JATIMTIMES - Oktober sering dianggap sebagai bulan yang penuh perubahan. Di Indonesia, bulan ini berada di antara musim kemarau dan musim hujan sehingga perubahan cuaca mulai terasa di sejumlah wilayah.
Pagi hingga siang hari bisa terasa terik, tetapi kondisi dapat berubah ketika awan mulai tumbuh dan hujan turun pada sore atau malam hari. Namun, Oktober 2026 memiliki cerita yang sedikit berbeda. Musim hujan tahun ini diprediksi datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia.
Bukan hanya di bumi, langit Oktober juga menghadirkan sejumlah fenomena menarik. Mulai dari Saturnus yang mencapai oposisi hingga hujan meteor Orionid yang mencapai puncaknya pada akhir bulan.
Lantas, mengapa Oktober kerap disebut sebagai bulan yang berubah dan fenomena apa saja yang terjadi pada bulan ini?
Oktober dan perubahan musim di Indonesia
Sebutan “bulan yang berubah” sebenarnya bukan istilah ilmiah resmi. Istilah tersebut lebih menggambarkan kondisi alam yang dinamis karena Oktober kerap menjadi masa peralihan dari kemarau menuju musim hujan di Indonesia.
Namun, masyarakat tidak bisa langsung menganggap Oktober sebagai awal musim hujan di seluruh wilayah. Waktu datangnya musim hujan berbeda-beda di setiap daerah.
Berdasarkan prediksi terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026. Sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami awal musim hujan yang mundur dibandingkan kondisi normal.
Kondisi tersebut membuat Oktober 2026 menjadi periode yang cukup unik. Sebagian wilayah mulai mengalami hujan, sementara daerah lainnya masih menghadapi kondisi kering.
El Niño turut memengaruhi Oktober 2026
Keterlambatan musim hujan tahun ini tidak terjadi begitu saja. BMKG menyebut fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat masih berlangsung dan diprediksi bertahan hingga awal 2027.
Selain itu, Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga turut berpengaruh terhadap berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Kombinasi kedua fenomena tersebut membuat periode kemarau menjadi lebih panjang dan awal musim hujan mengalami keterlambatan.
BMKG bahkan mencatat sebagian besar wilayah Indonesia yang mengalami musim hujan 2026/2027 diprediksi memiliki durasi lebih pendek dari kondisi normal.
Karena itu, perubahan cuaca yang dirasakan masyarakat pada Oktober sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda bahwa musim hujan sudah tiba sepenuhnya.
Oktober juga menghadirkan fenomena langit
Perubahan bukan hanya bisa diamati dari kondisi cuaca. Oktober juga menjadi salah satu bulan menarik bagi masyarakat yang gemar mengamati langit malam.
NASA mencatat beberapa fenomena astronomi yang dapat diamati sepanjang Oktober 2026, termasuk Saturnus yang mencapai oposisi, hujan meteor Orionid, serta pertemuan tampak Bulan dengan gugus bintang Pleiades.
1. Saturnus mencapai oposisi
Salah satu fenomena langit yang sudah terjadi pada awal Oktober adalah oposisi Saturnus pada 4 Oktober 2026.
Oposisi terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Saturnus. Dalam posisi ini, Saturnus berada berlawanan arah dengan Matahari jika dilihat dari Bumi sehingga planet bercincin tersebut dapat terlihat selama sebagian besar malam.
Menurut NASA, kondisi ini menjadi salah satu kesempatan terbaik pada tahun ini untuk mengamati Saturnus.
2. Hujan meteor Orionid mencapai puncak
Menjelang akhir Oktober, giliran hujan meteor Orionid yang menjadi perhatian.
NASA memperkirakan hujan meteor Orionid mencapai puncaknya pada malam 21 Oktober hingga pagi 22 Oktober 2026. Fenomena ini berasal dari serpihan debu yang ditinggalkan Komet Halley saat melintasi bagian dalam tata surya.
Meteor Orionid seolah-olah datang dari arah rasi Orion. Namun, meteor sebenarnya dapat melintas di berbagai bagian langit.
Tahun ini, cahaya Bulan yang cukup terang berpotensi membuat sebagian meteor yang lebih redup sulit terlihat. Waktu pengamatan terbaik diperkirakan beberapa jam sebelum matahari terbit, setelah Bulan terbenam.
3. Bulan mendekati gugus bintang Pleiades
Fenomena langit menarik lainnya terjadi pada malam 27 hingga 28 Oktober.
NASA menyebut Bulan akan tampak berdekatan dengan gugus bintang Pleiades atau yang dikenal dengan sebutan Seven Sisters. Gugus bintang ini dapat dilihat dengan mata telanjang dari lokasi yang memiliki langit cukup gelap.
Jika menggunakan binokular atau teleskop, lebih banyak bintang di dalam gugus Pleiades dapat terlihat.
Jadi, benarkah Oktober adalah bulan yang berubah?
Jika yang dimaksud adalah istilah ilmiah, “bulan yang berubah” bukan sebutan resmi untuk Oktober.
Namun, istilah tersebut cukup menggambarkan karakter Oktober di Indonesia. Bulan ini sering berada pada masa transisi antara kemarau dan musim hujan, sehingga pola cuaca dapat berubah dari waktu ke waktu.
Pada Oktober 2026, perubahan tersebut semakin menarik karena musim hujan diprediksi datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia akibat pengaruh El Niño yang sangat kuat dan kondisi IOD positif.
Di saat yang sama, langit Oktober juga menawarkan sejumlah fenomena astronomi yang bisa diamati masyarakat, mulai dari Saturnus, hujan meteor Orionid hingga gugus bintang Pleiades.
Jadi, Oktober bukan sekadar bulan pergantian musim. Ada banyak perubahan di bumi sekaligus fenomena di langit yang membuat bulan ini menarik untuk diperhatikan.



