JATIMTIMES - Banyak orang merasa kecil dan bersalah ketika terbangun dan mendapati waktu Subuh telah lewat. Seolah ia sendirian dalam kelalaian itu. Padahal, sejarah Islam mencatat fakta penting yang sering luput disadari ternyata para sahabat Nabi SAW pun pernah mengalami hal yang sama.

Peristiwa ini diriwayatkan langsung oleh sahabat Abu Qatadah radhiyallahu anhu. Saat itu, ia bepergian bersama Rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan jauh. Karena kelelahan, rombongan sepakat berhenti sejenak untuk beristirahat. Meski demikian, Rasulullah SAW sempat mengingatkan adanya kekhawatiran jika mereka tertidur dan melewatkan salat Subuh.

Bilal bin Rabah kemudian mengambil tanggung jawab untuk membangunkan rombongan ketika waktu salat tiba. Namun malam itu, rasa lelah mengalahkan kesiapsiagaan. Bilal tertidur, begitu pula para sahabat lainnya. Bahkan Rasulullah SAW pun baru terbangun saat matahari telah terbit.

Saat tersadar, Rasulullah SAW menegur Bilal dengan kalimat yang sarat makna. “Wahai Bilal, bagaimana dengan apa yang engkau janjikan?” Bilal menjawab dengan jujur bahwa ia belum pernah mengalami tidur sedalam itu sebelumnya.

Alih-alih menyalahkan, Rasulullah SAW justru menjelaskan hakikat kejadian tersebut. “Sesungguhnya Allah menahan ruh kalian ketika Dia kehendaki dan mengembalikannya ketika Dia kehendaki,” sabda beliau. Penjelasan ini menegaskan bahwa tertidur bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan kondisi di luar kendali manusia.

Setelah itu, Rasulullah SAW memerintahkan Bilal mengumandangkan azan. Beliau berwudu dan mengimami salat Subuh berjamaah bersama para sahabat, meskipun waktu salat telah berlalu. Praktik inilah yang kemudian dikenal sebagai salat qadha karena dikerjakan setelah waktunya lewat akibat uzur.

Ulama kharismatik M Quraish Shihab dalam bukunya M Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui menjelaskan bahwa kisah ini menjadi jawaban tegas bagi mereka yang tertidur hingga melewatkan salat. Fakta bahwa Nabi dan para sahabat pernah kesiangan menunjukkan bahwa Islam memahami keterbatasan manusia, tanpa menghapus kewajiban ibadah.

Penegasan ini sejalan dengan hadis riwayat Imam Al Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian tertidur sehingga tidak melaksanakan salat atau lupa melaksanakannya, maka hendaklah ia melaksanakannya ketika ia ingat.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Barang siapa lupa melaksanakan salat, maka hendaklah ia melaksanakannya ketika ia ingat. Tidak ada kafarat baginya selain melaksanakan salat itu.”

Tidur dalam pandangan Islam disamakan dengan kematian sementara. Ruh berada dalam genggaman Allah, sehingga manusia tidak dibebani tanggung jawab atas sesuatu yang terjadi di luar kesadarannya. Bahkan generasi terbaik umat ini pun tidak luput dari kondisi tersebut.

Namun ada satu garis tegas yang ditarik. Begitu terbangun dan sadar, kewajiban itu kembali hidup. Tidak ada ruang untuk menunda, apalagi meremehkan. Kisah sahabat yang kesiangan ini bukan pembenaran untuk lalai, melainkan penguat bahwa Islam berdiri di atas keadilan dan kasih sayang, sekaligus disiplin.