JATIMTIMES - Rumah terasa lebih panas saat siang hari ternyata tidak selalu disebabkan oleh suhu udara di luar. Kondisi bangunan, sirkulasi udara hingga paparan sinar matahari juga bisa membuat panas lebih mudah masuk dan bertahan di dalam rumah.
Kondisi tersebut biasanya semakin terasa ketika musim kemarau. Cuaca yang cenderung lebih kering dan minim tutupan awan membuat sinar matahari lebih leluasa mencapai permukaan bumi. Akibatnya, pemanasan permukaan dapat berlangsung lebih intensif dan suhu siang hari terasa semakin menyengat.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam sejumlah prakiraan cuacanya menjelaskan bahwa kondisi kering dan minimnya tutupan awan dapat mendukung pemanasan permukaan yang lebih intensif sehingga suhu maksimum meningkat.
Lantas, apa saja yang bisa membuat rumah terasa lebih panas saat siang hari? Berikut enam penyebab yang perlu diperhatikan.
1. Atap Rumah Langsung Terkena Sinar Matahari
Atap menjadi salah satu bagian rumah yang paling banyak menerima paparan sinar matahari. Ketika matahari bersinar terik selama musim kemarau, permukaan atap dapat menyerap panas dan meneruskannya ke bagian bawah.
Jika plafon tidak memiliki perlindungan atau insulasi yang cukup, panas dari atap akan lebih mudah terasa di dalam kamar maupun ruang keluarga.
Solusi: periksa kondisi atap dan plafon rumah. Jika memungkinkan, tambahkan material insulasi panas untuk membantu mengurangi perpindahan panas dari atap ke dalam ruangan.
2. Warna Atap Terlalu Gelap
Warna permukaan bangunan juga dapat memengaruhi penyerapan panas. Permukaan berwarna gelap cenderung menyerap lebih banyak radiasi matahari dibandingkan permukaan yang lebih terang.
Rumah dengan atap berwarna gelap yang terus terkena sinar matahari sepanjang siang dapat terasa lebih panas, terutama ketika cuaca sedang terik.
Solusi: saat melakukan pengecatan atau renovasi atap, warna yang lebih terang dapat dipertimbangkan karena cenderung memantulkan lebih banyak radiasi matahari.
3. Ventilasi Udara Kurang Baik
Ventilasi berfungsi membantu pertukaran udara di dalam rumah. Jika ventilasi tidak memadai, udara panas dapat terperangkap lebih lama sehingga ruangan terasa pengap.
Masalah ini biasanya semakin terasa ketika pintu dan jendela tertutup dalam waktu lama saat cuaca sedang panas.
Solusi: buka jendela pada waktu yang tepat agar terjadi pertukaran udara. Jika diperlukan, ventilasi tambahan atau exhaust fan dapat digunakan untuk membantu mengeluarkan udara panas dari ruangan.
4. Jendela Menerima Sinar Matahari Langsung
Jendela, terutama yang memiliki kaca berukuran besar, dapat menjadi salah satu jalur masuk panas ke dalam rumah.
Paparan sinar matahari selama berjam-jam dapat meningkatkan suhu ruangan. Kondisi tersebut biasanya lebih terasa pada ruangan yang menghadap langsung ke arah datangnya matahari.
Solusi: gunakan tirai atau gorden ketika matahari sedang terik. Kanopi atau peneduh di bagian luar jendela juga dapat membantu mengurangi paparan sinar matahari sebelum masuk ke dalam rumah.
5. Minim Tanaman atau Pepohonan di Sekitar Rumah
Pepohonan dapat memberikan bayangan pada halaman, dinding maupun bagian rumah yang terkena sinar matahari.
Sebaliknya, rumah yang berada di area minim pepohonan akan menerima paparan matahari secara lebih langsung. Kondisi tersebut dapat terasa semakin menyengat selama musim kemarau.
Solusi: tambahkan tanaman atau pohon yang sesuai dengan luas halaman. Selain memberikan keteduhan, keberadaan tanaman juga dapat membuat lingkungan sekitar rumah terasa lebih nyaman.
Namun, penempatannya tetap perlu diperhatikan agar tidak menghalangi ventilasi atau mengganggu struktur bangunan.
6. Dinding Rumah Menyerap Panas
Bukan hanya atap, dinding yang terkena sinar matahari secara langsung juga dapat menyerap panas. Panas tersebut kemudian dapat dilepaskan kembali sehingga ruangan di dalam rumah tetap terasa gerah.
Akibatnya, beberapa ruangan bahkan masih terasa panas ketika intensitas sinar matahari mulai menurun pada sore hari.
Solusi: berikan pelindung pada dinding yang paling sering terkena matahari, misalnya melalui kanopi atau tanaman. Ketika mengecat ulang rumah, warna eksterior yang lebih terang juga dapat menjadi pilihan.
Rumah Panas Saat Kemarau Tidak Selalu Karena Suhu Udara
Rumah yang terasa panas pada siang hari memang bisa semakin terasa ketika musim kemarau. BMKG menjelaskan bahwa atmosfer yang kering dan berkurangnya tutupan awan dapat membuat pemanasan permukaan berlangsung lebih intensif.
Pada kondisi tersebut, sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi dengan lebih leluasa. Akibatnya, suhu udara pada siang hari di sejumlah wilayah dapat terasa lebih panas.
Namun, kondisi bangunan juga ikut menentukan seberapa panas ruangan terasa. Atap yang mudah menyerap panas, ventilasi yang kurang baik, jendela tanpa peneduh, serta minimnya pepohonan dapat membuat panas lebih mudah masuk dan bertahan di dalam rumah.
Karena itu, jika rumah terasa lebih panas dari biasanya saat musim kemarau, tidak ada salahnya memeriksa beberapa bagian tersebut. Perbaikan sederhana seperti menambah peneduh, memperbaiki sirkulasi udara, menanam pohon hingga memperhatikan kondisi atap dan dinding dapat membantu membuat rumah lebih nyaman.



