JATIMTIMES - Program angkutan pelajar gratis Kota Malang resmi mengaspal sejak Senin (31/8/2026). Namun, peluncuran program tersebut belum sepenuhnya menjawab nasib puluhan angkot yang belum terakomodasi.
Dari rencana awal sebanyak 90 armada, baru 66 angkot yang terfasilitasi dan menjalankan layanan angkutan pelajar gratis. Artinya, masih ada sekitar 24 armada yang belum masuk dalam program.
Baca Juga : Satlantas Polres Ngawi Gerak Cepat Ungkap Tabrak Lari, Pengemudi Truk Diamankan
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, armada yang belum terakomodasi masih memiliki peluang untuk bergabung. Namun, peluang tersebut bergantung pada pemenuhan standar yang telah ditetapkan pemerintah.
“Belum semuanya, karena ada standarisasi yang bisa kita gunakan untuk angkutan pelajar,” kata Wahyu.
Standar tersebut mencakup kelayakan kendaraan hingga status kepemilikan dan administrasi armada. Selain itu, armada juga harus terdaftar di Dinas Perhubungan serta tergabung dalam koperasi yang ditentukan.
Wahyu menyebut Pemkot Malang tidak serta-merta memasukkan seluruh angkot ke dalam program. Armada yang belum memenuhi ketentuan diminta melakukan penyesuaian terlebih dahulu.
“Apabila mereka ada kekurangan dan telah bisa menyesuaikan terkait standarisasi angkot, kita akan tambah,” ujarnya.
Pemkot Malang saat ini memilih mengevaluasi pelaksanaan program terlebih dahulu. Kekurangan dalam tahap awal operasional akan menjadi bahan perbaikan sebelum jumlah armada diperluas.
“Kita evaluasi kekurangannya apa, nanti kita akan perbaiki,” tegas Wahyu.
Baca Juga : Baru 3 Hari September, 1.700-an Orang Keracunan MBG di 5 Daerah
Kondisi ini membuat target awal 90 armada belum sepenuhnya terealisasi. Sementara itu, belum ada skema khusus yang disampaikan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan operasional angkot yang belum masuk program.
Padahal, program angkutan pelajar gratis berpotensi mengubah pola operasional angkot reguler. Selama ini, penghasilan pengemudi sangat bergantung pada jumlah penumpang yang mereka angkut.
Dalam program baru tersebut, pendapatan armada dihitung berdasarkan jarak tempuh yang terpantau melalui GPS. Nilai pembayarannya paling rendah sekitar Rp75 ribu per hari atau perjalanan, tanpa target minimal jumlah pelajar yang harus diangkut.
Setiap mikrolet juga dibatasi mengangkut maksimal delapan pelajar. Layanan beroperasi mulai pukul 05.45 WIB hingga sekitar 14.45 WIB, dengan titik pemberangkatan dan penurunan penumpang yang telah ditentukan.
Dengan demikian, program angkutan pelajar gratis belum sepenuhnya menjadi solusi bagi seluruh armada angkot. Pemerintah masih harus memastikan bagaimana 24 armada yang tersisa dapat memenuhi standar dan memperoleh kepastian operasional.
