JATIMTIMES - Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan sekaligus ibu kota Provinsi Jawa Timur. Dua identitas tersebut memiliki latar belakang sejarah yang berbeda, tetapi sama-sama berkaitan dengan perjalanan panjang Jawa Timur, mulai dari perkembangan pemerintahan hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Momentum Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur pada 12 Oktober 2026 menjadi kesempatan untuk menelusuri kembali sejarah tersebut. Mengutip laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Bakorwil Bojonegoro, tanggal 12 Oktober 1945 menandai kepindahan Gubernur pertama Jawa Timur, R.M.T. Ario Soerjo, ke Surabaya untuk mulai menjalankan pemerintahan provinsi dari ibu kota. Sementara itu, laman resmi Pemerintah Kota Surabaya dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan mencatat pentingnya pertempuran 10 November 1945 dalam sejarah kepahlawanan kota ini.
Lantas, bagaimana perjalanan Surabaya hingga menjadi ibu kota Jawa Timur dan mendapat julukan Kota Pahlawan? Berikut sejarah di baliknya.
Sejarah Surabaya Menjadi Ibu Kota Jawa Timur
Kedudukan Surabaya sebagai ibu kota Jawa Timur tidak bisa dilepaskan dari perjalanan pembentukan pemerintahan provinsi setelah Indonesia merdeka.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pemerintah mulai menyusun struktur pemerintahan untuk menjalankan administrasi negara. Pada 19 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menetapkan pembentukan sejumlah provinsi, termasuk Jawa Timur, sekaligus menentukan gubernur untuk memimpin wilayah tersebut.
R.M.T. Ario Soerjo ditunjuk sebagai gubernur pertama Jawa Timur. Ia dilantik pada 5 September 1945, tetapi saat itu masih harus menyelesaikan tugasnya di Bojonegoro.
Berdasarkan catatan sejarah Provinsi Jawa Timur, Soerjo kemudian berpindah ke Surabaya pada 12 Oktober 1945. Kepindahan tersebut menandai mulai berjalannya mekanisme pemerintahan Provinsi Jawa Timur dari Surabaya sebagai ibu kota.
Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Provinsi Jawa Timur. Penetapannya didasarkan pada Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2007 tentang Hari Jadi Provinsi Jawa Timur.
Dengan demikian, peringatan Hari Jadi Jawa Timur setiap 12 Oktober bukan sekadar penanda usia provinsi, melainkan juga pengingat perjalanan awal pemerintahan daerah setelah Indonesia merdeka.
Mengapa Surabaya Dipilih sebagai Ibu Kota Jawa Timur?
Sebelum menjadi pusat pemerintahan provinsi, Surabaya telah berkembang sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang memiliki posisi strategis di pesisir utara Pulau Jawa.
Letaknya yang berdekatan dengan Selat Madura membuat Surabaya memiliki peran penting dalam aktivitas pelayaran dan distribusi barang. Sejak masa kerajaan hingga periode kolonial, kawasan ini berkembang menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi di wilayah timur Pulau Jawa.
Pada masa kolonial Belanda, Surabaya semakin dikenal sebagai kota perdagangan dan pelabuhan utama. Berbagai komoditas dari wilayah pedalaman Jawa Timur diperdagangkan melalui kota ini sebelum dikirim ke daerah lain maupun ke luar negeri.
Perkembangan tersebut turut mendorong pertumbuhan infrastruktur, permukiman, dan pusat administrasi. Surabaya pun berkembang menjadi kota dengan peran penting dalam menghubungkan berbagai wilayah di Jawa Timur.
Ketika pemerintahan provinsi mulai berjalan setelah kemerdekaan, perkembangan dan posisi strategis tersebut menjadi bagian dari konteks sejarah kedudukan Surabaya sebagai ibu kota.
Hingga kini, Surabaya tetap menjadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Timur. Kota ini juga menjadi pusat kegiatan perdagangan, industri, pendidikan, transportasi, dan jasa yang mendukung aktivitas masyarakat di berbagai daerah.
