JATIMTIMES - Nama, nomor telepon, alamat email hingga foto seseorang bisa tersebar di internet tanpa disadari. Jejak digital tersebut kemudian dapat memudahkan orang lain menemukan informasi pribadi, bahkan berpotensi dimanfaatkan untuk penipuan.

Kreator konten Hanifmuh_ yang dikenal sebagai Founder AI For Productivity membagikan sejumlah cara untuk mengurangi jejak digital dan menjaga identitas tetap aman.

Diketahui, Hanif memang banyak membahas soal kecerdasan buatan (AI), teknologi, produktivitas, karier hingga keuangan. Kali ini, ia mengingatkan pengguna internet untuk tidak membiarkan data pribadi tersebar begitu saja.

"STOP biarin nama lo gampang digoogling orang," tulis Hanif dalam kontennya, dikutip dari akun Instagtam pribadinya, Kamis (1/10/2026).

Ia menyarankan pengguna mulai mengecek jejak digital satu per satu. Tidak harus diselesaikan dalam satu malam, langkah tersebut bisa dilakukan secara bertahap.

Berikut delapan cara yang dibagikan Hanif untuk membersihkan jejak digital.

1. Cek Apakah Email Pernah Bocor

Langkah pertama adalah mengecek apakah alamat email pernah muncul dalam kebocoran data.

Pengguna bisa memanfaatkan layanan Have I Been Pwned dengan memasukkan alamat email. Layanan tersebut akan menunjukkan apakah alamat email yang dimasukkan tercatat dalam sejumlah kebocoran data yang telah masuk ke basis datanya.

Jika email ditemukan dalam kebocoran data, segera periksa akun yang terdampak dan ganti kata sandinya. Terlebih jika satu password pernah digunakan kembali pada sejumlah akun lain.

Kebiasaan menggunakan satu password untuk banyak akun memang berisiko. Karena itu, gunakan password yang berbeda untuk akun penting dan aktifkan autentikasi dua faktor jika tersedia.

2. Cek NIK yang Dipakai untuk Nomor Seluler

Langkah berikutnya berkaitan dengan NIK. Aturan registrasi kartu prabayar di Indonesia membatasi satu NIK untuk maksimal tiga nomor pelanggan prabayar pada setiap operator. Aturan tersebut juga mengatur kewajiban operator mematikan nomor yang terbukti menggunakan identitas orang lain tanpa hak atau tanpa izin.

Karena itu, pengguna perlu mengecek apakah ada nomor yang terdaftar menggunakan NIK tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Jika menemukan nomor yang tidak dikenal, pengguna dapat menghubungi operator seluler terkait atau mendatangi gerai resmi dengan membawa identitas untuk meminta penanganan.

3. Hapus Nomor dari Truecaller

Nomor telepon juga bisa muncul di layanan identifikasi penelepon seperti Truecaller.

Menariknya, seseorang tidak harus pernah memasang aplikasi Truecaller untuk mendapati nomornya tercantum di layanan tersebut.

Truecaller menyediakan fitur unlist bagi pengguna yang tidak ingin nomor teleponnya dapat dicari melalui layanan tersebut. Proses penghapusan bisa membutuhkan waktu hingga 24 jam.

Namun, ada konsekuensi setelah nomor di-unlist, termasuk hilangnya sejumlah fitur seperti identifikasi penelepon dan perlindungan spam.

4. Minta Google Hapus Informasi Pribadi

Nama seseorang bisa muncul di Google bersama nomor telepon, alamat rumah atau alamat email.

Google menyediakan fitur Results about you atau Hasil tentang Anda untuk membantu pengguna menemukan hasil penelusuran yang memuat informasi kontak pribadi tersebut.

Caranya, buka aplikasi Google, tekan foto profil atau inisial akun, kemudian pilih Results about you/Hasil tentang Anda. Pengguna dapat memasukkan nama dan informasi pribadi yang ingin dipantau. Jika ditemukan hasil yang sesuai, tersedia opsi untuk mengajukan permintaan penghapusan.

Google menjelaskan bahwa penghapusan dari hasil pencarian tidak selalu berarti informasi tersebut hilang dari internet. Jika ingin benar-benar menghilangkan informasi dari sumbernya, pengguna juga perlu menghubungi pemilik situs tempat data tersebut dipublikasikan.

5. Bersihkan Riwayat Google

Jejak aktivitas di layanan Google juga dapat diperiksa melalui My Activity. Di sana, pengguna dapat melihat dan menghapus aktivitas yang tersimpan di akun, termasuk aktivitas pencarian, situs yang dikunjungi dan video yang ditonton.

Pengguna juga dapat mengatur penghapusan otomatis untuk aktivitas tertentu. Google menyediakan pengaturan penghapusan otomatis dengan pilihan periode tertentu, tergantung jenis aktivitas dan layanan yang digunakan.

