Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Baru 3 Hari September, 1.700-an Orang Keracunan MBG di 5 Daerah

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

03 - Sep - 2026, 17:07

Placeholder
Tampak seorang siswi di Nganjuk hendak dievakuasi menggunakan ambulans diduga keracunan MBG. (Foto: Threads)

JATIMTIMES - Sejumlah kasus gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi pada awal September 2026. Masih tiga hari pertama bulan ini, laporan muncul di sejumlah daerah, mulai dari Sidoarjo, Agam, Nganjuk hingga Sleman.

Kasus terbaru terjadi di SMAN 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sebanyak 725 siswa dan 25 guru mengalami diare massal pada Kamis (3/9/2026) pagi. Totalnya mencapai 750 orang.

Baca Juga : Keracunan MBG di Jatim Meluas: Sidoarjo Tembus 668 Orang, Pemprov Garansi Biaya Pengobatan

Sementara itu, di Sidoarjo, Jawa Timur, sebanyak 664 orang dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin.

Kasus lainnya terjadi di SMAN 3 Nganjuk dengan 49 orang yang mengalami gejala setelah menyantap menu MBG. Di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sedikitnya 29 orang teridentifikasi mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan MBG.

Sedangkan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sebanyak 276 orang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan menu MBG.

Berikut rangkaian kasus dugaan keracunan MBG yang terjadi pada akhir Agustus hingga awal September 2026:

1. Rembang: 750 Siswa dan Guru Diare Massal

Sebanyak 750 warga SMAN 1 Lasem atau Smanela mengalami diare massal pada Kamis (3/9/2026) sekitar pukul 09.00 WIB.

Kondisi tersebut membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) terganggu. Para siswa akhirnya dipulangkan dari sekolah.

Pada pukul 11.00 WIB, kondisi sekolah sudah sepi. Tidak terlihat aktivitas belajar mengajar siswa maupun guru.

Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengatakan keluhan yang dialami siswa dan guru berupa mual hingga diare. Pihak sekolah kemudian melakukan pendataan di setiap kelas.

"Akhirnya saya menyuruh agar tiap kelas didata yang mengalami diare itu. Setelah didata ada 20-31 orang dalam satu kelas. Sampai 33 kelas itu total 725 anak yang diare dan guru ada 25 orang. Kalau total jumlah murid itu ada 1.174, guru 95 orang," kata Juhartutik, dikutip detikjateng, Kamis (3/9/2026). 

Setelah mengetahui jumlah warga sekolah yang mengalami keluhan cukup banyak, pihak sekolah melapor ke Puskesmas Lasem dan berkonsultasi dengan Cabang Dinas Pendidikan.

"Setelah itu saya kemudian laporan ke Puskesmas Lasem untuk penanganan darurat dan konsultasi ke Cabdin (Cabang Dinas), akhirnya murid kami pulangkan," sambungnya.

Banyaknya siswa yang mengalami diare bahkan membuat fasilitas toilet sekolah kewalahan. Juhartutik menyebut WC sekolah tidak mampu menampung kondisi tersebut.

Dugaan sementara mengarah pada menu MBG yang disantap siswa sehari sebelumnya, Rabu (2/9/2026). Menu tersebut terdiri dari ayam bakar, nasi putih, mendoan dan buah semangka.

Juhartutik mengatakan terdapat tim yang mencicipi makanan sebelum dibagikan. Menurutnya, ada bagian makanan yang ditemukan berlendir dan kemudian dipisahkan.

"Sepertinya (karena) MBG kemarin. Jadi gini ada tim yang mencicipi kan, ada satu itu menemukan yang berlendir, ada satu itu baik. Dan yang berlendir ini sudah disisihkan," jelasnya.

Ia menyebut menu yang ditemukan berlendir tersebut merupakan ayam bakar. Pihak sekolah juga telah meminta klarifikasi kepada SPPG mengenai waktu memasak makanan.

"Itu kan menunya ayam bakar. Saya klarifikasi ke SPPG itu masaknya jam 3 pagi dini hari, sementara anak-anak itu konsumsinya jam 12," ujarnya.

