Sebagai bentuk hajatan politik tingkat lokal, pilkada menjadi tumpuan harapan kita bersama. Mulai 28 Agustus 2024, kita bisa menyaksikan para calon walikota dan wakil yang akan berlaga dalam pilkada di Kota Batu 2024 ini.
Ada tiga pasang yang telah mendaftar di KPUD Kota Batu sebagai pasangan calon walikota dan wakil walikota yang akan berlaga. Ketiganya yaitu pasangan Firhando Gumelar dan H.Rudi yang diusung oleh Golkar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Demokrat, pasangan Nurochman dan Heli Suliyanto yang diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)-Gerindra sedangkan pasangan Krisdayanti (KD) dan Kresna Dewanata Prosakh (Dewa) yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan NasDem.
Kita patut berbahagia karena muncul aktor-aktor dengan potensi dan kelebihan masing-masing. Pasangan Firhando Gumelar dan H.Rudi merupakan kombinasi orang luar dan orang lokal Batu. Sekalipun jika dikaitkan dengan kota ini, Ibunda Firhando pernah menjadi Kapolres Batu tahun 2007. Sebagai pengusaha muda yang pasti Firhando memiliki nilai-nilai kewirausahaan (enterpreneurship) untuk pengelolaan kota. Modal finansial yang besar diimbangi niatan sebagai kepala daerah yang mengabdi. Dari sisi sosiologis, aktor yang "baru" dikenal malahan belum di"titeni" banyak orang karena debutnya belum diketahui. Sedangkan H.Rudi memiliki pengalaman bisnis, bekerja di komunitas, politisi dan ketua partai sejak 2016. Terkait aktivitas di komunitas, penulis pernah berkolaborasi pada advokasi penyelamatan mata air di Sumber Gemulo. Saat itu, ketokohan Kaji Rudi yang mampu menggalang massa dari desa-desa Lor Brantas.
Pasangan Nurochman dan Heli Suliyanto tidak kalah menarik. Keduanya, representasi "tokoh lokal" dengan pengalaman malang melintang di kota ini. Kelebihan Nurochman yaitu anggota DPRD selama dua periode sejak 2014 yang sekaligus menakhodai PKB Kota Batu sejak 2010. Penulis tidak memiliki pengalaman khusus dengan dia, tetapi sebagai anggota dewan pasti berjibaku dengan isu-isu warga. Menurut narasumber yang penulis wawancarai, ia telah melahirkan perda tentang pesantren. Sedangkan, Heli Suliyanto sebagai Ketua Gerindra dan anggota DPRD senior. Sebagai pribadi, Heli sangat terbuka disebabkan pernah sebagai Ketua Karang Taruna Kota Batu. Kelebihan pasangan ini memahami isu-isu strategis kota yang ditambah pengalaman di komunitas akar rumput.
Pasangan Krisdayanti dan Kresna Dewanata Prosakh memiliki kelebihan lain. Di banding dua pasangan lain, keduanya lebih banyak berkiprah di tingkat nasional. Kita mengetaui, Krisdayanti dilahirkan di Kota Batu yang sukses sebagai diva kelas nasional. Selain itu ia pernah sebagai anggota DPR RI. Suami KD yang berlatar pengusaha jelas memiliki kapital/resources yang bisa disumbangkan untuk kebaikan kota. Karakter Dewa sama dengan KD, pernah menjadi anggota DPR RI. Jejaring sosial tingkat nasional sebagai anggota DPR RI dibutuhkan untuk pengembangan kota. Bukankah trend perkembangan kota-kota di Indonesia tidak bisa mengandalkan dana dari pemerintah kota saja, tetapi juga mendapat pasokan dari pendanaan pusat?
Ada dua kecenderungan umum aktor-aktor yang berlaga dalam pilkada yaitu: Pertama, rata-rata anak muda. Bisa dikatakan bahwa aktor-aktor yang berlaga adalah anak muda yang identik dengan keterbukaan atas ide-ide baru. Anak-anak muda siap menerima gagasan-gagasan perubahan dari kelompok manapun. Ia tidak cenderung menggunakan legitimasi masa lalu. Gagasan-gagasan dari manapun dan dalam aspek apapun harus diterima dengan baik. Kemudian, jam kerja bisa melampau rata-rata. Untuk peningkatan kinerja. Firhando, Heli dan Dewa merupakan representasi anak muda yang progresif dan bisa bekerja dengan capaian-capaian lebih.
Kedua, pengalaman politik panjang. Baik Nurochman, Heli, Rudi, Dewa merupakan ketua partai. Kota Batu yang hanya memiliki tiga kecamatan, pastilah sudah dijelajahi oleh keempat orang ini. Sedangkan, pengalaman politik nasional KD dan Dewa di tingkat nasional dan pengalaman bisnis Firhando di luar Kota Batu mendukung kerja-kerja politik dalam birokrasi dan pemerintahan lokal. Sejak 2004, politik di Indonesia tidak bisa lepas dari modal ekonomi dan modal finansial. Pengetahuan dan pengalaman politik yang matang tidak akan efektif tanpa dukungan asupan sumber daya besar. Belum lagi jika kita melihat rata-rata kota di Indonesia cenderung kapitalis dan diikuti warga yang mulai defisit kerelawanan.
