JATIMTIMES - Hubungan Indonesia dan Arab Saudi tidak hanya memiliki ruang di ranah diplomasi pemerintahan dan ekonomi. Perguruan tinggi juga mulai mengambil posisi lebih strategis melalui kerja sama pengetahuan, riset, inovasi hingga mobilitas akademik.

Ruang tersebut menjadi perhatian Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang ketika Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga, Prof. Dr. H.M. Abdul Hamid, MA, menghadiri peringatan National Day Kerajaan Arab Saudi di The Raffles Hotel Jakarta, 23 September 2026.

Kehadiran UIN Maliki Malang dalam agenda tersebut tidak berhenti pada hubungan seremonial. Pertemuan dengan unsur diplomatik, pemerintahan, dunia usaha, akademisi dan berbagai mitra strategis menjadi bagian dari upaya memperluas koneksi internasional yang dapat diarahkan pada kerja sama akademik yang lebih konkret.

1

Prof. Abdul Hamid melihat hubungan Indonesia dan Arab Saudi memiliki modal historis dan kultural yang kuat. Modal tersebut, menurut dia, perlu diterjemahkan ke dalam bentuk kemitraan yang menyentuh kebutuhan perguruan tinggi dan pembangunan sumber daya manusia.

“Hubungan Indonesia dan Arab Saudi memiliki modal sejarah dan kebudayaan yang sangat kuat,” ujar Prof. Abdul Hamid.

Menurutnya, hubungan tersebut memiliki peluang untuk bergerak lebih jauh melalui pendidikan tinggi, penelitian, inovasi dan pengembangan sumber daya manusia. Pertukaran akademik juga menjadi salah satu ruang yang dapat mempertemukan kepentingan kedua negara.

“Bagaimana modal tersebut kita transformasikan menjadi kerja sama akademik, riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia yang memberikan manfaat nyata bagi kedua bangsa,” lanjutnya.

Posisi perguruan tinggi dalam hubungan antarnegara dinilai semakin penting karena hubungan akademik dapat dibangun melalui jalur yang berbeda dari diplomasi pemerintahan. Ilmu pengetahuan, penelitian bersama, pertukaran intelektual hingga mobilitas mahasiswa dan dosen dapat menjadi penghubung yang lebih panjang dalam membangun relasi antarmasyarakat.

2

Perubahan lanskap pendidikan tinggi global juga membuat jejaring internasional tidak lagi cukup dibangun melalui penandatanganan kerja sama. Perguruan tinggi dituntut memiliki aktivitas akademik lintas negara yang menghasilkan pertukaran pengetahuan dan keluaran yang dapat diukur.

Kerja sama riset, publikasi bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, joint program serta pengembangan inovasi menjadi sejumlah bentuk kemitraan yang dapat memperkuat posisi perguruan tinggi dalam ekosistem akademik internasional.

Arab Saudi kemudian menjadi salah satu ruang yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Transformasi yang berlangsung di negara tersebut, termasuk pada sektor pendidikan, teknologi, ekonomi dan pengembangan sumber daya manusia, membuka peluang pertemuan kepentingan dengan perguruan tinggi Indonesia.

UIN Maliki Malang memiliki karakter yang dapat ditempatkan dalam ruang tersebut. Sebagai perguruan tinggi Islam, kampus ini mengembangkan integrasi keilmuan agama dengan ilmu pengetahuan modern. Posisi tersebut membuka ruang kolaborasi yang tidak hanya berkaitan dengan kajian keislaman, tetapi juga penelitian, inovasi dan pengembangan sumber daya manusia.

Prof. Abdul Hamid menekankan bahwa internasionalisasi kampus harus diukur dari substansi yang lahir setelah hubungan kelembagaan dibangun.

“Internasionalisasi bukan hanya tentang seberapa banyak kerja sama yang kita tandatangani,” katanya.

Ukuran yang lebih penting, lanjut dia, terletak pada pengetahuan, inovasi dan manfaat yang dapat dihasilkan melalui kemitraan tersebut.

“Partnership harus bergerak dari seremoni menuju kolaborasi yang terukur dan berkelanjutan,” tegas Prof. Abdul Hamid.

Dalam konteks itu, lanjut Prof Hamid, forum seperti National Day Arab Saudi juga dapat menjadi ruang awal untuk mempertemukan perguruan tinggi dengan calon mitra. Interaksi yang terbentuk dalam jejaring diplomatik dan internasional dapat berkembang menjadi pembicaraan akademik yang lebih spesifik ketika terdapat kesamaan kebutuhan dan visi.

Peluang kerja sama tersebut juga tidak terbatas pada hubungan institusi pendidikan. Isu transformasi digital, kecerdasan artifisial, keberlanjutan lingkungan, ekonomi berbasis pengetahuan, moderasi beragama dan perdamaian menjadi sejumlah bidang yang dapat mempertemukan kepentingan akademik Indonesia dan Arab Saudi.

Ruang kolaborasi semacam itu menempatkan hubungan Indonesia-Arab Saudi tidak hanya sebagai hubungan antarnegara, tetapi juga sebagai hubungan antarkomunitas pengetahuan yang dapat melibatkan mahasiswa, dosen, peneliti dan institusi pendidikan tinggi.