Untuk YouTube, misalnya, pengguna dapat menghapus atau menjeda riwayat pencarian dan tontonan.

Riwayat lokasi juga perlu diperiksa. Google Maps memiliki fitur Timeline yang menyimpan informasi mengenai tempat dan rute yang pernah dikunjungi jika fitur tersebut aktif. Pengguna dapat mengelola, menghapus atau mematikan Timeline dari pengaturan akun.

6. Cari dan Tutup Akun Lama

Berapa banyak akun internet yang pernah dibuat selama bertahun-tahun? Bisa jadi ada akun lama yang sudah tidak pernah digunakan tetapi masih aktif. Akun semacam itu juga dapat menyimpan informasi pribadi.

Hanif menyarankan pengguna mencari kembali email lama dengan kata kunci seperti "verify your email" untuk menemukan layanan yang pernah meminta verifikasi alamat email.

Jika menemukan akun yang sudah tidak diperlukan, masuk ke akun tersebut dan cari opsi untuk menghapusnya.

Jika proses penghapusan terasa sulit, pengguna bisa memanfaatkan layanan seperti JustDeleteMe sebagai panduan untuk menemukan halaman penghapusan akun berbagai layanan.

7. Bersihkan Foto dan Unggahan Lama

Media sosial juga menjadi sumber jejak digital yang sering terlupakan. Pengguna bisa membuka Activity Log di Facebook untuk meninjau unggahan lama berdasarkan periode waktu. Unggahan atau foto yang sudah tidak diperlukan dapat dihapus.

Untuk mengetahui apakah sebuah foto masih beredar di internet, pengguna juga dapat memanfaatkan Google Lens. Foto yang ingin diperiksa bisa dimasukkan ke layanan tersebut untuk melihat hasil pencarian visual yang terkait.

Langkah ini berguna terutama untuk menemukan foto lama yang pernah diunggah ke situs atau platform lain tanpa disadari.

8. Jangan Gunakan Satu Email untuk Semua Pendaftaran

Membersihkan jejak digital saja belum cukup. Kebiasaan saat membuat akun baru juga perlu diubah agar data tidak kembali tersebar.

Salah satu caranya dengan memisahkan email utama untuk keperluan penting dari alamat email yang digunakan untuk mendaftar layanan, promosi atau situs yang tidak terlalu penting.

Pengguna iPhone juga dapat memanfaatkan Sign in with Apple dengan fitur Hide My Email untuk membuat alamat email acak yang diteruskan ke email pribadi. Dengan begitu, alamat email utama tidak perlu diberikan langsung kepada layanan yang digunakan.

Untuk kebutuhan lain, pengguna juga bisa menggunakan alamat email alias atau email forwarding dari layanan yang terpercaya. 

"Yang bikin data lo bocor lagi itu satu email buat semua pendaftaran," kata Hanif.

Demikian delapan langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalisir jejak digital seseorang. Namun perlu diketahui, cara di atas tidak bisa menghapus secara keseluruhan jejak digital. Informasi yang sudah pernah tersebar bisa saja masih tersimpan di situs lain, arsip, salinan, atau database pihak ketiga. 

Bahkan ketika Google menghapus sebuah hasil dari pencarian, halaman sumbernya belum tentu ikut terhapus. Google sendiri menjelaskan bahwa pengguna dapat menghubungi pemilik situs jika ingin meminta informasi dihapus dari sumbernya.

Karena itu, membersihkan jejak digital lebih tepat dilakukan sebagai proses rutin. Setelah data lama dibersihkan, kebiasaan membagikan informasi pribadi juga perlu diperhatikan agar data tidak kembali tersebar.

Hanif mengajak pengguna mengerjakannya secara bertahap. "Satu langkah tiap malam. Maka delapan malam lagi, nama lo jauh lebih susah dicari orang," tulisnya.

Selain urusan data digital, Hanif juga mengingatkan soal keamanan perangkat. Salah satunya adalah kamera laptop yang berpotensi disalahgunakan jika perangkat terkena malware atau dikendalikan pihak lain.

Karena itu, penggunaan penutup kamera laptop dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengurangi risiko akses kamera tanpa izin.

Namun, penutup kamera bukan pengganti keamanan perangkat. Pengguna tetap perlu memperbarui sistem operasi dan aplikasi, menggunakan password yang kuat, mengaktifkan autentikasi tambahan, serta berhati-hati saat membuka tautan atau memasang aplikasi.

Dengan langkah tersebut, pengguna setidaknya dapat mengurangi jumlah informasi pribadi yang mudah ditemukan secara online sekaligus memperkecil risiko data dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Semoga informasi ini membantu ya.