Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ekonomi

Terdampak Hujan dan Pasar Lesu, Petani Bunga Pikok Kota Batu Berjuang Selamatkan Sisa Panen

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : A Yahya

24 - Jan - 2026, 16:35

Placeholder
Petani bunga pikok di Desa Sumberejo Kecamatan Batu Kota Batu baru saja memanen sebagian bunga yang dinilai berkualitas baik. Petani pikok harus memilah dan memilih panen saat diterpa hujan beberapa pekan terakhir karena banyak bunga rusak.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Intensitas hujan tinggi yang mengguyur Kota Batu dalam beberapa pekan terakhir mulai memicu kecemasan di kalangan petani bunga. Salah satu yang paling terdampak adalah komoditas bunga pikok, di mana kualitas tanaman di lahan mengalami penurunan hingga terancam tak bisa panen maksimal akibat banyak batang bunga yang rapuh dan kelopak yang mudah rontok.

Kondisi pelik ini dirasakan langsung oleh Irgi Efendi, salah seorang petani bunga pikok di Kota Batu. Ia mengungkapkan bahwa guyuran hujan yang terus-menerus membuat batang bunga miliknya tidak mampu lagi berdiri tegak. Batang pikok yang rentan membuatnya mudah roboh dan sulit untuk diselamatkan.

Baca Juga : Pasar Monolog #4 KBKB Malang: Saat Satu Aktor Suarakan Banyak Cerita, Sedot Ratusan Penonton

"Kalau sudah roboh, tidak bisa dipanen karena beberapa mulai busuk terkena tanah," jelas Irgi saat ditemui di lahannya, belum lama ini.

Dia menjelaskan bahwa ketahanan tanaman ini berbeda-beda bergantung pada jenis dengan warna tertentu. Bunga pikok ungu dinilai jauh lebih tangguh menghadapi terpaan air hujan dibandingkan varietas warna putih. Pikok putih memiliki karakteristik kelopak yang lebih kecil, sehingga sangat rentan rontok dan hancur jika terus-menerus diguyur hujan lebat.

Pukulan bagi para petani terasa semakin berat karena saat ini permintaan pasar sedang mengalami kelesuan. Para petani tidak bisa langsung memanen hasil buminya secara bebas, melainkan harus bersabar mengikuti sistem antrean yang diterapkan oleh pihak pengepul atau supplier.

"Kami harus nunggu dulu supplier habis, baru bisa motong lagi. Itupun gantian biar semua rata," bebernya.

Meski dihantam cuaca buruk dan sepinya pasar, harga bunga pikok di tingkat petani sebenarnya tergolong relatif stabil di angka Rp 8.000 per ikat besar. Namun, stabilitas harga ini tidak serta merta membawa keuntungan melimpah bagi petani karena jumlah bunga yang layak jual menyusut drastis.

Baca Juga : Mengayuh dengan Hati, Ratusan Pesepeda di Surabaya Galang Dana Rp 50 Juta untuk Korban Banjir di Sumatera

Di tingkat pengecer, satu ikatan besar dari petani biasanya akan dibagi lagi menjadi beberapa bagian kecil. Para pengecer kemudian menjualnya kembali dengan harga berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per ikat kecil untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau hiasan.

Dalam kondisi lahan yang ideal, Irgi mampu meraup omzet hingga Rp 5 juta untuk luas lahan sekitar 400 meter persegi. Namun, dengan anomali cuaca saat ini, target keuntungan tersebut dirasa sangat sulit untuk diraih karena biaya operasional yang tetap tinggi tidak sebanding dengan hasil panen yang sehat.

"Kalau tanaman sehat langsung tebas saja, kalau sekarang harus milih-milih yang bagus jadi untungnya tidak seberapa," tutur Irgi.


Topik

Ekonomi Pikok bunga pikok harga bunga pikok



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

A Yahya