JATIMTIMES - Menjawab aspirasi masyarakat yang masih berharap dapat menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Islam Malang (Unisma), pihak kampus resmi membuka gelombang 3 tahap 2 pendaftaran mahasiswa baru Fakultas Kedokteran. Masa pendaftaran ini berlangsung 9 hingga 23 Agustus 2025, dengan kuota terbatas hanya 20 mahasiswa.

Rektor Unisma, Prof. Drs. Junaidi Mistar, Ph.D., menjelaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar perpanjangan waktu, melainkan penambahan tahap khusus yang tetap mengikuti jadwal gelombang tiga sesuai rencana semula. “Banyak masyarakat yang meminta agar ada perpanjangan, khususnya untuk Fakultas Kedokteran, karena mereka masih menunggu hasil seleksi di perguruan tinggi negeri. Maka kami putuskan membuka gelombang ketiga tahap kedua,” ujarnya.

Meskipun ada tambahan masa pendaftaran, Prof. Junaidi menegaskan bahwa besaran biaya pendidikan tetap mengacu pada ketentuan gelombang tiga, tanpa kenaikan. Proses seleksi untuk tahap ini meliputi tes psikologi, tes bidang studi seperti matematika dan biologi, serta wawancara. Wawancara juga mencakup pemeriksaan kesehatan dasar, termasuk tes penglihatan untuk memastikan calon mahasiswa tidak mengalami buta warna. 

“Tesnya akan dilaksanakan pada 25 hingga 29 Agustus, dan hasilnya diumumkan 30 Agustus. Kemudian Her-Registrasi dimulai 30 Agustus sampai 5 September 2025," imbuhnya.

Meski secara akreditasi Fakultas Kedokteran Unisma berhak menerima hingga 200 mahasiswa per tahun, pihak kampus memilih membatasi penerimaan antara 100-120 mahasiswa saja. Hal ini dilakukan demi menjaga mutu pendidikan. “Kalau terlalu banyak mahasiswa, kualitas pembelajaran bisa turun. Kami ingin lulusan tetap terjamin kualitasnya,” kata Prof. Junaidi.

Hasilnya, prestasi kelulusan mahasiswa Unisma di Uji Kompetensi Mahasiswa Program Pendidikan Dokter (UKMPPD) terbilang gemilang. Dalam 13 kali penyelenggaraan ujian berturut-turut, 100 persen mahasiswa lulus pada ujian pertama (first takers). “Itu ukuran kualitas yang sebenarnya. Kami tidak hanya mencetak dokter, tapi dokter yang kompeten,” tegasnya.

Fakultas Kedokteran Unisma memiliki keunikan tersendiri. Pada tahun pertama, mahasiswa diwajibkan mengikuti pembinaan di Pondok Pesantren Arrozi. Program ini bertujuan memperkuat pengetahuan dasar, pemahaman agama, dan pembentukan karakter islami. Beberapa mahasiswa bahkan memanfaatkan kesempatan ini untuk menghafal Al-Qur’an.

Selain itu, kerja sama luas dengan berbagai rumah sakit menjadi penunjang pembelajaran profesi. Mahasiswa menjalani program co-assistant tidak hanya di Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma, tetapi juga di rumah sakit mitra sesuai bidang keilmuan, misalnya belajar ilmu paru di rumah sakit tertentu yang menjadi rujukan spesialis tersebut.

Prof. Junaidi juga menegaskan komitmen Unisma sebagai kampus yang aman dan bebas dari kekerasan, perundungan, maupun radikalisme. “Beberapa tahun lalu kami sudah mendeklarasikan diri sebagai kampus anti kekerasan. Kami punya satgas khusus untuk menanggulangi kejadian seperti itu,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa proses penerimaan mahasiswa dilakukan secara murni dan transparan. “Tidak ada titip-menitip. Semua calon mahasiswa harus melalui tes seleksi. Jadi persiapkan diri sebaik mungkin,” pesannya.

Dengan kuota terbatas, peluang masuk Fakultas Kedokteran Unisma di gelombang tambahan ini menjadi sangat kompetitif. Masyarakat yang berminat diimbau segera mendaftar sebelum 23 Agustus 2025.