Namun, penyebab pasti diare massal tersebut belum dapat dipastikan. Kepala Puskesmas Lasem, dr Joko Paryanto, mengatakan pihaknya menangani 18 pasien dari SMAN 1 Lasem yang mengalami diare, mual dan mulas.

Dari jumlah tersebut, lima orang merupakan guru dan 13 lainnya siswa. Tiga siswa sempat menjalani rawat inap.

Joko menjelaskan pihaknya masih belum dapat menyimpulkan apakah keluhan tersebut disebabkan MBG.

"Kami belum bisa menyimpulkan apakah gara-gara mengonsumsi MBG atau tidak. Karena hari ini banyak juga pasien diare yang lain," kata Joko.

Ketua Komisi IV DPRD Rembang, Muhammad Rofi'i, juga turun mengecek kondisi pasien di Puskesmas Lasem.

"Tadi dapat kabar, infonya ada ratusan siswa diare gara-gara keracunan MBG. Terus kami ke sini, ternyata dari komunikasi dengan Kepala Puskesmas Lasem tadi, hingga saat ini ada 18 pasien yang sempat dirawat di Puskesmas. 15 di antaranya sudah pulang, tiga yang masih dirawat," ujarnya.

"Terkait dugaan penyebab yang sebenarnya, apakah gara-gara MBG atau tidak kita masih menunggu penelusuran dari pihak Dinkes," imbuhnya.

2. Sidoarjo: 664 Orang Diduga Keracunan

Kasus dengan jumlah korban lebih besar terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
Sebanyak 664 orang dilaporkan mengalami gejala setelah mengonsumsi menu MBG pada Selasa (1/9/2026). Sebagian besar korban merupakan santri.

Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat 77 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Sebanyak 581 orang telah diperbolehkan pulang, sedangkan enam lainnya masih dalam tahap observasi.

Gejala yang dialami korban antara lain mual, muntah dan pusing. Sedangkan menu MBG yang dikonsumsi terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, sayur buncis baby corn serta buah apel.

Kasus tersebut juga berdampak pada operasional SPPG Kalitengah yang memasok MBG untuk 19 lembaga pendidikan. SPPG tersebut kemudian disuspend dan kepala SPPG diberhentikan.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang juga Ketua Satgas MBG Jatim memastikan tidak ada korban meninggal dalam kejadian tersebut.

Kasus ini turut mendapat perhatian DPR. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian, meminta tata kelola dan standard operating procedure (SOP) program MBG dievaluasi.

Baca Juga : Tindaklanjuti 2.025 GTT yang Belum Masuk Dapodik, Dispendik Kabupaten Malang Segera Konsultasi ke Kementerian PAN-RB RI

"Ya tentu ini menjadi keprihatinan kita bersama, tetapi kami menyarankan agar tata kelola makan bergizi gratis ini terus dilakukan. Hari ini kita lihat Kepala BGN yang baru terus berikhtiar, berusaha, tata kelola bisa menjadi semakin baik," kata Lalu.

3. Nganjuk: 49 Orang Alami Gejala

Berikutnya, kasus dugaan keracunan MBG terjadi di SMAN 3 Nganjuk pada Rabu (2/9).

Sebanyak 49 orang tercatat mengalami gejala, terdiri dari 48 siswa dan satu guru perempuan. Mereka mendapat penanganan di Puskesmas Begadung, RSUD Nganjuk dan RS Bhayangkara.

Kasus tersebut bermula setelah menu MBG tiba di sekolah sekitar pukul 10.00 WIB. Para siswa kemudian menyantap makanan tersebut.

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 14.00 WIB, mulai muncul keluhan.

"Kemudian kami persilahkan anak-anak untuk ngambil. Anak-anak kemudian ambil dan makan. Kemudian jam dua (14.00 WIB) lebih, kok ada yang mual, ada yang pusing, ada yang muntah," kata salah seorang guru SMAN 3 Nganjuk, Andik.