Kota Batu yang Maju
Untuk menganalisa energi positif pada pilkada Batu, penulis meminjam konsep yang populer pada salah satu paradigma sosiologi yaitu fungsionalisme struktural. Kebanyakan para pengkaji sosiologi menyebutnya sebagai skema AGIL :adaptation (adaptasi), goal attaintment (pencapaian tujuian), integration (integrasi) dan latency (pemeliharaan pola). Menurut penulis, kota akan survive, maju dan berkembang jika mampu mengikuti prinsip-prinsip AGIL.
Adaptation menjelaskan kekuatan ekonomi untuk menggerakkan kota. Tanpa dukungan pendanaan kota yang kuat, kota wisata ini tidak akan kompetitif. Kebersamaan pencapaian pembangunan dibutuhkan. Sayangya, penulis masih melihat dualisme ekonomi dimana sektor ekonomi modern belum sejalan dengan sektor lokal. Beberapa kelompok menikmati kopi di hotel-hotel berbintang dengan kisaran harga Rp. 100.000 sampai Rp. 300.000, sementara warga petani cukup nyruput kopi di rumah-rumah mereka.
Dualisme juga dilihat dari ketidakseimbangan antara pariwisata dan pertanian. Pariwisata berkapital besar digenjot, tetapi desa wisata kurang medapat perhatian serius yang sama artinya nasib petani kurang diperhatikan. Petani model lama terdesak dan dikalahkan oleh kapitalisasi kota. Para pemimpin di Kota Batu harus memikirkan agar dualisme ekonomi bisa diatasi dengan keperpihakan, pembangunan, pemberdayaan dan kebijakan.
Goal attainment merupakan bentuk pencapaian tujuan. Tujuan kota Batu "Hakaryo Guno Mamayu Bawono belum terimplementasi dengan baik. Batu membutuhkan kebijakan untuk mengatasi masalah ekologi, persoalan tata ruang, kerentanan bencana, darurat sampah dan pengelolaan SDM. Kalau dilihat dari wacara (discourse) yang berkembang dikalangan elit, tujuan dan gambaran kota ideal sudah dimiliki. Namun, penulis masih melihat lemahnya rumusan, implementasi dan evaluasi. Tidak sedikit kita mendapati birokrasi yang masih memiliki target minimalis.
Integration yaitu mengintegrasikan semua kelompok. Berbeda dengan Kota Malang, karakter lokal Batu masih ditandai kohesi sosial yang dirangkum dalam modal sosial guyub, rukun lan paseduluran. Sekalipun hiruk pikuk politik tingkat nasional KIM dengan non KIM, tetapi koalisi lokal tidak terpengaruh akan itu. Namun, permasalahan yang perlu diwaspadai Kota Batu yang terus mengkota (urbanization) dan birokratisasi akan menggerus pengetahuan lokal. Disinilah sejatinya institusi, kebudayaan dan organisasi masyarakat/hukum harus memerankan diri dengan baik. Tantangan pemerintah lokal dan aktor-aktor berlaga tentunya dituntut memaksimalkan institusi-institusi ini.
Latency atau pemeliharaan pola menjelaskan pandangan Talcott Parsons tentang keluarga sebagai lembaga yang bisa memainkan pemeliharaan pola. Kini kota-kota di Indonesia sedang mengalami kapitalisasi yang menggerus nilai-nilai luhur keluarga, otomatis kekentalan nilai-nilai lokal agraris di Kota Batu akan berhadapan dengan kapitalisasi dimana melahirkan anak-anak muda yang tidak paham sejarah, budaya lokal dan tata krama. Belum lagi kemunculan wilayah-wilayah kawasan modern bernilai mahal yang menandai segregasi ekonomi yang tidak terintegrasi dengan wilayah-wilayah di desa, maka dipastikan semakin menggerus nilai-nilai lokal adiluhung tersebut.
Tantangan
Penulis berprasangka positih bahwa semua aktor yang berlaga dalam pilkada Batu berhasil mengangkat isu-isu strategis kota. Dalam bahasa David Osborne dan Ted Gaebler (1992) sebagai Reinventing Government. Tahapan mulai kampanye sampai pencoblosan merupakan dialektik yang mencerdaskan, menguatkan reputasi dan pembuktian integritas aktor.
Pilkada 2024 merupakan refleksi dan evaluasi serta komitmen bersama atas perbaikan kota. Semoga niatan baik selalu ada pada paslon, hanya yang berbeda pada titik tekan, apakah memulai dari pembenahan pariwisata atau memperbaiki kondisi pertanian. Memulai dari pemanfaaan sumber daya lokal ke ceruk nasional atau menggali sumber daya nasional untuk memperkuat sumber daya lokal.
Sebagai orang yang tidak lahir di kota ini, penulis menyayangkan, kota yang dikaruniai Allah SWT dengan sumber daya ini kalau tidak pernah mencapai hasil maksimal. Sepanjang penulis mengkaji Kota Batu sejak 1999, aktor-aktor suplus wacana dan janji, pandai berdiskusi tentang kesejahteran, dualisme dan dualitas kota wisata dan kota pertanian serta moralitas, tetapi "debatable" di level capaian.
Sebagai pemerintah lokal, birokrasi juga rajin membuat program dan kebijakan, tetapi banyak yang tidak ditindaklanjuti dengan baik dan ada pula yang dieksekusi tetapi tidak tuntas. Disinilah, kita berharap pada aktor-aktor ke depan agar mampu membuat agenda (agenda setting) yang tepat, berbasis kebutuhan dan permasalahan warga semua dan kekinian yang kemudian diperkuat komitmen dan integritas tinggi pada pengelolan kota. Semoga.





