JATIMTIMES - Dalam sebuah acara Bincang Sastra  pada 14 November 2024 di Aula AVA D14 Fakultas Sastra menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Prof. Wahyudi Siswanto dan Fajar Andre Setiawan yang membahas psikologi sastra sebagai sarana ekspresi untuk mendukung kesehatan mental. Diskusi ini mengungkapkan bagaimana berbicara dan berbagi cerita dapat memberikan efek terapi bagi seseorang yang mengalami masalah sosial atau psikologis.

Prof. Wahyudi memaparkan kisah inspiratif tentang pasien yang pulih dari penyakitnya hanya melalui terapi berbicara. “Kemarin Pak Joko Sarjota bercerita bahwa ada seseorang dengan penyakit jantung yang pergi ke Singapura untuk perawatan. Di sana, dia hanya diajak berbicara, tanpa minum obat, namun akhirnya sembuh,” katanya. 

Ia juga mengutip kisah lain di mana seseorang merasa lega setelah berbagi cerita dengan psikolog. “Orang itu merasa lega setelah membayar untuk didengarkan. Ini menunjukkan betapa pentingnya berbicara dan didengarkan,” lanjut Prof. Wahyudi.

Fajar Andre Setiawan dalam kesempatan yang sama menyoroti betapa sastra memiliki kekuatan menyembuhkan. Menurutnya, dongeng dan cerita mampu membawa ketenangan. Ia mencontohkan adegan dalam film Titanic ketika seorang ibu mendongengi anak-anaknya di saat-saat genting yang menciptakan kedamaian di tengah ketakutan.

Diskusi juga mengungkap sisi lain dari sosok sastrawan Indonesia, yang oleh Fajar digambarkan sebagai pribadi jenius namun sedikit eksentrik. Ia berbagi kisah tentang pengalamannya bergaul dengan para sastrawan besar seperti Habiburrahman El Shirazy, Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, dan Taufik Ismail. 

Menurutnya, para sastrawan ini memiliki pandangan visioner yang kadang tidak dipahami masyarakat luas. Fajar juga mengenang pengalaman pribadinya sebagai penulis puisi. Pada awal kariernya, ia pernah merasa kecewa ketika puisinya ditolak untuk publikasi, namun akhirnya ia terus menulis dan berhasil membuat karyanya diakui. 

“Beberapa puisi saya bahkan dipajang dalam pameran,” kenangnya.