Derap zaman selalu menawarkan perubahan. Dibalut teknologi yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia, maka produk makanan dan minuman pun memerlukan perubahan untuk diterima di pasar. Khususnya dalam kemasan yang disesuaikan dengan sisi kepraktisan, ekonomis, serta tentunya mengandung estetika. 

Hal ini pula yang kini sedang digiatkan oleh Paguyuban Jamu Gendong Kartini Desa Karangrejo,  Kecamatan Kromengan. Sebuah desa yang selama ini dikenal sebagaian kalangan sebagai sentra jamu tradisional sejak lama. 

Jejak sebagai desa jamu gendong terlihat dari adanya patung seorang perempuan penjual jamu saat memasuki Karangrejo. Sekaligus terlihat dari mata pencaharian warganya yang bersetia mengolah berbagai bahan alam yang tumbuh banyak di perdesaan sebagai bahan pembuatan jamu. 

Sutadji, kepala desa Karangrejo, menyampaikan bahwa ada sekitar 150 warganya yang berprofesi sebagai penjual jamu gendong tradisional sampai saat ini. "Jadi, memang sudah lama jamu menjadi mata pencaharian warga di sini," ucapnya kepada MalangTIMES, Selasa (25/9/2018). 

Sayangnya, potensi besar tersebut terbilang redup dalam mengenalkan secara luas  jamu tradisional yang telah menjadi minuman sehat khas masyarakat Jawa dengan harga rakyat ini. Padahal, kata Sutadji,  secara rasa, jamu buatan warganya pernah menyabet penghargaan juara harapan 2 tingkat nasional serta juara pertama tingkat provinsi Jawa Timur (Jatim). "Jadi, secara rasa dan khasiat, jamu Karangrejo sudah terbukti lama. Bahkan bapak bupati dan ibu kerap mengonsumsi jamu dari kita," ujarnya.

Kemasan serta ketiadaan inovasi jamu ditengarai sebagai faktor yang membuatnya tidak melangkah lebih lebar ke luar secara pasar. Pasar saat ini membutuhkan berbagai produk minuman yang praktis dan menarik secara kemasan. Tentunya dengan rasa dan khasiat yang juga terjaga. Kondisi inilah yang membuat Tiasri membentuk Paguyuban Jamu Gendong Kartini bersama pemerintah desa. Dengan fokus mengenalkan kembali jamu tradisional lebih luas kepada masyarakat. Serta mengembalikan desa Karangrejo sebagai desa jamu gendong satu-satunya di Kabupaten Malang. 

"Maka kita libatkan perguruan tinggi untuk memperkenalkan produk-produk khas desa seperti jamu dengan cara yang diharapkan pasar saat ini. Melalui berbagai pembinaan dan pelatihan terhadap kami," ujar Tiasri. 

Maka diopreklah media jamu gendong Karangrejo. Dari yang konvensional yakni berupa botol 'beling' besar seperti biasa kita lihat pada penjual jamu gendong. Menjadi kemasan praktis serupa minuman yang kini kita kenal. Dengan botol-botol plastik yang mudah dibawa ke mana-mana. 

Selain itu, berbagai inovasi berbahan jamu pun mulai juga dioprek dalam berbagai kemasan praktis. Baik yang langsung minum maupun tidak. Branding kemasan jamu khas Karangrejo inilah yang kini sedang dikuatkan oleh paguyuban,  pemerintah desa sampai pada tim inovasi desa yang berasal dari warga di Kecamatan Kromengan. 

Bupati Malang Dr H Rendra Kresna pun berkali-kali menyampaikan dalam berbagai kesempatan bahwa kekuatan ekonomi yang sebenarnya berasal dari perdesaan. 

"Di Desa banyak potensi yang bisa menggerakkan ekonomi warganya. Tinggal bagaimana mengolahnya secara kreatif dan inovatif mengikuti perkembangan zaman, " ujarnya. 

Kekuatan ekonomi bisa melalui optimalisasi potensi wisata,  baik alam maupun buatan. "Maupun dari produk khas desa itu sendiri. Seperti kerajinan tangan,  kopi sampai jamu tradisional. Dari produk itu juga kalau dikemas menarik dan inovatif bisa jadi wisata kuliner,  misalnya, " imbuh Rendra Kresna yang juga menegaskan,  bahwa sesuai dengan nawacita Presiden Jokowi ketiga, pembangunan dilakukan dari pinggiran atau desa menuju kota. "Melalui Nawacita Presiden Jokowi ini, saya yakin akan menghasilkan kekuatan ekonomi yang tangguh," pungkasnya. (*)