JATIMTIMES - Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri, melontarkan kritik terhadap Rocky Gerung yang membahas program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan anggaran gaji guru. Iman menilai perdebatan soal pemenuhan gizi anak dan kesejahteraan pendidik tidak semestinya diarahkan seolah-olah keduanya harus saling mengorbankan.

Kritik itu disampaikan Iman sebagai respons dari pandangan Rocky Gerung mengenai anggaran pendidikan dan MBG. Ia menegaskan, gaji guru sudah menjadi bagian dari pembiayaan pendidikan sebelum program MBG dijalankan.

Iman mempertanyakan narasi yang mengaitkan pemenuhan gizi anak dengan penghasilan guru, terlebih ketika masih ada pendidik yang mengeluhkan keterlambatan pembayaran tunjangan.

"Rocky Gerung menyerang guru demi membela MBG. Dengan menyatakan bahwa gaji guru diambil dari nutrisi anak, sehingga MBG gak masalah mengambil gaji guru. Kalau gurunya tidak punya gaji berbulan-bulan? Yang bisa diambil tinggal darahnya aja. Berarti lu ngisep darah guru, Rock," tulis Iman di X, dikutip Senin (12/10/2026).

Menurut Iman, anggaran gaji guru tidak berasal dari dana MBG. Sebaliknya, ia mengkritisi penggunaan anggaran pendidikan untuk membiayai program tersebut dan mempertanyakan dampaknya terhadap alokasi bagi kebutuhan pendidikan lainnya.

"Gaji guru tidak pernah mengambil dana MBG, karena gaji guru sudah ada sebelum MBG. Justru MBG yang mengambil anggaran pendidikan, yang selanjutnya berdampak pada gaji guru," tegasnya.

Iman juga menyinggung ketentuan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dalam APBN. Ia mempertanyakan alasan program MBG harus menggunakan anggaran yang masuk dalam porsi pendidikan, padahal pemerintah memiliki anggaran negara di luar alokasi tersebut.

"Gaji guru dari 20% pendidikan, maka MBG bisa ambil 80% APBN. Kenapa harus berfilsafat buat ngambil 20% pendidikan? kurang gede apa lagi 80% APBN?" tulisnya.

Ia kemudian merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menurutnya memberikan jalan agar pembiayaan MBG dapat diambil dari anggaran pendidikan di luar pemenuhan alokasi minimal 20 persen.

"MKM udah ngasih solusi, boleh diambil dari pendidikan, tapi diluar 20%. Artinya diambil dari 80% APBN kita," lanjutnya.

Iman menilai, apabila pembiayaan MBG tetap dipaksakan menggunakan porsi 20 persen anggaran pendidikan, persoalan alokasi dana untuk guru dan kebutuhan pendidikan lain akan terus menjadi perdebatan.

"Makanya kalau ngotot terus maksa MBG pake 20% anggaran pendidikan, berarti memang benar, tujuannya mengeruk gaji guru. Tapi pake filsafat ngeruknya," tulis Iman.

Ia juga mengkritik cara pandang yang membenturkan kesejahteraan guru dengan pemenuhan nutrisi anak sekolah.

"Gaji guru dibenturkan dengan nutrisi anak, trus kita disuruh berfilsafatkh," sambungnya.

Perdebatan ini mencuat setelah Rocky Gerung berbicara mengenai hubungan anggaran pendidikan, kesejahteraan guru, dan pemenuhan gizi anak dalam siniar di kanal YouTube Bagas Muljadi.

Dalam forum tersebut, Rocky menggambarkan situasi ketika anggaran pendidikan sepenuhnya dialihkan untuk MBG maupun ketika dana MBG dialihkan untuk guru. Ia menilai kedua pilihan tersebut sama-sama memiliki konsekuensi.

"Kalau misalnya seluruh dana Pendidikan dipindahkan ke MBG, gurunya mati tuh. Begitu pun sebaliknya, seluruh dana MBG dipindahkan untuk guru, gurunya cerdas tapi saat memulai mengajar anaknya bego, karena anaknya gak dapat nutrisi," ucap Rocky, dikutip Senin (12/10/2026)