JATIMTIMES – Motif mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) yang melakukan aksi hingga terjatuh dari area fakultas lain di lingkungan kampus belum diketahui pasti. Pihak kampus menyatakan belum menerima hasil resmi penyelidikan kepolisian terkait penyebab maupun motif aksi tersebut.
Kepala Program Studi S1 Kedokteran FK UB dr Hanif SpAn MBiomed mengatakan kepolisian telah mengetahui peristiwa tersebut dan mengumpulkan informasi setelah mahasiswa dibawa ke rumah sakit.
Baca Juga : Mahasiswa UB yang Jatuh dari Lantai 6 Jalani Operasi, Kondisi Stabil Masih di ICU
“Dari kami, kami belum mendapat hasil resmi dari kepolisian tentang baik itu motif, penyebab, dan sebagainya. Saya rasa itu masih diselidiki oleh polisi,” ujar Hanif, Jumat, (11/9/2026).
Karena itu, pihak fakultas memilih tidak berspekulasi mengenai latar belakang aksi yang dilakukan mahasiswa tersebut. Kampus, kata Hanif, membatasi informasi yang disampaikan pada hal-hal yang menjadi kewenangan institusi, khususnya terkait aspek pendidikan dan kemahasiswaan.
Penelusuran internal dilakukan setelah muncul sejumlah informasi yang mengaitkan kejadian tersebut dengan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PK2Maba). Namun, Hanif memastikan informasi mengenai adanya tekanan selama PKK Maba, termasuk persoalan tugas, tidak benar.
Menurut dia, mahasiswa tersebut memang pernah tidak mengikuti kegiatan PK2Maba pada satu atau dua kesempatan. Ketidakhadiran itu kemudian telah diganti dan yang bersangkutan dinyatakan lulus kegiatan tersebut.
“Bukan mengulang PK2Maba, tetapi hanya mengganti ketidakhadirannya. Dan itu sudah clear, sudah selesai, yang bersangkutan dinyatakan lulus PK2Maba,” jelasnya.
Fakultas juga telah mengecek kemungkinan adanya persoalan akademik maupun tekanan dalam kehidupan perkuliahan. Dari hasil penelusuran, Hanif menyebut tidak ditemukan persoalan tersebut.
Kampus bahkan telah meminta keterangan dari teman-teman korban dan dosen penasihat akademiknya. Informasi yang diperoleh menunjukkan mahasiswa tersebut menjalani aktivitas perkuliahan dengan baik.
“Bisa kami pastikan bahwa yang bersangkutan menjalani perkuliahannya dengan sangat baik. Kami juga sudah bertanya kepada teman-temannya, selama ini dalam kondisi baik,” katanya.
Hanif juga membantah kabar yang menyebut mahasiswa tersebut kerap menyendiri selama menjalani perkuliahan. Menurut dia, tidak ditemukan indikasi korban berada dalam tekanan berat selama berada di lingkungan akademik.
Di tengah proses penyelidikan mengenai motif, kondisi korban kini masih mendapat penanganan medis intensif di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Baca Juga : Aksi KONI dan Anak-Anak: Di Mana Perlindungan Pelajar saat Wawali Blitar Pimpin Demonstrasi?
Hanif mengatakan tim dokter dari berbagai spesialis telah melakukan sejumlah tindakan operasi yang diperlukan. Setelah tindakan tersebut selesai, mahasiswa itu menjalani perawatan lanjutan di ruang ICU.
“Sudah dilakukan beberapa tindakan operasi yang diperlukan. Kemarin sekitar jam 02.00 atau jam 03.00 sore kalau tidak salah prosesnya sudah selesai, kemudian dilanjutkan di perawatan lebih lanjut di ICU,” tuturnya.
Berdasarkan informasi yang diterima fakultas pada Jumat pagi, kondisi korban disebut stabil. Namun, Hanif tidak menjelaskan kondisi medis secara rinci karena dirinya bukan bagian dari tim medis RSSA yang menangani korban.
“Kami dapat kabar bahwa kondisinya stabil dan dalam perawatan lanjutan di ICU,” ujarnya.
Pihak keluarga korban juga telah berada di rumah sakit dan berkomunikasi dengan pihak fakultas. Hanif menyebut berbagai langkah penanganan yang telah dan akan dilakukan telah disampaikan kepada keluarga.
Sementara untuk informasi mengenai hal-hal di luar aspek institusi, akademik, dan kemahasiswaan, pihak fakultas memilih menjaga privasi korban serta keluarganya.
“Di luar itu kami mohon maaf, kami merasa bukan wewenang kami menyampaikan hal itu dan kami berusaha menjaga untuk privasi, baik dari yang bersangkutan maupun keluarga,” kata Hanif.
