JATIMTIMES - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap skenario terburuk yang dapat terjadi apabila gempa besar bersumber dari segmen megathrust Aceh-Andaman. Segmen tersebut memiliki potensi magnitudo maksimum hingga M9,2 dan dapat memicu tsunami dengan ketinggian signifikan di sejumlah wilayah pesisir.
Indonesia sendiri berada di kawasan tektonik aktif yang memiliki sejumlah zona subduksi. Salah satunya adalah zona megathrust, yakni wilayah pertemuan lempeng tektonik yang dapat menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan sangat besar.
Megathrust terbentuk ketika dua lempeng tektonik bertemu dan mengalami gesekan pada zona subduksi yang relatif dangkal. Jika energi yang tersimpan dilepaskan, bidang patahan yang luas dapat bergerak dan menghasilkan gempa kuat.
14 Segmen Megathrust di Indonesia
BMKG mencatat terdapat sejumlah segmen megathrust yang memiliki potensi menghasilkan gempa dengan magnitudo maksimum tinggi. Wilayah tersebut tersebar dari bagian barat Indonesia hingga kawasan timur dan sekitar Filipina.
Berikut daftar segmen megathrust beserta potensi magnitudo maksimumnya:
• Aceh-Andaman: M9,2
• Nias-Simeulue: M8,7
• Batu: M7,8
• Mentawai-Siberut: M8,9
• Mentawai-Pagai: M8,9
• Enggano: M8,9
• Jawa: M9,1
• Jawa bagian barat: M8,9
• Jawa bagian timur: M8,9
• Sumba: M8,9
• Sulawesi Utara: M8,5
• Palung Cotabato: M8,3
• Filipina Selatan: M8,2
• Filipina Tengah: M8,1
Besarnya angka magnitudo tersebut menunjukkan potensi energi gempa yang dapat dilepaskan oleh masing-masing segmen. Namun, angka tersebut bukan berarti gempa dengan kekuatan tersebut akan terjadi dalam waktu dekat.
BMKG Ungkap Skenario Gempa Megathrust Aceh-Andaman
Dalam skenario terburuk yang disampaikan BMKG, gempa megathrust di segmen Aceh-Andaman dengan kekuatan hingga M9,2 dapat menghasilkan guncangan dengan intensitas maksimum mencapai VIII MMI.
Guncangan pada tingkat tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan pada bangunan, terutama bangunan yang tidak memenuhi prinsip konstruksi tahan gempa.
Selain guncangan kuat, gempa besar di zona megathrust juga berpotensi memicu tsunami. BMKG menyebut wilayah pantai barat Sumatera memiliki potensi terdampak tsunami dengan ketinggian di garis pantai lebih dari 3 meter.
Bahkan, di sejumlah lokasi, ketinggian tsunami dalam skenario tersebut dapat mencapai lebih dari 10 meter.
“Wilayah Pantai Barat Sumatera memiliki potensi ketinggian tsunami di garis pantai hingga lebih dari 3 meter dan di beberapa lokasi hingga lebih dari 10 meter,” tulis BMKG melalui akun Instagramnya, dikutip Kamis (24/9/2026).
BMKG menegaskan informasi mengenai potensi megathrust tersebut tidak dapat diartikan sebagai prediksi bahwa gempa besar akan segera terjadi.
Hingga saat ini, gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat mengenai kapan waktu, lokasi, dan kekuatannya. Karena itu, informasi mengenai potensi megathrust lebih ditujukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko bencana.
BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa dan tsunami untuk memahami potensi bahaya di daerah masing-masing.
Beberapa langkah mitigasi yang dapat dilakukan antara lain:
• Menyiapkan rencana kesiapsiagaan menghadapi bencana.
• Mengenali jalur dan titik evakuasi terdekat.
• Melatih kesiapsiagaan bersama keluarga dan komunitas.
• Memastikan bangunan memenuhi prinsip bangunan tahan gempa.
• Tidak menyebarkan informasi mengenai gempa dan tsunami yang belum terverifikasi.
Untuk mendukung pemantauan aktivitas gempa dan potensi tsunami, BMKG menyebut telah menyiapkan 533 sensor seismograf serta sistem peringatan dini tsunami InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System).
Sistem tersebut dirancang untuk mendeteksi kejadian gempa dan memberikan informasi peringatan dini secara cepat kepada masyarakat.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu peringatan resmi apabila merasakan gempa kuat. Guncangan yang berlangsung lama, khususnya lebih dari sekitar 30 detik atau 20 hitungan, perlu diwaspadai karena tsunami dapat tiba dalam waktu singkat di wilayah pesisir yang dekat dengan sumber gempa.
Saat merasakan guncangan kuat dan berada di dekat pantai atau tepi sungai, masyarakat diminta segera menjauh dari kawasan tersebut dan menuju tempat yang lebih aman.
Informasi mengenai kondisi dan peringatan dini tsunami dapat dipantau melalui televisi nasional, radio daerah, maupun pengumuman resmi di sekitar lokasi kejadian.
Jika terdengar sirene, kentongan, atau tanda peringatan lainnya, masyarakat diminta segera melakukan evakuasi. Apabila tidak mengetahui lokasi titik evakuasi, masyarakat dapat bergerak sejauh mungkin dari pantai menuju tempat yang lebih tinggi.
Kesiapsiagaan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko korban dan kerugian ketika bencana gempa bumi maupun tsunami benar-benar terjadi.




