JATIMTIMES - Lesunya arus wisata sepanjang 2025 meninggalkan jejak cukup dalam bagi industri perhotelan di Kota Batu. Hotel-hotel yang selama ini menggantungkan hidup pada ramainya pelancong, kini harus berhadapan dengan turunnya tingkat hunian kamar secara signifikan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengatakan bahwa sepanjang 2025 rata-rata okupansi hotel turun di kisaran 20 hingga 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut tidak lepas dari melemahnya daya beli masyarakat, membuat aktivitas berwisata dan menginap dikurangi.
Baca Juga : Kuota Penerimaan Mahasiswa UB 2026 Dibuka 17 Ribu Kursi, Ini Pembagian Jalurnya!
“Pola kunjungannya berubah. Banyak tamu yang hanya menginap satu malam, bahkan ada yang datang pagi lalu pulang sore tanpa menginap,” ungkap Sujud, Minggu (11/1/2026).
Jika sebelumnya wisatawan kerap menghabiskan dua malam atau lebih untuk menikmati destinasi alam dan wahana wisata, kini mayoritas memilih singgah lebih singkat. Perubahan ini berimbas langsung pada pendapatan hotel.
Secara rata-rata, revenue kotor perhotelan di Kota Batu sepanjang 2025 disebut turun hingga 30 persen. Di sisi lain, beban operasional tidak bisa ikut ditekan. Biaya tetap seperti gaji karyawan tetap harus dipenuhi meski jumlah tamu menurun.
Dalam situasi ini, pelaku usaha perhotelan dituntut untuk bertahan dengan strategi efisiensi. Penyesuaian jam kerja, hingga tuntutan karyawan untuk menguasai lebih dari satu fungsi menjadi langkah yang tak terhindarkan.
“Hotel harus tetap hidup. Tantangannya adalah bagaimana berhemat tanpa menurunkan standar pelayanan,” imbuh Sujud.
Baca Juga : Malam Ketika Harun ar-Rasyid Menangis: Nasihat Ulama yang Meruntuhkan Singgasana
Sujud menilai potensi penurunan belanja pemerintah pada 2026 bisa menjadi tantangan lanjutan bagi sektor pariwisata. Meski demikian, ia menegaskan pelaku industri tak punya pilihan selain terus beradaptasi dan berinovasi.
“Tahun ini memang berat. Tapi hotel dan pariwisata harus tetap bergerak. Kreativitas menjadi kunci agar wisatawan tetap memilih Kota Batu sebagai tujuan,” tutup Sujud.
