MALANGTIMES - Membicarakan wisata di Kabupaten Malang seperti tak akan ada habisnya. Mulai wisata alam, pantai, pegunungan hingga wisata religi. Nah, kali ini MalangTIMES menelusuri salah satu wisata dari 16 desa wisata yang sudah ditetapkan Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, yakni wisata religi Pesarean Gunung Kawi.
Wisata magis itu berada di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari. MalangTIMES berkunjung ke wisata religi itu dari Kota Malang. Kira-kira perjalanan sampai di tempat tujuan menghabiskan waktu sekitar satu jam.
Jalur yang menuju ke arah wisata religi Gunung Kawi mengarah ke selatan melewati Kebonagung-Jalibar Kepanjen menuju papan jalan yang mengarah ke wilayah Kecamatan Wonosari. Sesampainya di wilayah Wonosari, Anda mencari arah Desa Wonosari. Kira-kira jaraknya sekitar 40 kilometer sebelah barat Kota Malang.
Ketika menempuh perjalanan masuk di wilayah Kecamatan Wonosari, sejauh mata memandang kanan kiri jalan dimanjakan dengan pemandangan alam pegunungan yang asri. Selain itu, perjalanan tampak menyenangkan dan bisa juga menegangkan lantaran medan jalan yang dilalui memiliki tikungan, turunan, dan tanjakan yang cukup ekstrem.
Oleh sebab itu, wisatawan harus waspada dan berhati-hati mengendarai kendaraan di setiap medan jalan yang dilalui. Kondisi jalan menuju wisata ini memang sudah diaspal mulus dan cukup bagus. Hanya saja lebih konsentrasi melalui setiap tikungan yang ada.
Sebelum sampai di tempat tujuan, Anda akan disambut dengan gapura pintu masuk wilayah wisata religi Gunung Kawi dengan kondisi jalan yang cukup menanjak. Sekitar 100 meter dari loket pintu masuk, Anda akan diarahkan papan jalan yang mengarah ke tempat parkir kendaraan.
Untuk memasuki wilayah Pesarean Gunung Kawi, Anda harus memarkirkan kendaraan terlebih dahulu. Setelah itu Anda akan berjalan di lorong gang pemukiman warga sekitar.
Melalui lorong gang jalan menuju wisata, Anda akan disapa ramah senyum penduduk dari kultur kebudayaan yang berbeda. Yakni ada orang Tionghoa dan umat muslim. Namun mereka sangat menjalin kerukunan dan kebersamaan antarumat beragama.
Melalui jalan lorong itu, kanan kiri Anda akan dimanjakan pemandangan bangunan-bangunan yang memiliki arsitektur khas Tiongkok dan beranekaragam kuliner dan oleh-oleh yang dijajakan warga sekitar. Mulai dari alat kesenian tradisional, aneka lampion, baju khas Tionghoa, lilin-lilin besar, dan cenderamata lainnya.
Berjalan kaki sekitar kurang lebih 500 meteran sebelah kanan jalan, Anda akan melihat sebuah bangunan kanan jalan, yakni Ciam Si dan kelenteng tempat ritual ibadah orang Konghucu. Tampak sore itu, pengunjung yang datang berlatar belakang budaya ada orang Tionghoa dan umat muslim yang memanjatkan doa menurut kepercayaan masing-masing.
Sekitar 200 meter sebelum pintu masuk gerbang wisata, masyarakat sekitar menjajakan bunga untuk nyekar dan berdoa di Makam Mbah Djoego (Eyang Jugo) dan Raden Mas Imam Soedjono. Keduanya leluhur di kawasan pesarean tersebut. Mereka merupakan sosok yang membabat alas di wilayah tersebut. Selain itu, mereka memiliki kiprah menjadi laskar Pangeran Diponegoro pada masa perang melawan penjajah. (*)




