JATIMTIMES - Warga Malang Raya masih perlu bersiap menghadapi cuaca terik dan minim hujan dalam beberapa pekan ke depan. BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur memperkirakan curah hujan di wilayah Malang Raya masih berada pada kategori rendah hingga pertengahan Oktober 2026, seiring pengaruh fenomena El Nino yang diprediksi berlanjut hingga awal 2027.

Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Retno Wulandari, menjelaskan bahwa potensi hujan di Malang Raya pada akhir September hingga Oktober masih terbatas. Jika hujan turun, intensitasnya diperkirakan belum signifikan.

“Untuk wilayah Malang, potensi hujan pada akhir September hingga Oktober masih rendah. Kalaupun terjadi hujan, secara umum curah hujannya diperkirakan kurang dari 20 milimeter,” kata Retno.

Kondisi tersebut tergambar dalam prakiraan curah hujan BMKG untuk periode Dasarian III September hingga Dasarian II Oktober 2026. Sebagian besar wilayah Malang Raya dipetakan dalam kategori curah hujan 0-10 milimeter hingga 11-20 milimeter.

Rendahnya potensi hujan ini turut berkaitan dengan dinamika iklim global yang memengaruhi kondisi atmosfer di Indonesia. BMKG mencatat fenomena El Nino pada tahun ini masih menunjukkan penguatan dan diprediksi bertahan hingga awal 2027.

Retno menyebut, perkembangan El Nino menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memantau kondisi cuaca di wilayah Jawa Timur, termasuk Malang Raya.

“Pemantauan terbaru menunjukkan El Nino masih berpotensi berlangsung hingga awal 2027. Saat ini, fenomenanya juga menunjukkan penguatan sehingga perkembangan kondisi atmosfer perlu terus dicermati,” terangnya.

Meski demikian, kondisi minim hujan tersebut diperkirakan mulai mengalami perubahan menjelang akhir Oktober. Pada prakiraan Dasarian III Oktober 2026, sejumlah wilayah Malang mulai menunjukkan peningkatan curah hujan ke kisaran 21-50 milimeter.

Namun, peningkatan tersebut belum bisa diartikan sebagai awal musim hujan dengan intensitas tinggi di seluruh wilayah Malang Raya. Sebab, distribusi hujan dapat berbeda antardaerah dan masih dipengaruhi perkembangan dinamika atmosfer.

“Mulai ada perubahan pada prakiraan akhir Oktober, dengan potensi curah hujan 21–50 milimeter di sejumlah wilayah. Namun, bukan berarti seluruh Malang Raya langsung memasuki musim hujan dengan intensitas tinggi,” imbuh Retno.

Kondisi ini membuat masyarakat perlu mengantisipasi dampak kekeringan, terutama terkait ketersediaan air bersih dan meningkatnya risiko kebakaran di lahan kering.

Di tengah minimnya hujan, penggunaan air secara bijak menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bagi kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan terbuka yang berpotensi memicu kebakaran.

Retno mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG. Langkah tersebut diperlukan agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca yang berkembang.

“Kami mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak selama periode minim hujan. Tetap ikuti informasi dan perkembangan prakiraan cuaca dari kanal resmi BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca,” jelasnya.

Dengan potensi hujan yang masih terbatas hingga Oktober, kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran lahan di Malang Raya perlu tetap ditingkatkan, sembari menunggu perkembangan prakiraan cuaca berikutnya dari BMKG.