JATIMTIMES - Aleppo kembali menjadi medan pertempuran sengit. Pasukan pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS) menyerbu kota tersebut dalam serangan terbesar mereka sejak 2020, menewaskan puluhan tentara Suriah.
Serangan pada Sabtu malam (30/11) menjadi tantangan bagi Presiden Bashar al-Assad yang telah menguasai kota itu sejak 2016.
HTS, kelompok yang dianggap teroris oleh Amerika Serikat, Rusia, dan Turki, berhasil menduduki sebagian besar wilayah Aleppo, termasuk bandara kota tersebut. Akibatnya, militer Suriah melakukan penempatan ulang pasukan untuk memperkuat pertahanan mereka.
Iran Siap Membantu
Menanggapi kekacauan itu, Menlu Iran Abbas Araghchi akan memberikan dukungan penuh kepada Pemerintah Suriah setelah serangan pemberontak di wilayah Aleppo.
Pada Minggu (1/12/2024), Araghchi akan meninggalkan Teheran menuju Damaskus untuk menyampaikan pesan dukungannya bagi pemerintah dan angkatan bersenjata Suriah.
Iran juga menegaskan, mereka tidak memiliki pasukan tempur di Suriah, hanya perwira yang memberikan nasihat dan pelatihan militer.
"Saya akan ke Damaskus untuk menyampaikan pesan Republik Islam kepada pemerintah Suriah. Teheran akan mendukung penuh pemerintah dan tentara Suriah," kantor berita negara IRNA melaporkan, dikutip dari AFP.
Araghchi kembali menyebut serangan mendadak pemberontak itu sebagai rencana Amerika Serikat dan Israel.
"Tentara Suriah akan sekali lagi mengalahkan kelompok-kelompok teroris ini seperti di masa lalu," Menlu Iran menambahkan.
Rusia Juga Akan Membantu
Rusia yang juga merupakan sekutu utama Assad, akan segera meluncurkan serangan udara terhadap posisi pemberontak di Aleppo dan Idlib.
Serangan tersebut menargetkan pos komando, depot senjata, dan artileri pemberontak. Kementerian Pertahanan Rusia mengeklaim 300 pejuang pemberontak tewas dalam gempuran itu.
Namun, situasi ini juga memakan korban warga sipil. Pertahanan Sipil Suriah menyebut serangan udara Rusia dan Suriah di Idlib menewaskan empat orang dan melukai enam lainnya.
“Saya putra Aleppo. Delapan tahun lalu saya terpaksa mengungsi. Kini, alhamdulillah, kami kembali,” katanya penuh emosi, berdiri di dekat benteng bersejarah Aleppo, seperti dikutip dari Reuters.



