JATIMTIMES - Persaingan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 semakin ketat. Pada bidang Matematika, Sains, dan Teknologi (MST) tingkat SMA, hanya enam medali yang diperebutkan 29 tim finalis dari berbagai daerah di Indonesia.
Komposisinya, dua medali emas, dua perak, dan dua perunggu. Artinya, sebagian besar finalis harus pulang tanpa medali meski sebelumnya telah melewati rangkaian seleksi nasional.
Di tengah persaingan tersebut, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Malang berhasil mengamankan satu medali perak sekaligus menempatkan satu tim lainnya sebagai finalis nasional. Capaian itu diraih setelah para siswa melewati proses seleksi yang diikuti puluhan ribu peserta.

Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat jumlah peserta OPSI 2026 mencapai 39.300 murid. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 26.723 peserta.
Dari jumlah peserta tersebut, sebanyak 125 tim atau 250 murid dari 24 provinsi dan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) berhasil mencapai final nasional yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Medali perak untuk MAN 2 Kota Malang diraih Liyana Rofiatur Rahmah Pratama dari XII-A dan Firda Anisa Qonita dari XII-K. Keduanya membawa penelitian yang memadukan bioteknologi, farmasi, dan onkologi.
Penelitian tersebut berjudul “Targeted Folic Acid-Chitosan Mucoadhesive SNEDDS Ekstrak Ageratum conyzoides untuk Modulasi CD8+, HIF-1a, dan Caspase-3 pada Kanker Serviks: Perbandingan Rute Oral dan Intravaginal”.
Pembina riset MAN 2 Kota Malang, Mas Adam Lukman Chaubah, S.Si., Ph.D.Med.Sc., menyebut capaian tersebut lahir dari proses panjang yang dijalani para siswa.
"Perak adalah buah dari ketekunan, diskusi panjang, dan keberanian anak-anak mengeksplorasi gagasan yang kompleks," ujarnya.
Selain tim peraih medali, MAN 2 Kota Malang juga mengirimkan Ngilma Tsuraya dari XI-A dan Aisha Zahra Ramadhani dari XI-H hingga babak final nasional.
Keduanya mengembangkan penelitian berjudul “Potensi Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica) sebagai Green Neurotherapeutic Alzheimer”.
Penelitian tersebut belum berbuah medali, namun keberhasilan mencapai final nasional menempatkan karya mereka dalam jajaran penelitian siswa yang lolos dari seleksi berskala nasional.
Tim tersebut didampingi Tsaniyah Nur Kholilah, S.Pd., M.Si. dan Wila Azaria, S.Si.
Capaian di OPSI 2026 juga berkaitan dengan peluang pendidikan lanjutan yang disiapkan pemerintah untuk siswa berprestasi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyampaikan bahwa prestasi di OPSI dapat menjadi bagian dari perjalanan akademik peserta setelah menyelesaikan pendidikan menengah.
Melalui kerja sama Kemendikdasmen, Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), LPDP, dan BRIN, para peraih prestasi berkesempatan mengakses Beasiswa Talenta Indonesia untuk jenjang S1/D4, baik di dalam maupun luar negeri.
Selain itu, terdapat peluang akses melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) serta jalur prestasi mandiri di sejumlah perguruan tinggi negeri.
"Medali bukan akhir perjalanan. Prestasi hari ini adalah pintu masuk menuju kesempatan berikutnya untuk belajar lebih jauh, memperoleh pengalaman baru, dan membawa nama Indonesia ke panggung internasional," kata Abdul Mu'ti saat membuka OPSI 2026.
Capaian tahun ini sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap pola pembinaan riset. Kepala MAN 2 Kota Malang, Dr. Samsudin, M.Pd., menilai hasil tersebut menunjukkan proses pembinaan yang selama ini berjalan tetap menghasilkan capaian di tingkat nasional.
"Kami bersyukur dan bangga. Ini menunjukkan bahwa konsistensi MAN 2 Kota Malang dalam menumbuhkembangkan potensi siswa di bidang riset terus membuahkan hasil," katanya.
Pihak madrasah, lanjutnya, akan terus memberikan dukungan terhadap proses pengembangan riset siswa dan pendampingan para pembina.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MAN 2 Kota Malang, Alif Rifa’i, S.S., menilai keberhasilan mencapai final nasional dalam kompetisi dengan jumlah peserta yang sangat besar bukan proses sederhana.
"Alhamdulillah, murid MAN 2 Kota Malang bisa menembus seleksi belasan ribu karya ilmiah dan dapat meraih medali lagi. Ini bukan hal yang mudah," ujarnya.
Ia berharap capaian tersebut mendorong semakin banyak siswa untuk berani mengembangkan penelitian.
Sementara itu, Koordinator Pengembangan Prestasi Bidang Akademik, Dra. Wulaida Zuhriyana, melihat perubahan pola kompetisi tahun ini sebagai bagian dari proses panjang pembinaan siswa.
"Walaupun berbeda dari tahun sebelumnya, kami tetap semangat agar selalu istikamah untuk menumbuhkembangkan potensi anak serta meraih medali," tuturnya.
Perubahan jumlah medali yang tersedia juga menjadi perhatian tim riset MAN 2 Kota Malang. Koordinator Riset MAN 2 Kota Malang, M. Ronaldi Adji Saputra, M.Pd., mengatakan kondisi tersebut membuat madrasah perlu menyesuaikan strategi pembinaan.
"Tahun ini memang cukup selektif dan berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya jumlah perolehan medali yang disediakan masih banyak, sehingga masih bisa mengejar," katanya.
"Untuk tahun ini cukup terbatas, sehingga menjadi evaluasi kami untuk menumbuhkan kembali potensi siswa di bidang riset," lanjutnya.
Pembina riset M. Yosi Pratikno, S.Mat., menilai evaluasi tersebut perlu dimulai dari proses pembinaan, bukan hanya ketika kompetisi sudah mendekati pelaksanaan.
"Seleksi yang ketat ini menjadi cambuk bagi kami. Pembinaan riset harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya menjelang kompetisi," ujarnya.
"Kami akan terus mendampingi anak-anak agar potensi mereka tumbuh optimal," sambungnya.



