Dari Raja Balkh Menjadi Sufi, Ibrahim bin Adham Tersentak oleh Pertanyaan Misterius
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
06 - Sep - 2026, 12:25
JATIMTIMES - Kehidupan sebagai raja tidak serta-merta membuat Ibrahim bin Adham merasa tenang. Di tengah kemewahan istana dan kekuasaan yang berada di tangannya, sebuah pertanyaan justru membuatnya gelisah dan mengubah arah hidupnya.
Kisah tersebut diceritakan Fariduddin Attar dalam kitab Tadzkiratul Auliya. Ibrahim disebut sebagai penguasa Balkh yang memiliki wilayah kekuasaan luas. Kemegahan kekuasaannya tergambar dari iring-iringan kerajaan yang membawa 40 pedang emas dan 40 tongkat kebesaran emas ketika ia bepergian.
Baca Juga : 270 Kg Pakaian dan Perlengkapan Anak Dikirim Karyawan MPM Honda Jatim ke NTT
Kegelisahan Ibrahim bermula pada suatu malam. Saat tertidur di istana, ia mendengar suara langkah dari atas atap. Ia pun terbangun dan menanyakan siapa yang berada di sana.
Orang tersebut menjawab bahwa dirinya sedang mencari unta yang hilang di atas atap. Ibrahim menilai jawaban itu tidak masuk akal karena tidak mungkin mencari unta di tempat tersebut.
Jawaban berikutnya justru diarahkan kepada sang raja.
“Wahai manusia yang lalai, apakah engkau hendak mencari Allah dengan berpakaian sutra dan tidur di atas ranjang emas?”
Ucapan tersebut membuat Ibrahim terguncang. Ia tidak lagi mampu tidur dengan tenang dan membawa pertanyaan itu hingga keesokan harinya.
Di ruang pertemuan kerajaan, Ibrahim kembali duduk di singgasananya. Para menteri dan pelayan telah berada di tempat masing-masing ketika seorang lelaki dengan wajah menyeramkan tiba-tiba masuk tanpa mendapat halangan.
Lelaki itu berjalan menuju singgasana. Ibrahim kemudian bertanya mengenai maksud kedatangannya.
“Aku baru saja sampai di persinggahan ini,” jawab lelaki tersebut.
Ibrahim membantah. Tempat itu merupakan istananya, bukan tempat persinggahan kafilah. Namun, lelaki tersebut kembali mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar.
Ia menanyakan siapa yang sebelumnya memiliki istana tersebut. Ibrahim menjawab bahwa istana itu pernah menjadi milik ayahnya. Ketika ditanya siapa pemilik sebelumnya, ia menyebut ayah dari kakeknya, kemudian leluhur yang lebih jauh.
Pertanyaan berikutnya membuat Ibrahim terdiam: ke mana para pemilik istana tersebut sekarang?
“Mereka telah tiada. Mereka telah mati,” jawab Ibrahim.
Lelaki itu kemudian mengatakan bahwa istana tersebut memang seperti tempat persinggahan, karena seseorang datang lalu meninggalkannya dan orang lain menggantikannya. Setelah itu, lelaki tersebut menghilang.
Dalam kisah yang dinukil Attar, sosok yang mendatangi Ibrahim tersebut disebut sebagai Nabi Khidir alaihissalam.
Baca Juga : Target PAD Naik Tipis, Dewan Pertanyakan Perencanaan Pemkot Malang
Peristiwa itu membuat pergulatan batin Ibrahim semakin kuat. Ia kemudian meninggalkan istana untuk berburu. Dalam perjalanan, ketika terpisah dari rombongannya, ia mendengar suara yang berulang kali memanggilnya agar bangun.
Ibrahim sempat mengabaikan suara tersebut. Namun setelah panggilan itu terdengar berulang kali, ia mulai terguncang.
Saat melihat seekor rusa dan hendak mengejarnya, Ibrahim justru mendengar rusa itu berbicara.
“Aku disuruh untuk memburumu. Engkau tidak bisa menangkapku. Untuk inikah engkau diciptakan atau inikah yang diperintahkan kepadamu?”
Pertanyaan tersebut membuat Ibrahim menghentikan pengejarannya. Ia merasa ada sesuatu yang sedang mengingatkannya tentang tujuan hidup.
Dalam perjalanan itu, suara serupa kembali terdengar dari bagian pelana dan jubahnya. Ibrahim akhirnya turun dari kudanya dan menangis. Air mata membasahi pakaian serta tubuh kudanya ketika ia memohon ampun kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Hadid ayat 20:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”
Setelah meninggalkan kehidupan istana, Ibrahim bertemu seorang penggembala. Ia kemudian menyadari bahwa penggembala tersebut merupakan budaknya sendiri yang selama ini menjaga domba-dombanya.
Jubah bersulam emas dan topi bertabur permata yang dikenakan Ibrahim diberikan kepada penggembala itu. Domba-domba miliknya pun diserahkan. Sebagai gantinya, Ibrahim mengambil pakaian dan topi berbahan bulu domba yang dikenakan penggembala.
Ia kemudian berjalan kaki meninggalkan kehidupan kerajaan. Perjalanan itu membawanya melewati gunung dan padang pasir sebelum akhirnya sampai di Merv. Kisah tersebut menjadi bagian awal perjalanan Ibrahim bin Adham yang kemudian dikenal sebagai salah seorang tokoh sufi dalam literatur tasawuf klasik.