Mengapa Surabaya Dijuluki Kota Pahlawan?
Jika status ibu kota Jawa Timur berkaitan dengan perjalanan pemerintahan dan perkembangan kota, julukan Kota Pahlawan lebih erat hubungannya dengan perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Peristiwa yang paling menonjol adalah Pertempuran 10 November 1945. Pada masa itu, rakyat Surabaya menghadapi pasukan Sekutu yang datang setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Ketegangan meningkat setelah Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, perwira tinggi Inggris, tewas pada 30 Oktober 1945. Peristiwa tersebut kemudian diikuti ultimatum Inggris kepada rakyat Surabaya agar menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan.
Rakyat Surabaya menolak tuntutan tersebut. Pada 10 November 1945, pasukan Inggris melancarkan serangan besar-besaran dari darat, laut, dan udara.
Para pejuang bersama masyarakat melakukan perlawanan meskipun menghadapi keterbatasan persenjataan. Salah satu tokoh yang dikenal membangkitkan semangat perjuangan adalah Bung Tomo, yang menyampaikan seruan perlawanan melalui siaran radio.
Pertempuran berlangsung sengit dan menimbulkan banyak korban jiwa. Namun, keberanian rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan menjadikan peristiwa tersebut sebagai salah satu simbol perjuangan bangsa Indonesia.
Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Peringatan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan kemerdekaan.
Dari sinilah identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan semakin melekat dan terus dikenang hingga sekarang.
Asal-usul Nama Surabaya dan Lambang Sura-Baya
Selain sejarah perjuangan, Surabaya juga memiliki kisah asal-usul nama yang menarik untuk ditelusuri.
Nama Surabaya kerap dikaitkan dengan kata sura yang berarti berani dan baya yang berarti bahaya. Penafsiran yang populer di masyarakat memaknai nama tersebut sebagai keberanian menghadapi bahaya.
Surabaya juga identik dengan lambang ikan sura dan buaya. Kedua hewan tersebut menjadi simbol khas kota yang mudah dikenali melalui berbagai identitas visual dan ikon daerah.
Selain itu, sejarah Surabaya juga berkaitan dengan kisah pertempuran antara pasukan Raden Wijaya dan pasukan Mongol pada 1293. Tanggal 31 Mei kemudian diperingati sebagai Hari Jadi Kota Surabaya.
Berbagai kisah tersebut menunjukkan bahwa identitas Surabaya terbentuk melalui perjalanan sejarah yang panjang. Namun, dalam konteks julukan Kota Pahlawan, Pertempuran 10 November 1945 tetap menjadi peristiwa yang paling menonjol.
Hari Jadi Jawa Timur, Momentum Mengenang Sejarah Surabaya
Peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur pada 12 Oktober 2026 tidak hanya menjadi momentum untuk melihat perkembangan daerah, tetapi juga untuk memahami sejarah yang membentuk identitasnya.
Tanggal 12 Oktober 1945 memiliki arti penting karena menandai dimulainya mekanisme pemerintahan Provinsi Jawa Timur dari Surabaya di bawah kepemimpinan gubernur pertama, R.M.T. Ario Soerjo.
Sementara itu, peristiwa 10 November 1945 mengukuhkan Surabaya sebagai salah satu simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kedua peristiwa tersebut memiliki makna berbeda, tetapi sama-sama menjadi bagian dari sejarah Jawa Timur dan Indonesia.
Kini, Surabaya terus berkembang sebagai kota metropolitan sekaligus pusat pemerintahan provinsi. Di balik perkembangan tersebut, sejarah kepahlawanan dan perjalanan awal pemerintahan Jawa Timur tetap menjadi bagian penting dari identitas kota.
Memahami sejarah Surabaya pada momentum Hari Jadi Jawa Timur menjadi salah satu cara untuk mengenal lebih dekat perjalanan provinsi ini, mulai dari awal pemerintahan setelah kemerdekaan hingga perjuangan rakyat dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.



