JATIMTIMES - Perubahan dan rekayasa lalu lintas di kawasan pasar Tanjung, terutama di jalan Samanhudi Jember, yang diberlakukan mulai Senin Senin 28 September 2026, mendapat tanggapan pro kontra dari sejumlah pihak.
Menyikapi adanya pro kontra perubahan lalu lintas di jalan Samanhudi ini, mendapat tanggapan dari Bupati Jember Muhammad Fawait, dimana perubahan arus lalu lintas, bukan inisiatif dari ekskutif, dalam halaman hal ini Pemkab Jember.
Tapi perubahan arus lalu lintas yang rencananya di uji cobakan selama satu bulan ini, merupakan aspirasi dari pedagang, baik yang didalam pasar, maupun pedagang yang jualan di jalan, termasuk mahasiswa yang melakukan aksi beberapa waktu lalu.
"Terkait adanya pro kontra perubahan arus lalu lintas di pasar Tanjung, kami pastikan, bahwa kami menjalankan aspirasi pedagang baik yang jualan didalam pasar maupun dipinggir jalan, dan yang disampaikan mahasiswa beberapa waktu lalu, dan ini bukan inisiatif dari pemkab, tapi memang keinginan pedagang dan kami penuhi aspirasinya," ujar Bupati Jember.
Bupati juga menyatakan, bahwa adanya pro kontra di masyarakat, itu bagian dari dinamika demokrasi, namun pihaknya mengapresiasi terhadap pedagang, yang sudah mau duduk bersama untuk menyelesaikan segala persoalan di pasar tanjung.
"Bagaimanapun juga, kami mengapresiasi kepada pedagang pasar tanjung, baik yang jualan didalam pasar maupun yang jualan di pinggir jalan, mereka semua mau duduk bersama untuk menyelesaikan permasalahan pasar tanjung," jelasnya.
Termasuk soal rencana revitalisasi pasar tanjung yang direncanakan akan dilakukan pada tahun 2027 mendatang. "Termasuk rencana revitalisasi pasar, kami juga mendengarkan apa yang disampaikan oleh pedagang," jelas Bupati.
Di tempat lain, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Jember Gatot Triyono, kepada wartawan menyatakan, bahwa rekayasa lalu lintas yang diberlakukanulai Senin 28 September 2026, akan dilakukan evaluasi seminggu sekali, termasuk dampak yang ditimbulkan.
"Rekayasa lalu lintas di jalan Samanhudi dimana, jalur sebelumnya dari jalan Sultan Agung ke selatanenuju jalan Trunojoyo, mulai hari ini dirubah sebaliknya, dan rekayasa ini diuji coba selama satu bulan, dengan melakukan evaluasi seminggu sekali," ujar Gatot.
Sementara dari pantuan di lapangan, rekayasa lalu lintas di hari pertama, tidak banyak menimbulkan dampak signifikan, kalaupun ada kemacetan seperti di jalan Ahmad Yani dan jalan Trunojoyo, hal ini masih dimaklumi, terutama terjadinya kemacetan berlangsung pada jam-jam tertentu, saat jam sibuk, seperti pagi, siang dan sore hari.



