Indonesia dan wilayah di sekitarnya.

Namun, benarkah Indonesia sedang mengalami kadar karbon monoksida tertinggi di dunia?

Apakah warna pekat pada peta berarti seluruh masyarakat sedang menghirup udara beracun?

Jawabannya tidak bisa ditentukan hanya dari warna pada peta. Ada hal yang perlu dipahami sebelum menarik kesimpulan dari data satelit tersebut.

Peta yang ramai dibagikan itu bisa diakses melalui NASA Eyes on the Earth, menggunakan instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua.

Masyarakat bisa melihatnya melalui tautan berikut:

https://eyes.nasa.gov/apps/earth/#/vital-signs/carbon-monoxide/airs-infrared-18000ft-3day

Berdasarkan tangkapan layar pengamatan pada 12–14 Oktober 2026 yang menjadi bahan perbincangan, visualisasi tersebut menampilkan karbon monoksida pada level tekanan atmosfer tertentu, termasuk level 500 milibar (mb) atau 500 hPa. Ketinggian level ini umumnya berada sekitar 5–6 kilometer di atas permukaan laut, meski dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer.

Data pada NASA itu membantu ilmuwan melihat pergerakan gas di atmosfer, termasuk polutan dari kebakaran yang terbawa angin hingga ke wilayah jauh dari sumbernya. Karbon monoksida dapat bertahan di atmosfer selama beberapa minggu, bahkan sekitar satu bulan.

Di sinilah letak hal yang perlu diperhatikan. Data CO pada ketinggian beberapa kilometer tidak sama dengan kadar gas yang dihirup manusia di permukaan tanah.

Warna pekat pada peta juga perlu dibaca berdasarkan legenda dan skala pengukuran yang digunakan. Untuk mengetahui apakah udara di suatu daerah berbahaya bagi kesehatan, dibutuhkan data kualitas udara di dekat permukaan, bukan hanya gambaran sebaran gas di atmosfer.

Karena itu, peta tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki kadar CO tertinggi di dunia atau seluruh penduduknya sedang terpapar gas beracun dalam kadar berbahaya.

Mengapa Karbon Monoksida Berbahaya?

Karbon monoksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini terbentuk dari pembakaran tidak sempurna bahan yang mengandung karbon, seperti bensin, minyak tanah, gas, batu bara, dan kayu.

Bahaya CO muncul ketika gas tersebut masuk ke dalam tubuh dan berikatan dengan hemoglobin dalam darah. Ikatan ini membentuk karboksihemoglobin atau carboxyhemoglobin (COHb).

Hemoglobin seharusnya membawa oksigen ke seluruh tubuh. Namun, ketika karbon monoksida berikatan dengan hemoglobin, kemampuan darah mengangkut oksigen terganggu. Akibatnya, organ seperti otak dan jantung bisa kekurangan oksigen.

Risiko keracunan bergantung pada banyaknya gas yang terhirup dan lamanya seseorang terpapar. Konsentrasi tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius hingga kematian.

Paparan berbahaya kerap terjadi ketika gas terkumpul di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk, misalnya saat kebakaran atau ketika mesin berbahan bakar dinyalakan di tempat yang tidak memiliki sirkulasi udara memadai.

Penjelasan Dokter UGM soal Paparan Karbon Monoksida

Dokter spesialis paru di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta sekaligus dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, dr Ika Trisnawati, MSc, SpPD, K.P., pernah menjelaskan bahaya karbon monoksida bagi tubuh.

Dalam keterangan yang dipublikasikan UGM pada 29 Desember 2025, Ika menjelaskan CO dapat mengganggu sel hingga menyebabkan kerusakan organ. Risikonya semakin besar jika gas terkumpul di ruangan tertutup.

“Kalau dalam satu ruangan tertutup itu cuma berputar-putar di situ saja sehingga yang terhirup tentu saja konsentrasinya lebih besar dengan yang di udara terbuka,” ujarnya.

Penjelasan tersebut berkaitan dengan paparan gas dalam kebakaran di ruang tertutup. Kondisinya berbeda dengan peta CO di atmosfer yang menunjukkan sebaran gas pada ketinggian tertentu.

Meski begitu, karbon monoksida tetap tidak boleh dianggap sepele. Gas ini sulit dikenali tanpa alat pendeteksi, sementara paparan dalam jumlah besar bisa mengganggu pasokan oksigen ke organ tubuh.

Gejala Keracunan Karbon Monoksida

Dikutip dari Alodokter, gejala keracunan CO pada awalnya bisa menyerupai flu tanpa demam atau gangguan pencernaan. Karena gas ini tidak berbau dan tidak berwarna, orang yang terpapar bisa tidak menyadari bahayanya.

Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain:

• Sakit kepala dan pusing.

• Tubuh terasa lelah.

• Sesak napas.

• Mual dan muntah.

• Sakit perut.

• Kebingungan atau linglung.

Jika paparan berlanjut, gejala bisa semakin berat. Penderitanya dapat mengalami gangguan keseimbangan, nyeri dada, gangguan penglihatan, sulit berkonsentrasi, denyut jantung cepat, kejang, hingga pingsan.

Gejala tersebut tidak selalu muncul dengan urutan yang sama. Tingkat keparahannya bergantung pada konsentrasi gas dan lamanya paparan.

Jika beberapa orang di tempat yang sama mengalami sakit kepala, pusing, atau mual secara bersamaan, waspadai kemungkinan adanya paparan zat berbahaya. Segera menjauh dari sumber yang dicurigai dan cari pertolongan medis.

Siapa yang Berisiko Mengalami Keracunan?

Semua orang bisa mengalami keracunan karbon monoksida. Namun, bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, perokok, serta orang dengan penyakit jantung atau gangguan pernapasan berisiko mengalami dampak yang lebih berat.

Kekurangan oksigen dapat mengganggu fungsi otak dan jantung. Pada kasus berat, keracunan CO bisa menyebabkan kerusakan organ, bahkan kematian.

Ibu hamil juga perlu mewaspadai paparan gas ini karena dapat mengganggu suplai oksigen kepada janin. Dampaknya bergantung pada tingkat paparan dan bisa berupa gangguan pertumbuhan hingga kematian janin.

Sebagian orang yang selamat dari keracunan berat juga dapat mengalami masalah jangka panjang, seperti gangguan daya ingat, konsentrasi, penglihatan, atau pendengaran.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terpapar?

Jika dicurigai terpapar karbon monoksida, segera menjauh dari sumber gas dan cari udara bersih. Jangan kembali ke tempat yang dicurigai mengandung CO sebelum dinyatakan aman.

Jika ada orang yang mengalami sesak napas, nyeri dada, kebingungan, kejang, atau penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis darurat. Jangan masuk ke ruangan yang dicurigai mengandung gas beracun tanpa perlindungan yang sesuai karena penolong juga bisa ikut terpapar.

Risiko keracunan di rumah dapat dikurangi dengan memastikan peralatan berbahan bakar terpasang dengan benar, menjaga ventilasi, serta tidak menyalakan mesin mobil atau generator di ruang tertutup. Detektor karbon monoksida juga dapat membantu mendeteksi keberadaan gas di dalam ruangan.