JATIMTIMES - Tingkat kemiskinan ekstrem di Provinsi Jawa Timur (Jatim) pada periode Maret 2026 kian melandai dan nyaris tuntas di angka 0,29 persen, diiringi pencapaian gemilang sektor pertanian yang memantapkan Jatim sebagai lumbung pangan nasional.
Demikian diungkapkan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam Rapat Paripurna Istimewa Peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jatim di Gedung DPRD Jatim, Surabaya, Senin (12/10/2026). Sidang istimewa yang turut dihadiri Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman beserta jajaran Forkopimda Plus tersebut mengusung tema “Jawa Timur Unggul, Maju Berkelanjutan”.
Dalam pidatonya, Khofifah memaparkan bahwa keberhasilan penanggulangan kemiskinan ekstrem tersebut tidak terlepas dari penguatan peran desa sebagai episentrum ekonomi kerakyatan. Saat ini, Jatim mencatatkan 4.716 desa mandiri melalui optimalisasi BUMDes dan perluasan desa wisata.
“Seluruh orkestrasi pembangunan ini kita jadikan desa sebagai episentrumnya, karena pada dasarnya sektor pertanian banyak di desa. Potensi lokal terbukti mampu berbicara di panggung global berkat kerja keras sinergis antara pemerintah pusat, pemprov, kabupaten/kota, hingga tingkat desa,” ujar Khofifah.
Di bidang pertanian, Khofifah menegaskan kemantapan posisi strategis Jatim sebagai penjaga kedaulatan pangan nasional. Sepanjang tahun 2025, produksi padi Jatim mencapai lebih dari 10,4 juta ton gabah kering giling (GKG). Tren positif tersebut berlanjut pada 2026, di mana proyeksi produksi hingga November mencapai 10,24 juta ton GKG atau tumbuh 2,84 persen.
“Jawa Timur sudah masuk pada kedaulatan pangan, sekaligus konsisten meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan melalui penguatan Jatim Agro Hub, irigasi, hilirisasi, korporasi pertanian, dan regenerasi petani,” tegasnya.
Selain sektor pangan dan pengentasan kemiskinan, capaian positif juga dicatatkan pada sektor ketenagakerjaan, di mana tingkat pengangguran terbuka (TPT) Jatim berhasil ditekan hingga angka 3,42 persen pada Mei 2026. Resiliensi ekonomi ini turut ditopang oleh kualitas pendidikan vokasi berstandar global, di mana sebanyak 4.915 lulusan SMK di Jatim telah diserap bekerja dan magang di 13 negara.
Konektivitas wilayah turut diperkuat melalui program Jatim Akses. Transportasi massal Trans Jatim kini telah mengoperasikan 8 koridor yang melayani wilayah Gerbangkertasusila dan Malang Raya dengan total akumulasi penumpang mendekati 23 juta jiwa serta tingkat okupansi mencapai 103 persen.
Infrastruktur strategis seperti ruas jalan Pansela di Tulungagung sepanjang 51,56 km dan tol Gending–Paiton sepanjang 24 km juga telah resmi dibuka guna memperlancar arus logistik daerah.
Sementara itu, pada sektor pendidikan dan kesehatan, lulusan SMA, SMK, dan Aliyah di Jatim sukses mencatatkan rekor 7 tahun berturut-turut diterima terbanyak di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia. Adapun cakupan jaminan kesehatan semesta (Universal Health Coverage) telah melindungi 96,12 persen warga Jatim per September 2026, dengan usia harapan hidup menembus 75,36 tahun.
Menutup pidatonya, Gubernur Khofifah menekankan bahwa seluruh capaian dalam bingkai Nawa Bakti Satya ini merupakan hasil kerja kolektif lintas elemen yang harus terus dikawal melalui sinergi konstruktif bersama legislatif.
“Falsafah jer basuki mawa beya mengingatkan kita bahwa keberhasilan memerlukan kesungguhan, kerja keras, dan pengorbanan. Nilai tersebut menjadi pegangan dalam menjalankan amanat rakyat untuk menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Jawa Timur,” pungkasnya.



