JATIMTIMES - Menjelang akhir tahun 2025, bisnis akomodasi masih lesu, salah satunya penyedia vila di Kota Batu. Padahal momen musim libur Nataru (Natal dan tahun baru) telah dinantikan para pelakunya untuk meraup untung. Namun, tingkat hunian atau okupansi vila justru menunjukkan angka yang masih rendah.

Ketua Paguyuban Vila Kota Batu Indra Tri Ariyono Pihaknya mengungkapkan, angka okupansi vila di akhir November ini masih berkisar 10 persen. Bahkan, beberapa pengusaha lainnya masih kesulitan mencari tamu.

"Mayoritas masih tanya-tanya saja barangkali untuk perbandingan harga," ujarnya saat dihubungi, belum lama ini.

Indra menduga, ada pergeseran minat wisatawan dalam memesan vila. Yakni wisatawan lebih memilih datang langsung tanpa harus melakukan reservasi. Sehingga, angka okupansinya tidak terlihat begitu signifikan.

Padahal, para pengusaha vila juga sudah melakukan berbagai upaya dalam menggaet wisatawan. Mulai dari upaya promosi di media sosial hingga menurunkan harga hingga 20-30 persen lebih murah.

"Misalnya, kalau tahun lalu per kamar bisa Rp250 ribu, saat ini hanya Rp200 ribu saja," ujarnya.

Padahal, tahun lalu kenaikan harga bisa menyentuh dua kali lipat dari harga normal. Skema itu terpaksa diterapkan melihat pola animo roomrate di hotel berbintang saat ini. Persaingan harga membuat para pengusaha vila juga semakin khawatir tidak mendapatkan tamu.

Owner Vila Tiga Saudara Songgoriti itu menyebut, saat ini banyak wisatawan yang juga memilih memesan rumah vila dibandingkan kamar. Dengan alasan, fasilitas yang ditawarkan lebih lengkap dan harga tak jauh berbeda. 

Sampai saat ini, Indra mengaku pengusaha masih optimistis untuk bisa mencapai target keterisian 100 persen. Utamanya pada tanggal 31 Desember hingga 1 Januari. Target tersebut berdasarkan capaian tahun lalu yang mampu terisi penuh di tanggal itu.

"Pemilik vila juga rajin promosi di media sosial sembari menawarkan promo untuk menggaet tamu," tandasnya.