JATIMTIMES - Polemik rencana operasional Trans Jatim Koridor 2 di Kota Malang belum menemukan titik akhir. Pemkot Malang memilih mempertemukan kembali kepentingan program transportasi tersebut dengan nasib sopir angkot yang berpotensi terdampak.

Pj Sekda Kota Malang Dandung Djulharjanto mengatakan, pertemuan bersama perwakilan sopir angkot dan sejumlah elemen menghasilkan enam poin kesepakatan.

Langkah pertama yang akan dilakukan yakni klarifikasi dan verifikasi terhadap 494 pengemudi angkot yang disebut terdampak keberadaan Trans Jatim Koridor 2.

"Yang pertama nanti akan dilakukan klarifikasi dan verifikasi terhadap 494 pengemudi yang terdampak," kata Dandung.

Pemkot juga membuka skema keterlibatan bagi pengemudi yang terdampak dalam program Trans Jatim. Mekanisme tersebut nantinya akan dibahas lebih teknis agar bentuk keterlibatan pengemudi dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Sementara itu, pengemudi yang tidak terdampak juga masuk dalam pembahasan. Namun, Dandung menegaskan kompensasi yang disiapkan tidak diberikan dalam bentuk uang tunai.

"Pemberian kompensasi kepada pengemudi tidak terdampak dan tidak dalam bentuk uang tunai. Bukan dalam bentuk uang tunai, tapi dalam bentuk program untuk keberlanjutannya," jelasnya.

Persoalan pengemudi terdampak selanjutnya akan dibawa ke pembahasan teknis secara terbatas. Pemkot akan melibatkan perwakilan dari jalur-jalur angkot yang terdampak untuk mencari skema penyelesaian.

Menurut Dandung, pembahasan terbatas diperlukan agar persoalan dapat diurai lebih teknis dan solusi yang dihasilkan bisa segera diterapkan. Perwakilan masing-masing jalur nantinya menjadi bagian dari forum tersebut.

Di sisi lain, operasional Trans Jatim Koridor 2 belum langsung dijalankan sebelum persoalan yang berpotensi muncul dievaluasi. Pemkot ingin memastikan solusi terhadap dampak yang muncul telah dibahas terlebih dahulu.

Meski demikian, Dandung menegaskan proses menuju operasional Koridor 2 tidak dihentikan. Pemkot akan menjalankan pembahasan mengenai dampak terhadap sopir angkot secara paralel dengan proses persiapan Trans Jatim Koridor 2.

"Bukan pending. Tetap berproses semuanya. Kalau pending kan stagnan. Tetap berproses sambil ini berjalan juga mencari solusinya, jadi paralel," tegas Dandung.