Menu yang dikonsumsi siswa berupa nasi goreng dengan ayam suwir dan tahu bulat. Hingga kini belum dapat dipastikan komponen makanan mana yang menyebabkan para siswa mengalami gejala tersebut. Polisi juga masih melakukan penelusuran terkait kejadian tersebut.

4. Agam: 276 Orang Alami Gangguan Kesehatan

Kasus lainnya dilaporkan dari Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sebanyak 276 orang yang terdiri dari siswa berbagai jenjang pendidikan dan guru mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan menu MBG.

Keluhan yang muncul antara lain sakit kepala, sakit perut, mual hingga demam. Para korban mendapat penanganan di sejumlah puskesmas dan dua orang harus dirujuk ke RSUD Bukittinggi.

Pemerintah kemudian menghentikan sementara distribusi makanan dari SPPG Pasia Laweh sembari menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan di laboratorium BPOM Sumatera Barat.

Sampel menu MBG diperiksa untuk mengetahui kemungkinan penyebab munculnya gangguan kesehatan pada penerima manfaat.

Penghentian operasional SPPG dilakukan sebagai langkah pencegahan sampai hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

"Kami masih menunggu hasil laboratorium dan keterangan medis sebelum bisa memastikan penyebab pastinya," tegas Iqbal.

Menu yang dibagikan pada Selasa (1/9/2026) terdiri dari telur puyuh dan sayuran berupa timun, tomat serta selada.

Pihak SPPG mengaku baru mengetahui adanya keluhan dari siswa pada Rabu (2/9). Pada hari pembagian makanan, tidak ada laporan mengenai dugaan keracunan.

Hingga Kamis, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut belum disimpulkan. Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk menentukan penyebabnya.

5. Sleman: Puluhan Siswa dari TK-SMA Bergejala

Kasus dugaan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG juga terjadi di wilayah Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kasus awal diketahui setelah seorang siswa SD Negeri Nyaen 2 mengalami gejala usai menyantap MBG pada Senin (31/8/2026). Siswa tersebut kemudian dibawa ke puskesmas.

Dinas Kesehatan Sleman melakukan penelusuran melalui Google Form untuk mengetahui apakah terdapat penerima MBG lain yang mengalami keluhan.

Hasil penelusuran ditemukan 28 orang lainnya mengalami gejala ringan. Mereka terdiri dari 25 siswa dan satu tenaga pendidik di SD Nyaen serta dua siswa TK Keluarga.

Selain itu, penelusuran juga menemukan laporan siswa yang mengalami gejala di SMAN 2 Sleman dan YPKK. Jumlah tersebut masih dalam pendataan.

Panewu Sleman Rohmiyanto mengatakan gejala mulai muncul setelah makanan dikonsumsi pada Senin (31/8/2026). 

"Jadi itu MBG yang hari Senin, (tanggal) 31. Kemudian mulai bergejalanya kan malam Selasa ya. Malam Selasa sampai Selasa kemarin," terang Rohmiyanto.

Dinas Kesehatan Sleman juga telah memeriksa sampel makanan dan mengecek sanitasi SPPG yang memasok makanan.

"Sampelnya sudah dicek kok. Jadi Dinkes sudah mendatangi SPPG-nya, kemudian cek sanitasi dan sebagainya, termasuk sampelnya kemudian dicek juga. Kita tunggu saja," kata Rohmi.

Operasional SPPG terkait kemudian dihentikan sementara sambil menunggu proses pemeriksaan.

"Kalau SPPG-nya itu disetop hari ini, hari ini informasinya SPPG-nya setop. Sambil menunggu, pengecekan berkaitan sampel juga, apakah kemudian nanti ada indikasi atau nggak," imbuhnya.

Demikian beberapa rangkaian kasus dugaan keracunan MBG di beberapa daerah dalam waktu berdekatan. Rentetan kasus ini pun menjadi sorotan hingga menuai kritik dari warganet. 


Topik

Peristiwa mbg keracunan mbg sppg viral keracunan mbg



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya