JATIMTIMES - Kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan terus berjalan, sementara pemasukan belum tentu bertambah. Situasi seperti ini terkadang membuat seseorang mudah mengeluh, cemas, bahkan kehilangan harapan. Padahal, Islam mengajarkan umatnya untuk tetap berusaha sekaligus menjaga keteguhan hati ketika menghadapi kesulitan.
Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan banyak contoh bagaimana menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran, kesederhanaan, kejujuran, dan sikap tidak mudah menyerah. Ketika berada dalam keadaan sulit, Rasulullah saw tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk mengabaikan kewajiban maupun kepedulian kepada sesama.
Baca Juga : Makam Bung Karno 24 Jam Bergeliat: Wali Kota Blitar Gagas Ziarah Rutin Malam Jumat, Terbuka untuk Masyarakat
Karena itu, kondisi ekonomi yang sulit dapat menjadi momen untuk kembali melihat bagaimana Rasulullah saw menjalani kehidupan. Bukan hanya tentang cara memenuhi kebutuhan, tetapi juga bagaimana tetap menjaga keimanan, bekerja dengan cara yang halal, bersikap qanaah, serta tidak melupakan orang lain yang juga membutuhkan pertolongan.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Hadirin jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Swt.
Marilah pada kesempatan yang mulia ini kita kembali menguatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa tidak hanya bekal yang kita perlukan untuk kehidupan setelah kematian, tapi juga menjadi pegangan ketika menjalani kehidupan dunia yang penuh dengan ujian dan ketidakpastian.
Dalam keadaan apa pun, orang yang bertakwa tidak akan kehilangan tempat untuk berharap. Ketika menghadapi persoalan yang terasa buntu, Allah menjanjikan jalan keluar. Ketika rezeki terasa sempit, Allah dapat mendatangkannya dari arah yang sama sekali tidak pernah kita perkirakan.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Thalaq ayat 2 dan 3:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ ٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ٣
Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.”
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ayat tersebut terasa begitu dekat dengan kehidupan kita hari ini. Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok membuat sebagian keluarga harus kembali menghitung pengeluaran dengan lebih cermat.
Daya beli masyarakat ikut tertekan, sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan. Dalam kondisi seperti ini, rasa khawatir tentu mudah muncul, terutama ketika memikirkan bagaimana mencukupi kebutuhan keluarga.
Namun, kesulitan ekonomi bukanlah persoalan yang baru kita kenal pada zaman sekarang. Sejak masa Rasulullah saw., masyarakat juga pernah menghadapi keadaan ekonomi yang berat.
Dijelaskan salam Kitab Kanzul Ummal, bahwa masyarakat Madinah pada masa Rasulullah saw pernah mengalami inflasi dan kesulitan ekonomi yang cukup hebat. Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah saw tidak membiarkan umatnya larut dalam keputusasaan. Beliau justru mengajarkan kesabaran, saling menguatkan, serta keyakinan bahwa keberkahan Allah dapat hadir melalui kebersamaan.
Rasulullah saw menggambarkan bagaimana kebersamaan dapat mendatangkan keberkahan dalam makanan. Makanan yang pada awalnya diperkirakan hanya cukup untuk satu orang dapat mencukupi dua orang. Porsi dua orang dapat mencukupi empat orang. Bahkan makanan untuk empat orang dapat mencukupi lima sampai enam orang.
Pesan yang disampaikan Rasulullah saw sederhana, namun sangat dalam. Dalam keadaan sulit, jangan hanya bertanya, “Bagaimana saya bisa bertahan sendiri?” Kita juga perlu bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan agar orang di sekitar saya tidak semakin kesulitan?”
Hadirin jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Swt.
Dari teladan Rasulullah saw tersebut, setidaknya ada tiga sikap yang harus kita rawat ketika menghadapi tekanan ekonomi, yakni sabar, optimistis, dan menjaga kebersamaan.
Kesulitan hidup jangan sampai membuat hubungan antarsesama menjadi renggang. Jangan karena keadaan ekonomi kita kemudian mudah menyalahkan orang lain, memutus silaturahim, atau hanya sibuk menyelamatkan kepentingan diri sendiri.
Justru ketika keadaan sedang sulit, semangat gotong royong harus semakin kuat. Orang yang memiliki kelebihan dapat membantu yang kekurangan. Orang yang memiliki kesempatan dapat membuka jalan bagi orang lain. Dan siapa pun yang memiliki sedikit rezeki tetap dapat berbagi sesuai dengan kemampuannya.
Dalam situasi seperti ini, Rasulullah saw. juga memberikan perhatian kepada para pedagang. Mereka memiliki peran penting karena barang yang diperjualbelikan berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Rasulullah saw memberikan kabar gembira bagi pedagang yang menjaga kejujuran dan amanah. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah:
التَّاجِرُ الأَمِينُ الصَّدُوقُ الْمُسْلِمُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: "Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada pada hari kiamat." (HR Ibnu Majah).
Hadis ini seharusnya menjadi pengingat bagi siapa saja yang menjalankan usaha. Keadaan ekonomi yang sulit bukan kesempatan untuk mengambil keuntungan dengan cara yang merugikan orang lain.
Jangan sampai ada barang yang sengaja ditimbun agar harganya naik. Jangan ada kecurangan dalam timbangan. Jangan pula mengambil keuntungan secara berlebihan ketika masyarakat sedang berada dalam kesulitan. Sebab, keuntungan yang diperoleh dengan cara demikian bisa saja menambah berat beban orang banyak dan melahirkan persoalan ekonomi yang baru.
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Ada satu lagi teladan Rasulullah saw yang penting kita renungkan ketika menghadapi keadaan ekonomi seperti sekarang, yaitu kesederhanaan.
Rasulullah saw memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Beliau adalah utusan Allah dan pemimpin umat. Namun, kedudukan yang mulia itu tidak membuat beliau hidup dalam kemewahan yang berlebihan. Rasulullah saw justru menunjukkan bagaimana menjalani kehidupan dengan sederhana dan secukupnya.
Teladan ini semakin penting untuk kita renungkan pada zaman ketika kehidupan sering kali diukur dari apa yang tampak di hadapan orang lain. Media sosial membuat kita begitu mudah melihat rumah mewah, kendaraan mahal, pakaian bermerek, perjalanan ke berbagai tempat, hingga gaya hidup yang serba berlebihan.
Tanpa disadari, semua itu bisa membuat seseorang terus merasa kurang. Apa yang dimiliki hari ini terasa tidak cukup karena melihat apa yang dimiliki orang lain. Keinginan pun bertambah, meskipun sebenarnya kebutuhan sudah terpenuhi.
Baca Juga : 6 Keutamaan Salat Jumat, dari Menghapus Dosa hingga Raih Kasih Sayang Allah
Karena itu, Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita bagaimana cara memandang nikmat. Beliau bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Artinya: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian." (HR Muttafaq 'Alaih).
Nasihat ini bukan berarti kita dilarang memiliki cita-cita atau berusaha memperbaiki kehidupan. Yang perlu dijaga adalah hati agar tidak terus-menerus merasa kekurangan hanya karena membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Sebab, rasa kurang sering kali bukan muncul karena sedikitnya apa yang kita punya, melainkan karena terlalu sering melihat apa yang dimiliki orang lain.
Rasulullah saw juga mengajarkan kepada kita agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Kehidupan dunia ini seperti perjalanan. Seorang musafir tentu tidak akan memenuhi barang bawaannya dengan sesuatu yang justru membuat langkahnya semakin berat. Ia memilih membawa apa yang benar-benar diperlukan untuk sampai ke tujuan.
Begitu pula dalam menjalani kehidupan. Kita boleh memiliki harta, rumah, kendaraan, pakaian, dan berbagai kebutuhan duniawi. Namun, jangan sampai keinginan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa perjalanan hidup ini memiliki tujuan akhir.
Rasulullah saw. bersabda:
وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ، إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟
Artinya: “Wahai anak Adam tidaklah ada dari hartamu kecuali yang engkau makan kemudian lenyap, atau pakaian yang engkau pakai kemudian usang, atau yang engkau sedekahkan dan jadi simpananmu (di akhirat).” (HR Muslim).
Jemaah salat Jumat yang dimuliakan Allah,
Hadis tersebut mengajak kita berhenti sejenak dan menghitung kembali apa yang selama ini kita kejar. Berapa banyak harta yang akhirnya hanya kita nikmati sementara? Berapa banyak yang kita simpan, lalu suatu hari harus kita tinggalkan?
Yang kita makan akan habis. Pakaian yang kita kenakan pada akhirnya akan usang. Harta yang kita sedekahkan untuk kebaikan, itulah yang akan menjadi bekal bagi kita di akhirat.
Karena itu, hidup sederhana bukan berarti hidup tanpa ikhtiar. Sederhana berarti mampu menempatkan harta pada tempatnya. Kita bekerja dan mencari rezeki dengan sungguh-sungguh, memenuhi kebutuhan keluarga dengan baik, lalu tidak membiarkan keinginan menguasai seluruh kehidupan.
Allah Swt. juga telah mengingatkan kita agar tidak berlebih-lebihan. Dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 31, Allah berfirman:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ ٣١
Artinya: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Islam tidak mengharamkan kita menikmati rezeki Allah. Kita diperintahkan makan, minum, berpakaian dengan baik, dan memenuhi kebutuhan hidup. Namun, semua itu harus dilakukan dengan batas yang wajar dan tidak berlebihan.
Hadirin jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Swt.
Di tengah keadaan ekonomi yang penuh tantangan, mari kita kembali belajar dari Rasulullah saw. Kita kuatkan takwa, kita rawat kesabaran, dan kita tumbuhkan optimisme. Jangan biarkan kesulitan membuat kita kehilangan kepedulian kepada sesama.
Mari pula kita hidup lebih sederhana. Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Jangan sampai apa yang kita lihat di media sosial membuat kita lupa mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan.
Bagi yang memiliki kelapangan rezeki, mari sisihkan sebagian untuk membantu sesama. Bagi para pedagang, mari jaga kejujuran dan amanah. Bagi kita semua, mari menjaga agar kesulitan ekonomi tidak memudarkan persaudaraan.
Semoga Allah Swt. memberikan keberkahan pada setiap rezeki yang kita peroleh, melapangkan segala kesempitan yang sedang kita hadapi, mencukupi kebutuhan keluarga kita, serta menganugerahkan hati yang senantiasa bersyukur.
Semoga Allah memberi kita kesabaran ketika diuji, keteguhan ketika menghadapi kesulitan, dan kemampuan untuk terus mengikuti teladan Rasulullah saw. dalam menjalani kehidupan. Amin Ya Rabbal Alamin.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
